5


Memori bulan ramadhan yang lalu = Beberapa hari terakhir di bulan ramadhan = Momen dari sebuah i'tikaf
Setelah shalat shubuh berjama'ah, seperti biasa aku membaca al quran untuk mengejar target khatam yang belum terselesaikan. Sudah menjadi ritual bagiku untuk mengkhatamkan al quran pada bulan ramadhan. Bahagia rasanya jika berlomba-lomba untuk mengejar khatam Al Quran di bulan ini, beginilah yang biasanya kami lakukan disaat menjadi santri "berlomba-lomba bersama kawan dan kakak kelas untuk menyelesaikan target khatam Quran berkali-kali".
Selang waktu setengah jam -alhamdulillah- targetku tercapai juga. Senang dan bahagia dengan tercapainya sebuah target. Berbalik badan ke arah belakang, ternyata rasa Letih dan kantuk mulai menyerang, berusaha merebahkan badan diatas kasur yang telah disediakan untuk para jama'ah yang sedang beri'tikaf. Ku tutupi seluruh tubuh dengan selimut tebal milik seorang kawan. 
Tidak seberapa jauh, ternyata ayahku masih membaca al quran, dan seketika suara tilawah ayah hinggap di telingaku. Ku dapat mendengarkan suara yang terlantunkan begitu jelas. Ya, dikarenakan jarak antara ayah dan aku tidak begitu jauh. Dan disaat itu, akupun mengetahui bahwasanya ayah sudah mencapai surat luqman. 
Dengan Terus membaca, sampailah tilawah ayah pada sebuah ayat,
و وصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن
"Dan kami telah mewasiatkan kepada seluruh manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, yang mana ibunya telah mengandungnya dengan keletihan diatas keletihan"
Tak kusangka suara ayah mulai turun merendah. Terkadang berhenti dengan berusaha melanjutkan ayat. Terkadang membaca kembali akan tetapi suara rintihan juga ikut terbawa. Sepetinya lisan ayah terlalu berat untuk menyelesaikan ayat ini hingga bacaan ayah cukup terhenti begitu lama. 
Aku yang bertutup dibalik selimut merasa merinding seraya bertanya-tanya. Ada apakah gerangan? Saya hanya berpikir, "Ayah benar-benar menangis ??". Masa bodoh, saya pun berusaha cuek untuk tidak memikirkannya dengan kondisi merinding.
Setelah keheningan cukup lama, terdengarlah suara rintih tangisan yang sedikit keras dari sebelumnya. Dan ternyata dugaan hatiku sudah sangat jelas. Ya, ayah sedang menangis. Ayah memang paham bahasa arab walaupun hanya sedikit sedikit. Dikarenakan, ayah sudah lama belajar bahasa arab walaupun ayah masih berada ditingkat pemula, namun pemula bukan pemula, semoga Allah menjadikan semangat ayah dibalik kesibukannya mencari nafkah menjadi pemberat timbangan amal kebaiknya pada hari kiamat kelak.
Singkat cerita, ayah ingin membaca kembali ayat yang luput darinya, dengan memulai "wa wasshoinal insaana" namun rintihan suaranya menahan ayah dari melanjutkan ayat tersebut. 
Disaat itulah aku merasa begitu berdosa dan bersalah terhadap tangisan seorang ayah. 
Aku hanya bisa bermuhasabah diri, bahwasanya ayah sudah tidak mempunyai kedua orang tua lagi. Kedua duanya sudah bersatu dengan tanah. Namun, sesuatu apakah yang membuatnya menangis. Bagaimana dengan kita yang masih ada kedua orang tua yang masih mampu untuk memberi kemudahan bagi kita dalam bentuk nafkah dan tarbiyah?
Aku hanya dapat menyimpulkan dua kesimpulan dari balik tangisan ayah.
1- Ayah sedang meminta ampun untuk kakek dan nenekku (Amir dan Roslaini rahimahumallah) yang telah lama berada dalam kehidupan barzakh dikala aku kecil, -seingatku- aku hanya sekali mencium kakek dan itupun disaat beliau sudah dikafani. Karena dari kecil kami memang jauh dari kampung keluargaku. Dan lebih dari itu, aku hanya bisa melihat nenek dari sebuah album foto yang aku buka-buka bersama sepupu-sepupuku, karena nenek sudah meninggal sebelum aku dilahirkan di dunia ini.
2- Kemungkinan kedua, Ayah menangis karena mengharapkan anak-anaknya dapat menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah. Dibalik banyak kekurangan dari kami baik suluk maupun ibadah. Dan inilah yang aku takutkan jika ternyata ayah menangis dikarenakan sikapku yang sering mendurhakainya. "Ya Allah.. Ampunilah segala kekurangan diriku.."
Sangat disayangkan terkadang kita tidak berpikir bahwasanya ayah masih berada disamping kita, kita tidak menganggapnya seorang ayah yang telah memberi nafkah dan mendidik sedari kecil. Perkataan keji sering terucap untuknya, sikap keras terkadang terwujudkan hanya untuknya. Dan yang sangat disayangkan lagi, terkadang kita berkata keji dan berlaku tidak sopan hanya dikarenakan seorang teman. Teman ataukah ayah ?? Hanya bisa berpikir dan berkata: "TERNYATA AYAH KU MASIH ADA"
Dan nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah mengaminkan doa Jibril berisi ancaman bagi orang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua.
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
"Celakalah seseorang, dia mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya namun tidak dapat memasukkannya kedalam surga" HR BUkhari dalam Al Adab Al Mufrad
Ayat yang dibaca oleh ayah secara lengkap adalah:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” QS Luqman : 14
Selain ayah ternyata ada ibu yang lebih berhak akan perilaku kebaktian dari kita.
Imam Adz Dzahabi berkata (Ibumu kemudian Ibumu):
"Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari pada dirinya serta makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
(Akan dikatakan kepadanya),
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. QS Al-Hajj : 10
SELAGI MASIH HIDUP Katakanlah

اللهم اغفرلأبي و ارحمه و أعتق رقبته من النار
اللهم اغفر لأمي و ارحمها و أعتق رقبتها من النار
اللهم اغفر لجميع المسلمين و اجعلنا أولادا صالحين

"Ya Allah ampunilah untuk bapak saya dan sayangilah ia dan jauhkan bahunya dari panasnya api neraka
Ya Allah ampunilah ibuku dan sayangilah ia, dan jauhkan bahunya dari panasnya api neraka
Ya Allah ampunilah seluruh kaum muslimin, dan jadikanlah mereka anak-anak yang shalih"
Amiin, kabulkan ya Allah Maha Pendangar lagi Maha Penyayang.
PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

[1] QS Lukman : 14
[2] Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian

Poskan Komentar

  1. subhanallah ... sejuk ana membaca sebuah cerita diatas teringat akan orang tua ana ... dengan berkaca2 ingin menangis sudah sampai seberapa perjuangan kita dibandingkan orang tua kita ...

    jazakallahu ...

    BalasHapus

 
Top