4

Telah datang kepada kami pertanyaan berkenaan dengan hukum donor anggota tubuh, dan saya mengira jika jawaban ini lebih baik dijadikan sebagai pembahasan tersendiri. Maka akan kami jawab disini:

Bismillah.. Wassholaatu wassalaam alaa rasuulillah..

Hukum Mendonorkan anggota tubuh, tatkala sang pendonor masih hidup.
Ketahuilah bahwasanya anggota tubuh adalah amanah dari Allah ta’ala. Allah memberikan kepada manusia berupa anggota tubuh karena tidak lain dan tidak bukan, mereka membutuhkan anggota tubuh tersebut.

Dan ketahuilah bahwasanya mendonorkan anggota tubuh terdapat hal yang membahayakan untuk kelangsungan hidup mereka. Bisa jadi bahaya ini langsung terjadi setelah pendonoran maupun bahaya ini akan timbul setelah beberapa waktu lamanya. Yang penting, bahaya ini pastilah akan timbul pada diri seseorang disebabkan pendonoran yang telah ia lakukan. Seperti, sang pendonor kehilangan salah satu inderanya, seperti penglihatan dll. Ataupun disaat itu pula bahaya ini akan timbul pada dirinya yaitu timbul kematian disebabkan pendonoran ini, seperti mendonorkan jantung, dan lain lainnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لا ضرر و لا ضرار
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain”[1]

Semua ini sangatlah berbahaya bagi kelangsungan hidup sang pendonor maupun penderita. Karena belum diketahui, apakah pengoperasian berjalan sebagaimana yang diinginkan. Maka dari itu tidak sah jika pendonoran ini dimasukkan dalam ayat
و من أحياها فكأنما أحيا الناس جميعا
“Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seakan akan dia memelihara kehidupan seluruh manusia”[2]

Pendonoran anggota tubuh tidak bisa dimasukkan dalam ayat ini dikarenakan, dalam pendonoran anggota tubuh tidak bisa dipastikan antara pendonor dan penderita akan hidup berbarengan dengan sehat wal afiyat. Dikarenakan pada kebiasaan, salah satunya ataupun kedua duanya (pendonor dan penderita) akan wafat di sebabkan pada perlangsungan operasi tidak berjalan sesuai yang diinginkan. Atapun kedua duanya hidup namun menimbulkan bahaya pada diri sang pendonor dalam keberlangsungan hidupnya. Dari segi inilah maka pendonoran anggota tubuh diharamkan.

Namun bagaimana jika sang pendonor adalah seorang mayyit yang telah wafat?? Yang tidak akan membahayakan dirinya karena ia telah wafat??

Hukum mendonorkan anggota tubuh, sedangkan sang pendonor telah wafat.
Telah disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
كسر عظم الميت ككسره حيا
“Memecahkan tulang seorang mayyit, itu sama halnya seperti memecahkan tulangnya tatkala hidup”[3]
Dalam hadits rasulullah diatas sangat lah tegas dalam menetapkan kehormatan seorang muslim baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sehingga diharamkan bagi seseorang untuk menyakiti mayyit maupun mencoreng bentuk fisik anggota tubuhnya.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwasanya mengambil jantung, ginjal dan anggota tubuh lainnya, itu lebih berat jika dibandingkan dengan patah tulang tatkala hidup. Sebagaimana yang telah kita ketahui dari hadits yang telah disebutkan, bahwasanya memecahkan tulang seorang mmayyit seperti memecahkan tulangnya tatkala hidup. Begitupula mengambil jantung seorang mayyit seperti mengambil jantungnya tatkala dia hidup. Dan kebanyakan manusia tidak ridha jika anggota tubuhnya didonorkan, karena ia pun butuh kepada anggota tubuh tersebut, begitulah halnya tatkala ia telah wafat.

Terlebih lagi pada realita yang tersebar dalam kehidupan manusia, bahwasanya anggota tubuh mayyit dijadikan sebuah pelecehan. Dengan menjadikan objek jual beli. Yang membuat ahli waris bergelimang dengan harta benda dunia yang fana. Dan jelaslah ini mempermainkan sang mayyit maupun melecehkannya. Sehingga kehormatan seorang muslim tetaplah ada walaupun ia telah wafat.

Allahu ta’ala a’lam.
                                                                                                                          
PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry




[1] HR Ibnu Majah
[2] QS Al Maidah : 32
[3] HR Abu Dawud, Ibnu Majah

Poskan Komentar

  1. kalo kafir mayit ke islam boleh . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Imam Al Baji mengatakan dalam menjelaskan hadits riwayat Abu dawud dan Ibnu majah diatas:
      "يريد أن له من الحرمة في حال موته مثل ما له منها حال حياته، وأن كسر عظامه في حال موته يحرم كما يحرم كسرها حال حياته".
      "Nabi menginginkan dari perkataannya adalah bahwasanya haram menyakiti mayyit sebagaimana haram menyakitinya tatkala ia hidup. Dan bahwasanya memecahkan tulangnya tatkala wafat diharamkan jika semasa hidupnya diharamkan untuk memecahkan tulangnya"

      Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya seorang kafir dzimmi, musta'man, mu'ahad, anggota tubuhnya tidak boleh didonorkan setelah ia wafat. Karena selama hidupnya tidak boleh disakiti. Akan tetapi kalau kafir harbi boleh.

      maka dari itu syaikh bin baaz mengatakan:
      فإذا كان ذمياً أو معاهداً أو مستأمناً لم يجز التعرض له، أما إن كان حربياً فلا حرج في ذلك، وبناء على ذلك يجوز أخذ الأعضاء من المتوفى الحربي، أما المعاهد والذمي والمستأمن فلا؛ لأن أجسادهم محترمة.
      "Jika dia adalah kafir dzimmi, mu'ahad, musta'man, maka tidak boleh menyakitinya (setelah wafat), adapun kafir tidak ada larangan dalam masalah ini. Sehingga dibangun atas hal ini, hukum bolehnya MENGAMBIL ANGGOTA TUBUH ORANG KAFIR HARBI, adapun mu'ahad, dzimmi, dan mustaman tidak boleh. Karena jasad mereka harus dihormati.

      Hapus
  2. kafir harbi itu sebenarnya siapa,mengapa kafir yang lain tidak boleh diambil sedangkan kafir harbi boleh diambil?terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kafir harbi adalah kafir yang memerangi kaum muslimin.. Yang mengeluarkan kaum muslimin dari daerah mereka. Kafir inilah yang diperbolehkan untuk diambil anggota tubuhnya.

      Hapus

 
Top