4


Sangat miris terkadang, jika banyak dari para ikhwan terlebih lagi seorang guru yang masih saja memicingkan matanya terhadap STDI Imam Syafi’i Jember. Bahkan yang saya dengar terdapat seseorang yang menganjurkan murid-muridnya untuk tidak belajar di Sekolah Tinggi tersebut. Ntah karena alasan apa ia mengatakan perkataan tersebut. Yang sangat miris lagi, saya mendengar dari 
kawan-kawan bahwasanya ia menyatakan “Jika kuliah di Sekolah Tinggi tersebut (baca: Imam Syafi’i Jember) masa depannya kurang sukses” Allahu a’lam dia mengatakan hal tersebut karena khawatir kesuksesan dunia yang tidak tercapai, mungkin karena Ijazah nya belum dikenal masyarakat. Atau kemungkinan lain karena ia khawatir akan kurang suksesnya ia dalam masalah ilmu agama, alias ilmu agama di sekolah tinggi tersebut belum diakui olehnya.

Ya.. Bisa dibilang miris juga. Bukanlah karena saya Mahasiswa Imam Syafi’i Jember sehingga saya membelanya. Tidak.. Saya Bukanlah seorang yang gampang fanatik dengan suatu kuliahan maupun tempat sekolah. Menurut pandangan mata saya, jika para guru-gurunya (baca: ustadz) mempunyai aqidah dan manhaj yang kuat dan kokoh yakni: manhaj dan akidah para salafus sholih dan pelajaran yang mumpuni begitupula dengan lingkungan yang asri dan mendukung untuk menuntut ilmu agama (dan ketiga hal ini lah yang pokok bagi saya untuk mendukung seseorang dalam meningkatkan taraf keilmuannya dan amaliyahnya) maka silahkan-silahkan saja. Namun jika para gurunya masih berada dalam manhaj Plin-plan, masih diragukan, padahal syariat berbicara ini namun ia mengerjakan hal selainnya, jika di jami'ah seperti ini namun tatkala ia berlibur mencerminkan yang lainnya. Hal inilah yang sangat-sangat disayangkan. Apalagi jika pelajaran yang disampaikan menyelisihi syariat, maka yang sangat disarankan hanyalah satu kalimat pendek: "Tidak usah belajar di Universitas tersebut" Karena apalah guna, jika seseorang datang jauh-jauh dari suatu daerah maupun pelosok bumi terutama ia tidak sedikit mengeluarkan sebongkah harta untuk membayar biaya kuliahnya hanya untuk menyusupkan bangkai busuk kedalam otaknya? Kemudian lingkungan yang mendukung, baik dari kegiatan para mahasiswa yang sangat aktif dengan keseriusan belajarnya yang mana mereka saling menyemangati dan menasihati sehingga kita tetap terjaga keistiqamahannya -insya Allah ta'ala- begitu pula dengan lingkungan kehidupan masyarakat sekitar yang mana "paling tidak" mereka tidak mengganggu hapalan dan konsenterasi belajarnya mahasiswa dengan pajangan paha-paha murah secara gratis. Betapa tidak?? Imam syafi'i saja yang sangat kuat hapalannya, tatkala tersingkap untuk beliau satu betis wanita maka hancur dan amburadul lah hapalannya. Terlebih lagi kita yang mana pada asalnya sangat sulit untuk menghapal dan konsenterasi untuk menimba ilmu agama. Sudah menjadi barang tentu, pastilah  lebih sulit jika ia ingin untuk konsentrasi dalam menuntut ilmu agama dalam lingkungan kehidupan pajang paha depan pandangan mata. 

