0


Kisah nyata kami (Al Amiry), kisah ini hanya untuk diambil faidah, ibrah dan pelajaran. Kisah nyata disaat aku menjalani masa-masa pengabdian di sebuah provinsi di pulau sumatra yakni provinsi "Riau".

Apakah Typus dan DBD adalah musuh ku waktu itu?? Semua kejadian yang memisahkan diriku bersama para murid-murid. Kisah kesabaranku bersama penyakit yang disaat itu aku sedang mengajar pada sebuah sekolah yang terletak jauh dari rumah orang tuaku (Sumatera Selatan). 
_____________

Dikala itu aku mengemban sebuah amanah untuk mengajar murid-murid pada sebuah sekolah dasar. Disitulah aku mengajar dan disitulah aku hidup. Ya.. aku hidup di sekolah itu dan diberikan sebuah tempat tinggal yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari sekolah. Beberapa bulan telah berlalu, aku hidup

dengan bibir tersenyum, dan senyum bersimpul. Semua ini menghiasi wajah kecil ku. Aku tak mengerti, ternyata kesibukan ku diluar sekolah telah merenggut kesehatan jiwaku. Dimulai dari latihan fisik berupa seni beladiri dan pembentukan otot dengan kegiatan fitnes pada jadwal yang sudah ditentukan. Akan tetapi, entah kenapa dikala itu nafsu makanku malah berkurang. Dikala itu rantang nasiku tak pernah tersentuh lagi. Dengan membuka rantang nasi yang berada dihadapanku, hati ini tak tergerak oleh aroma kelezatannya.


Begitulah hari-hari telah berlalu.. Hingga saatnya aku pergi menuju perguruan kungfu dengan rasa semangat tanpa memikirkan beban pikiran dan raga yang begitu lelah. Air minum dan nunchaku (double stick) segera ku masukkan dalam tas sportku. Dengan motor matic yang ku tunggangi segera ku lewati jalanan yang begitu padat dengan rasa semangat yang begitu tinggi. Latihan fisik sudah dimulai, dan jurus serta kelincahan tak ketinggalan tuk diajarkan. Namun, dikala waktu rehat telah kami lalui, rasa denyut segara menggerutu dikepalaku. Ku selalu berusaha untuk mengetok-ketok kepala dengan jitakan yang begitu menyakitkan. Hingga pelajaran usai, tanpa basa basi aku menyegerakan diri untuk berpamit pada shifu dan pulang kembali ke rumah. Ku buka pintu rumah dengan pandangan yang berkunang-kunang. Segera ku masukkan motor matic yang kutunggangi tadi kedalam rumah. Dalam kesendirian, aku bergumam... Disaat itu pula rasa menggigil mulai menggerogoti jiwaku. Segera ku ambil handuk dan kuusapkan rambutku yang penuh keringat hingga mengering, dan kuganti kaos serta celana yang ku gunakan untuk latihan beladiri yang begitu melelahkan.

Rasa mulai bercampur aduk, hati mulai bertanya-tanya, apakah ini adalah pertanda, aku akan mengalami masa-masa yang mengurungku di dalam rumah? Apa benar sakit ini akan mengurung jiwaku? Tanpa banyak berpikir segara ku acuhkan segala pikiran buruk itu. Ku ambil jaket yang bergantung pada gantungan pintu. Kututup wajah ku dengan jaket sehingga rasa dingin ini akan segera meningalkan jiwaku. Beberapa lama, ternyata mata ku tak kunjung tertutup untuk tidur yang lelap,aku berusaha untuk mendudukkan tubuhku dan ternyata kepala ku menambahkan bebannya yang begitu menyakitkan. Sungguh berat kepala ini.. Kusandarkan kepalaku tepat di pangkuan tembok kamar. Pusing, sakit, dan berat.. Siapa yang aku curahkan akan rasa ini kecuali tidur lelap yang akan menemaniku.

Kelopak mataku terbuka dengan sendirinya, dan kali ini perut ku yang ikut mengadu..
Mual..?? Apa ini rasa mual ?? Disaat itu aku terbangun dan memeras perut ini. Aku merintih dalam kesendirian, hati kecil ini pun selalu berbisik. Rasa sakit selalu menambah nambah tingkahnya. Bertingkah yang selalu menyakitkan jiwa. Seketika air mataku terjatuh, entah karena “rasa sedih dalam kesendirian” atau karena “rasa perih dalam kejiwaan”

Sebenarnya yang aku butuhkan saat itu hanyalah seorang “KAWAN”
Rasa mual... dan Muntah?? Segera ku berlari membuka pintu kamar dengan tergesa gesa, berlari dan berlari menuju kamar mandi. Dan ternyata seluruh isi perutku telah tertumpahkan kedalam tampungan kloset kamar mandi. Disitulah saya menangis dengan menatap kloset yang telah terkotori oleh muntahanku. Dinding kamar mandi terhantuk oleh kepalaku dan air mata membasahi pipi ku.

Ku buka mataku yang telah terbasahi oleh tangisannya, ku angkat kepalaku dari pangkuan tembok. Ku hanya bisa bertumpu diatas sandaran bak mandi, sembari ku duduk diatas nya. Ku ambil gayung mandi yang berada dalam bak, akan tetapi apalah daya ternyata tanganku tak kuat untuk menciduknya. Setiap kali menciduk air, selalu isi gayung tertumpahkan dan muntahku bertebaran kemana-mana. Begitu terus yang ku lakukan, hingga aku tak melihat isi perut ku lagi. Ku lemparkan gayung mandi kedalam bak, dan ku angkat tubuhku, ku langkahkan kakiku untuk menuju kamar tidurku. Disaat kakiku melangkah, disaat tubuhku berdiri tegak, disitulah rasa mual mulai menjadi jadi lagi. Entah mengapa dia selalu bertingkah yang enggak enggak pada tubuhku. Tak dapat ku tahankan, sehingga aku harus menuju kamar tidur dan ku rebahkan tubuhku diatas kasur. Terduduk, dan kupasang kaos kaki guna menghangatkan suasana dingin yang mencekam diriku. Sweater, ku pakaikan untuk menghangatkan tubuh, dan jaket beserta sarung,ku bentangkan diatas kakiku. Selalu ku berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal buruk yang telah terjadi pada diriku.

Fajar shubuh mulai menyongsong.. Pukul 04.00 WIB
Alarm blackberry ku berdering kencang, ku buka mataku dan ternyata kepalaku terasa memikul beban yang begitu berat sekali. Tak dapat ku pandang layar hpku, ku tekan sebuah tombol guna mematikan dering yang meneriakkan telingaku. Dudukpun tak bisa kulakukan apalagi melangkahkan kaki menuju kamar mandi dalam rangka mengambil air wudhu. Ku bertayammum dan shalat kutegakkan dalam keadaan berbaring. Begitulah waktu telah berlalu hingga matahari pagi menyinari kamarku. Kubuka mataku, dan kumainkan hp bb ku. Hingga pintu kamar menyuarakan beberapa ketokan dari tangan seseorang. Tak mampu ku buka pintunya, ku hanya bersuara “iya.. Masuk aja..”. Dan ternyata dia adalah seorang sahabat dan kawanku yang selalu pergi dan bercanda ria bersama-sama. Dia adalah seorang guru pada sekolah dasar tempat aku mengajar. 