Maka untuk menyanggah kemungkinan pertama, “takut ijazah tidak diterima oleh masyarakat sehingga kesuksesan dunia nya tak tercapai” Maka saya hanya bisa menyanggah akankah kita menuntut ilmu untuk di lihat oleh manusia?? Seberapa besarkah pandangan manusia terhadap kita?? Toh juga perhatian Allah telah cukup walaupun manusia tak menoreh akan amaliyah kita. Kita beramal terkhususkan menuntut ilmu untuk manusia atau untuk Allah ?? Sahabat Anas bin Malik berkata:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ يُبَاهِي بِهِ الْعُلَمَاءَ ، أَوْ يُمَارِي بِهِ السُّفَهَاءَ ، أَوْ يَصْرِفُ أَعْيُنَ النَّاسِ إِلَيْهِ ، تَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa yang menuntut ilmu dengan tujuan untuk digelari sebagai seorang ulama atau untuk berdebat dengan orang yang bodoh atau untuk memalingkan mata manusia kepadanya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”[1]

Akankah kita masih dan selalu menuntut ilmu hanya untu dilihat manusia ?? Ingatlah perkataan imam Ahmad bin hambal –rahimahullah-:
 العلم لا يعدله شيئ إذا صلحت النية. قيل له: فكيف ذالك يا أبا عبد الله؟ قال: ينوي رفع الجهل عن نفسه و عن غيره
“Tidak ada sesutau apapun yang menanidingi ilmu (syar’i) jika niatnya telah lurus (baca: benar). Maka ditanyakan kepadanya: bagaimana itu wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad) ? Maka ia berkata: ia meniatkan dengan menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan pada dirinya maupun diri orang lain”


Dan apakah anda melihat kesuksesan seseorang menurut raut wajah ijazahnya ? Jika ia sudah menyandang gelar Lc, MA, Dr maka menurut kaca mata ringkasnya ia adalah seorang yang sukses. Dan sebaliknya seseorang yang tidak menyandang gelar tersebut maka kehidupan dakwahnya akan masih diragukan. Siapa yang mengatakan ini semua? Akankah ia lupa ?? betapa banyak ummat manuisa yang menyandang gelar-gelar keilmuan islamnya, namun sama sekali gelar tersebut tidak menyalamatkan dirinya dari kerusakan akal pikirannya. Sehingga sangat mungkin yang merusak akal pikirannnya adalah gelarnya, karena sombong  akan hebatnya ia menyandang gelar tersebut. 

Kita sebutkan saja, Gus Dur yang telah menyandang gelar "Dr" dari Universitas islam "Al Azhar" Mesir. Namun gelarnya tetaplah tidak bisa menyelamatkan dirinya dari rusak pola pemikiran akalnya. Kemudian, Ulil Abshor yang belajar di LIPIA. Namun tetaplah gelarnya tidak bisa menyelamatkan dirinya dari kesesatan yang sangat berbahaya. Kemudian gelar Aqil Siradj pun tidak bisa menyelamatkan jiwanya dari jurang kesesatan. Kemudian Quraish Shihab, gelarnya pun sangat tidak bisa menyelamatkan dirinya dari kesesatan. Kita lihat bagaimana ia berani menyatakan bahwasanya jilbab bukanlah suatu kewajiban bagi kaum wanita mu'minah. Apakah anda ingin merusak wanita-wanita kami wahai pak quraish dengan usaha untuk menanggalkan hijab-hijab mereka? Kami lah yang tetap menjaga wanita-wanita kami !!