Mengetahui keadaanku seperti ini, dia bertanya “Kenapa am ?? (Iam adalah nama pendekku, dengan sebutan "iam" aku sering disapa dan dipanggil) Lagi sakit antum?” Saya hanya bisa menjawab“ Iya ustadz, entah kenapa, iam jadi nggak enak badan gini” Kemudian ia keluar kamar dan kembali dengan membawa obat dari rumahnya. Saya ceritakan apa yang telah terjadi dan dia hanya menyimpulkan “Badan nya lagi kecapean mungkin, ya udah istirahatlah dulu”

Kemudian kunjungan dari guru-guru mulai bertambah banyak, kunjungan merekalah yang membuat hati ku begitu senang dan bahagia –Allahu yahfadzuhum-. Disaat mereka telah sibuk dengan jadwal mengajar,  mereka segera kembali kesekolah. Rasa mual ini kembali bertingkah. Kubuka pintu kamar dan aku hanya bisa duduk terjongkok dengan memejamkan mata dalam keadaan kesal. Ku pegang perutku dan ku tundukkan kepalaku. Salah seorang ustadz melihat ku kemudian bertanya

“Kenapa am, mual lagi ya?”
“iya ustadz.....” Dengan suara lirih yang hanya dapat ku suarakan dari mulutku

Kutatap wajahnya, dengan pandangan berkunang-kunang. Dan dia melihat wajahku yang begitu pucat dan kembali dia bertanya

“Sudah makan?”
“Belum ustadz.. Lagi nggak nafsu”
“Hmm.. Ya sudah kalau begitu, ana antar ke warung makan ya. Ayo, kita sarapan pagi. Ada soto medan disana”
“hah?? Nggak usah repot-repot ustadz.. Bentar lagi saya juga makan kok”

Dengan menangkan hatiku dia menggonceng ku di belakangnya. Tibalah didepan warung makan itu, kemudian rasa mual bertingkah lagi, tanpa basa-basi saya grusah grusuh mencari kursi dan duduk diatasmya kemudian ku sandarkan kepala diatas meja. Semua ini ku lakukan agar rasa mual segera hilang. Dia memesan satu porsi soto buatku, dan tanpa terasa, diriku tertidur sejenak diatas pangkuan meja. Makanan telah datang dan dia membangunkan ku,
“Am, ayo makan dulu..” Sambil mengelus tanganku guna membangunkan ku dari tidur.

Kubuka mata, mangkok soto pun sudah berada tepat dihadapan mataku. Ku ambil sebuah sendok, dan ku makan soto milikku dengan kepala berpangku diatas tangan kiri. Pelan.. Dan sedikit demi sedikit kusahakan untuk menghabiskannya. Walaupun pada akhirnya setengah mangkok pun tak habis. Tak kusentuh lagi mangkok itu dan ku sampaikan bahwa perut ku sudah tak nafsu untuk menghabiskannya.

Kami kembali pulang menuju rumah.

Kilnik tempat ku sekarang??
______________

Sewaktu tiba di depan kamar, saya buka kamar dan bergegas berbaring di atas ranjang. Merebahkan tubuh... nafasku mulai mengalir tak teratur. Nafasku semakin kencang dan kepalaku mulai berdenyut kembali. Diatas kasur, ku menangis dan menahan rasa mual yang diperbuat oleh perutku.

"Haizz.. Ya Allah apa ini tanda-tanda aku akan dibawa ke rumah sakit??"

Ustadz yg menggoncengku tadi hanya melihat dari balik daun pintu akan apa yg ku perbuat. Diambilkannya segelas air minum dan dia menyuruhku untuk meminum air itu.

Ku buka mataku dan ku ambil gelas yang diberikan olehnya. Setelah air itu habis, kembali ku rebahkan tubuh yg begitu lelah atas rasa sakit yg ada. Dan kembali ku pejamkan kedua mataku. Dan dia menyentuh tubuhku sembari mengelusnya atas rasa sakit yg ku alami.

Tak terasa mataku terbuka dan matahari mulai menyembunyikan dirinya, ku sandarkan punggungku di dinding dan kupandang cahaya yg mulai redup dari balik jendela. Ternyata waktu maghrib akan tiba.

Tubuhku mulai terasa sedikit santai dan kepalaku mulai menurunkan beban pusingnya. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu. Ku laksanakan shalatku yg tertinggal, sembari menunggu masuknya waktu shalat maghrib. Walhamdulillah, kewajibanku terhadap Rabb telah terlaksanakan dengan menggantikan shalat yg tertinggal dan menggabungkan shalat isya dengan shalat maghrib di waktu maghrib (jama' taqdim).

Disaat ku berbaring, ternyata pintu kamar terketok kembali. Ku katakan "Iya.. Silahkan masuk" Dan ternyata ia adalah kawanku yg bernama Ihsan. Aku senang sekali dia datang dengan niatan untuk menamani malamku yg begitu sulit. Dan kami mengobrol santai, walaupun aku hanya dapat mengobrol dengan suara lirih.

Dan ternyata pada malam ini, terjadi apa yg terjadi. Terjadilah pada malam ini sebagaimana yg terjadi pada malam sebelumnya, aku mulai muntah dan merasakan mual-mual. Dan itu tidak hanya terjadi sekali saja, namun terjadi berkali-kali. Dan dialah yg membantuku dan merawatku pada waktu itu.

Sebelum waktu fajar tiba, ternyata aku diputuskan untuk dibawa menuju klinik terdekat. Positif sudah, ternyata aku terkena penyakit DBD. Giziku sehari-hari hanyalah cairan dari selang infus dan cairan dari jarum suntik. Walaupun Aku diberikan makanan, namun nafsu ku tak bertambah. Dan yang menemaniku pada waktu itu tetaplah si Ihsan -semoga Allah membelas kebaikannya-

Setiap kali suster menyuntikkan tanganku, aku hanya dapat memandang tanganku yg berkali kali ditusuk olehnya. Suster hanya berkata kepadaku untuk bersabar. Ya.. Aku hanya balas perkataannya dengan senyuman walaupun mungkin rasa kesabaranku telah habis pada waktu itu.

Pagi... Siang.... Malam.... Telah berlalu.. Dia hanya menyuapi ku makan. Setiap jadwal makan tiba, tentulah makanan itu tak ku habiskan. Jikalau perut mulai terasa kenyang, aku mulai berbaring diatas kasur dan melihat kipas angin yang berputar-putar diatasku. Mataku tertuju kesana dan pikiranku mulai kosong, ku hanya bengong dan tak tau lagi apa yg ku pikirkan. Sedih rasanya jika keadaan ku selalu seperti ini dengan meninggalkan tugas tugas untuk mengajar murid-murid sekolah.

Dan ternyata pada malam itu, beberapa muridku datang menjenguk ku. Dan begitulah betapa bahagianya diriku..

Dan satu kalimat yg ku dengar, dan kalimat ini yg membuat ku bahagia adalah perkataaan "............"

Apakah kata-kata yg kudengar adalah realita yg ada ??
Apakah kata-kata yg masuk ketelingaku adalah kenyataan yg ada ??

Entah lah.. Terlepas dari kebenaran dari kata-kata yg kudengar, telah menjadikan ku seorang yg tersenyum sejenak.

Kata-kata yg terucap diantara para ummahat (ibu-ibu wali murid) yg mengunjungi ku adalah.. Seorang ibu berkata:
"Ustadz favoritnya anak-anak lagi sakit.. Ditinggal sebentar saja sudah kangen dan minta diajarin kembali, Ustadz favoritnya Aisyah, fatimah, salma dll (semua nama yg disebutkan adalah samaran) ya ustadz iam.. Mereka minta ustadz iam bisa lekas sembuh dan bisa mengajar kembali"

Mendengar kata-kata yg telah terucap, seketika menjadikan bibirku tersenyum, dan ku pandang wajah-wajah murid yg datang menjengukku dengan senyum simpulku yang bercampurkan kepucatan pada wajahku.