Kemudian kita lihat betapa banyak yang tidak menyandang gelar-gelar Lc, MA, Dr namun kelimuan mereka diakui oleh anda, saya, dan kebanyakan masyarakat islam. Ustadz Yusuf As Sidawi adalah salah satunya, beliau telah banyak mengarang buku-buku dengan tujuan untuk membawa kaum muslimin menuju kepada Al-haq dan mengeluarkan ummat dari kebathilan. Adakah gelar yang beliau sandang ? Ijazah SD pun sekiranya beliau tidak punya. Namun keilmuannya lah yang membawa keselmatan dirinya dan bukanlah gelar manapun.Kemudian Ustadz Aris Munandar, adakah beliau menyandang gelar yang anda bangga-banggakan? Tidak. Beliau hanyalah menyandang gelar kelimuan dunia. Bukanlah beliau seseorang yang belajar di Universitas dalam fakultas khusus untuk mempelajari ilmu agama. Tidak. Lebih dari itu tenyata kajian-kajian beliau banyak tersebar dimana-mana dan dapat di download oleh anda sendiri. Silahkan lihat kajian-kajian beliau di youtube. Kemudian Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Adakah beliau menyandang gelar yang anda puja-puja? Tidak beliau adalah seorang yang belajar di suatu Universitas umum yang tidaklah disitu di beri pelajaran khusus akan keilmuan agama. Namun dari mana mereka belajar sehingga kelimuan mereka begitu menakjubkan? Jawabannya karena kegigihan mereka dalam menuntut ilmu agama dengan mencari para ustadz dan masyaikh untuk belajar dan menuntut ilmu agama dipangkuan mereka. Sehingga mereka dapat menghilangkan kebodohan dari jiwanya dan jiwa yang lainnya. Silahkan lihat kajian-kajian mereka yang sangat indah dan sangat dalam akan keilmuannya, baik dari youtube maupun layanan lainnya. Telah banyak tersebar dakwah-dakwah mereka ini. 

Sangat banyak sekali ancaman-ancaman dari Allah dan RasulNya akan seorang penuntut ilmu yang mencarinya untuk kedudukan dunia, untuk mencari gelar ijazah ataupun untuk dilihat orang, ataupun untuk kesuksesan dunia. Tujuan belajar anda bukanlah karena ijazah, mata manusia, maupun harta dunia. Betapa miris seseorang yang belajar hanya dengan tujuan diatas. Akankah ia selalu mengharapkan amplop ummat untuk kekenyangan dan kebuncitan perutnya?? Saya tidak mengatakan apa yang diberikan oleh ummat berupa dana sesuai kebutuhan perbulannya adalah sesuatu yang haram. Akan tetapi yang saya katakan haram adalah seseorang yang mengharapkan dana tersebut untuk menjadi kaya dan profesi dengan jasa dakwah televisinya maupun media lainnya, maka ini lah yang sangat di ancam oleh Rasul. Dan bahkan jika memberi tarif minimal dakwah per ceramah. “Kalau tidak sekian maka saya tidak akan naik podium”. Ingat para rasul tidak pernah mencari kekayaan dengan profesi da’i sebagaimana yang dilakukan para aktivis dakwah di channel televisi rakyat. (Tidak semua, akan tetapi kebanyakan). Saya menyerempet pembahasan ini, karena ditakutkan seseorang kuliah (belajar disuatu Universitas Islam) hanya untuk mencari kekayaan dunia dengan memanfaatkan profesinya.


Adapun kemungkinan kedua yang menyebabkan ia melarang murid-muridnya belajar di Sekolah Tinggi ini, karena “Takut tidak sukses dimasa depan karena kader ilmu yang dipelajari di STDI Imam Syafi’i Jember masih dibawah taraf” Saya tidak mengerti jika ada seseorang yang mengatakan hal tersebut. Bahkan membanding-bandingkan dengan jami’ah (Universitas) islam lainnya seperti salah satu cabang universitas timur tengah yang berada di Ibu Kota Indonesia. Entah, mungkin karena dia terlalu PeDe atau karena terlalu fanatik dengan Universitas yang mana ia duduk di bangku kampusnya. Entah dia tidak mengetahui ataupun tidak kenal dengan dosen-dosen di STDi Imam Syafi’i atau hanya pura-pura tidak tahu. Atau dia hanya merasa lebih pintar dan lebih hebat bahkan menantang keilmuan mereka (para dosen STDI Imam Syafi’i). Silahkan jika ia ingin menantang, Akan tetapi hanya Allah lah yang lebih tahu siapa yang lebih berilmu dan bertakwa. Lantas, dengan merasa ilmunya tinggi dia menantang dosen-dosen tersebut ??
و لا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى
“Janganlah kalian menganggap menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa orang yang bertakwa”[2]

Saya akan menaruh nama-nama para dosen yang mengajar di STDI Imam Syafi’i yang sudah dan sangat dikenal oleh masyarakat luas “masyarakat indonesia” saya langsung mengambilnya dari situs imam syafi’i.