"Ya Allah.. Berikanlah padaku keistiqamahan untuk mengajar anak-anak dan jadikanlah mereka menjadi anak-anak yg shalih dan shalihah"

Tak terasa ternyata mejaku telah terpenuhi oleh makanan-makanan yg diberikan oleh setiap pengunjung -jazahumullah khoiran- Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua. Roti, susu, dan buah buahan.. Semuanya telah lengkap diatas meja ku. Tak tahu bagaimana aku akan menghabiskan seluruh makanan yg ada pada mejaku ini.

Hingga tibalah waktu para pengunjung untuk pulang kerumahnya masing-masing, dengan bergantian, mereka telah berpamitan kepadaku. Hingga tiada lagi yg tersisa bersamaku kecuali kawanku yg selalu merawat dan menjaga diriku.

Mulailah rasa sedih timbul dihati ku, dan mulailah hatiku tak kuat untuk ditinggalkan oleh mereka. Ku ambil sebuah bantal, ku baringkan badanku, dan ku tutupi wajahku dengan bantal dan mulailah memori canda tawa ku yg terekam bersama murid terputar dalam benakku. Dari awal kedatanganku berjumpa bersama mereka hingga aku terjatuh diatas kasur perawatan, semuanya telah terputar.. Ya... Semuanya telah terputar.. Bagaimana aku tersenyum untuk mereka, dan bagaimana canda tawaku bersama mereka, begitu pula tak terlupakan bagaimana amarahku yg terlampiaskan atas egoku yg tak terbendungi.. Semuanya telah terputar dalam benakku dengan durasi waktu yg cukup untuk mengeluarkan air mata dari perasaanku yg mendalam"

Atas kecintaanku pada mereka dijalan Allah telah menjadikan hatiku sedikit luluh pada saat itu.Ku Tak ingin segera berpisah dengan mereka, dan tak ingin ku menjauh dari mereka.

Hingga keringlah air mata ku pada waktu fajar yg telah menyongsong dengan di barengi cahaya matahari yg ikut menyusul.

Ku lihat seluruh tubuhku, tak kunjung datang akan kesembuhannya. Telapak tanganku selalu ditemani oleh infus yg menjaganya. Lengan tanganku selalu mendapatkan jatah untuk ditusuk jarum dari setiap suster yg menjagaku. Kapan ini akan berakhir dan kapan ini segera tiada ??

Tak ingin ku berlarut lama dalam keadaan ini.

Hingga pada saatnya, ku ingin Buang Air Kecil. Segera Ku lepas kantong infusku dari tiang penyanggahnya.. ku bawa diri ku menuju kamar mandi, ku langkahkan kaki ku kesana. Dan kututup pintu kamar madi, dan kuselesaikan hajatku untuk itu.

Setiba selesai Buang Air Kecil, disaat aku masih berada dalam kamar mandi, seketika selang infusku telah terpenuhi oleh darah, bingung apa yg harus ku kakukan. Penglihatanku mulai terpenuhi oleh kunang-kunang yang mengganggu.. Seketika penglihatan ku gelap dan tubuh tersandar di pintu kamar mandi. Kaget dan tak kusangka, ku panggil kawanku dengan teriakan yg begitu kencang dan semampuku..

"Saaaaaaannn.... Ihsaannnnnnn..." Ihsannn......."

Tanpa mengambil banyak langkah, ku buka pintu kamar mandi, dan kutinggalkan kloset yg belum kusiram. Aku lari menuju ranjang klinik, dan seketika ihsan pun panik. Dengan kencangnya diriku berlari, hingga menabrak ranjang tempat ku tidur, dan tubuh ku terjatuh begitu keras diatasnya.

"Astaghfirullahhh..." Begitulah teriakan para perawat yg kudengar dari kejauhan.

Mereka berlari menuju diriku, dan seketika mereka panik dari apa yg telah ku perbuat. Dengan kepanikan dari wajah mereka, ku tatap mereka dengan senyuman yg meyakinkan bahwasanya diriku tidak mengapa. Walaupun suara desah pun keluar dari mulutku karena rasa sakit yg kurasakan. Selang infus yg terpenuhi oleh darah segera mereka atasi, begitu pula mereka segera merapikan keadaan ku diatas ranjang.

Ku katakan pada kawanku Ihsan "..................."
______________________

Akan kah ku berpisah dari anak-anak??

Ku katakan pada kawanku ihsan "San.. Hampir saja ku tak sadarkan diri tadi.. Alhamdulillah, sampai di atas kasur pada waktu yg tepat.."

"Lagian, kalau buang air kecil kok nggak bilang-bilang lo.. Kalau ada sesuatu yg tidak diinginkan kan bahaya" Dia menjawab pernyataan ku

Begitulah yg terjadi, hingga datang dua orang tamu menjenguk ku, dan kedua tamu ini adalah sepasang suami istri, yg mana mereka adalah kawan dekat bapak dan ibuku (saat berada dalam satu perusahaan dahulu kala).

Istri dari kawan ibuku, begitu panik melihat keadaanku yg seperti ini. Begitulah yg ku ketahui dari raut wajahnya. Sehingga dia memutuskan untuk membawaku ke Rumah Sakit besar yg ada di Ibu Kota. Sehingga aku dapat dirawat dengan baik oleh pihak Rumah Sakit sana. 

Namun, dokter dan suster di klinik masih bimbang untuk mengirim ku ke RS sana. Dikarenakan trombosit tubuh ku yg sangat jauh di bawah normal. Apalagi jika aku dibawa menuju rumah sakit tanpa memakai infus dengan waktu jarak menuju kota yang menghabis waktu 2 jam lamanya.

Namun, apakah diriku akan dibawa menuju rumah sakit?? Jika aku dibawa ke sana, apakah diriku akan masih sadarkan diri, ataukah ini sangat dan sangat berbahaya pada diriku??

Keputusan ku, dan kedua orang tua adalah agar aku dibawa menuju rumah sakit di kota Pekanbaru. Ya ternyata keputusan telah keluar bahwasanya aku akan dirawat di Rumah Sakit "Eka Hospital" di Pekanbaru. Begitulah sehingga kedua teman dari kedua orang tuaku membawa diriku menuju rumah sakit. Dengan syarat, aku harus meminum air kelapa sebagai pengganti infus yg biasanya ku pakai.

Infus yg menempel pada telapak tangan segera dilepaskan oleh seorang suster, dan dia berpesan pada diriku agar berhati hati dijalan dan lekas sembuh. Ya, ku balas pesannya dengan senyuman, dan dia mensyaratkan pada diriku untuk selalu meminum air kelapa pada perjalanan yg menempuh waktu 2 jam lamanya.

Segera ku bernajak dari kasur menuju mobil yg telah disiapkan, Aku masuk kedalam mobil, dan perjalanan menuju rumah sakit telah dimulai.

Aku dibelikan air kelapa yang menjadi bekal utama ku pada perjalanan.Namun pada perjalanan betapa jarangnya saya meminum air kelapa, karena tidak ada nafsu pada diriku untuk meminum air itu.

Sehingga pada perjalanan, wajahku kembali memucat, bibirku mulai mengering. Selalu ku basahkan bibirku dengan air ludah pada lidahku. Dan begitulah sehingga datang waktu shalat dzuhur, dan betapa berat saya mengambil air wudhu dikarenakan kondisi tubuh yg seperti ini. Hingga shalat pun tak saya lakukan dalam keadaan berdiri.

Perjalanan, kami lanjutkan sehingga kami sampai di Rumah Sakit dalam keadaan tidak begitu parah. Ya, bagi ku tak terlalu parah pada waktu itu. Namun, tubuhku telah mengejutkan suster-suster yg bekerja pada rumah sakit dengan jauhnya trombositku dibawah normal (disaat itu trombositku hanya 30 ribu saja yang mana normalnya 150 ribu). Sehingga tubuh ku harus dan segera ditangani dengan perawatan yg lebih.

Dan alhamdulillah 3 hari berada dirumah sakit, trombositku mulai kembali normal, betapa senangnya diriku jika dapat kembali mengemban tugas untuk mengajar anak-anak di sekolah.

Namun untuk saat ini, diriku harus dan perlu untuk rawat jalan. Sehingga aku harus pulang kembali ke rumah asliku, dan perjalanan menuju rumah membutuhkan waktu 1 hari lamanya.

Disaat itu lah saya segera berpamitan, pada guru-guru sekolah. Dengan berpamitan, saya tidak mengetahui apakah saya dapat pulang kembali ke sekolah ini? Ataukah saya harus berpindah ke sekolah lain untuk mengajar?

Saya telah berpamitan kepada seluruh guru kecuali satu guru yg selalu bersama ku tatkala mengajar. Ya.. Karena saya adalah asisten nya. Begitulah, dan ternyata guru ini sedang mengajar pada kelas anak-anak perempuan. Dia tidak berada di kantor.

Saya lihat sepatu yg biasa digunakan olehnya tepat berada didepan kelas. Segera ku ketok pintu kelas, dan ternyata salah seorang anak membuka kan pintu kelas untuk ku.

Spontan teriakan yang begitu keras memantul mantul dalam kelas
"Horee.... Ustadz iam bisa ngajar kembali..Yess... Ustadz iam ngajar lagi.." Itulah teriakan anak-anak yang berada dalam kelas.

Saya hanya tersenyum dan segera berjabat tangan dengan ustadz yg sedang mengajar. Ku berbisik di telinganya, bahwasanya diriku harus pulang ke palembang untuk rawat jalan.

Anak-anak hanya bengong melihat dialog kami berdua. Hingga ustadz yang mengajar memberitakan bahwasanya diriku harus pulang kerumah.
"Anak-anak.. ustadz iam harus pulang ke rumah untuk rawat jalan, jadi belum bisa ngajar lagi sekarang. Insya Allah ustadz iam bisa ngajar kembali, mari kita doakan untuk kesembuhan ustadz iam"
Spontan anak-anak berteriak keras dengan mengatakan
"Laa ba'sa thohuurun insya Allah. Syafaakallah"

Begitulah sehingga rasa hati ini berat untuk meninggalkan mereka.. Aku tahu air mata akan terteteskan, namun dengan kuat ku membendungnya.

Terdiam sejenak menatap raut wajah anak-anak. Dengan berat ku ucapkan salam kepada mereka.

Mereka terdiam dan menundukkan kepala dan ada pula yang menahan air matanya. Ku balikkan tubuhku menuju pintu kelas. Ku langkahkan kaki ku menuju pintu.

Tepat di garis pintu, ku balikkan pandangan mataku kembali, melihat bagaimana raut wajah mereka. Dan ternyata, tidak sedikit dari mereka yang menangis atas kepergian diriku. Tangisan mereka membuat diriku tersenyum dengan bercampur aduk rasa kesedihan. Menangis dalam keheningan... itulah yang kusaksikan pada diri anak-anak saat itu.

Nano nano adalah rasa hati yg kualami saat itu. Entah kesedihan atau kebahagiaan yg ku rasakan. Hingga ku pegang gagang pintu dan segera kututup pintu kelas dengan salam.

Itulah awal perpisahan ku bersama anak-anak. Dan pada saat itu, diriku tidak mengetahui apakah kami bisa bertemu kembali atau tidak??

Sebenarnya kejadian ini telah menyimpan banyak kisah.. Namun diriku tidak mengetahui apakah ini akhir kisah yang akan ku ceritakan ataukah ada kelanjutan kisahnya..

Sekian.. Semoga bermanfaat.. Allahul muwaffiq

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


Poskan Komentar

 
Top