1- Ustadz Ali Musri Semjan Putra
2- Ustadz Muhammad Nur Ihsan
3- Ustadz Muhammad Arifin Bin Badri
4- Ustadz Abdullah Zain
5- Ustadz Nur Ihsan
6- Ustadz Nur Khalis Kurdian
7- Ustadz Suhuf Subhan
8- Ustadz Muhsan Bin Syarofuddiin
9- Ustadz Muhammad Yasir
10- Ustadz Misbahudz dzolam
11- dll

Sengaja saya tidak menaruh gelar “Lc” “MA” “Dr” dan hanya mencukupkan dengan menyebut nama-nama mereka dengan "ustadz" saja, Karena gelar merekapun terkalahkan oleh ilmu yang mereka dakwahkan. Dakwah mereka kepada masyarakat lebih dikenal dari pada gelar mereka. Sehingga -insya Allah- ini adalah tanda kebaikan dan kesungguh-sungguhan mereka akan mngajak kepada ummat untuk membersihkan pudar-pudar qalbu yang terkotorkan oleh syahwat dan syubhat.

Akankah dia merasa lebih baik dari segi ilmu maupun dakwah bandingkan Dosen-dosen STDI Imam Syafi’i ?? Ataukah Dosen-dosen di perkuliahan yang di tempuh olehnya lebih baik dari segi ilmu maupun ketakwaan bandingkan dosen-dosen Imam Syafi ?? Saya juga tidak mengerti mengapa sikap terlalu PeDe muncul dari hati seseorang.

Lantas Sekolah Tinggi Imam Syafi’i yang di kelola oleh mereka harus disingkirkan ?? Dengan kedua alasan dan pertimbangan yang tidak masuk akal?? “Takut Miskin” & “Ilmunya belum berada diatas taraf”

Kemudian kita lihat metode dan pembelajar di sekolah tinggi tersebut. Apakah masih dibawah standard taraf?? Agar anda puas akan ilmu yang diajarkan dan metode yang di tempuh di STDI Imam Syafi’i silahkan baca disini:
http://www.stdiis.ac.id/index.php/aturan-akademik-2013

Sehingga anda tahu, bahwasanya Sekolah Tinggi ini bukanlah sebagaimana yang anda pikir dengan dibawah taraf maupun belum bagus. Jadi, janganlah anda hanya terbawa dengan perkataan dan omongan orang. Silahkan datang dan survei sendiri.

Kemudian tambahan sedikit lagi, lihatlah dari segi lingkungan sekolah tinggi imam syafi’i ini.. Sekolah tinggi ini masih sangat lengket akan karismatik keislaman para penuntut ilmu, yang mana terkadang terdapat banyak kuliah-kuliah yang mengatas namakan ISLAM namun mereka mencari ilmu islam bukan dengan tatacara islam. Betapa tidak?? mereka bercampur baur antara ikhwan dan akhwat dalam satu kelas untuk belajar islam. Dan hal ini saya lihat dengan mata kepala saya sendiri mereka belajar dalam satu kelas. Bagaimana mereka akan konsen jika konsentrasi mereka di ganggu oleh aliran bisikan manis syaithon. Dengan embel-embel yang meyakinkan dia mengelak “nggak kok.. ane mana tergoda dengan ahwat-akhwat seperti mereka.. Jaga pandangan gituh..” Jaga pandangan ya jaga pandangan namun anda tidak akan dapat mendustakan sabda nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam :
ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء
“Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum pria selain wanita”[3]

Dan bukan suatu kemustahilan jika sang dosennya pun terkena fitnah. Karena antara mereka tidak ada satu helai hijab pun yang menghalangi pandangan mereka. Lantas, beginikah cara belajar agama islam yang benar??

Singkat cerita, saya sangat mendukung dan menganjurkan para pemuda maupun yang sudah menikah untuk belajar dan memperdalam ilmu agama islam di Sekolah Tinggi Imam Syafi’i.

Jika anda tidak percaya, silahkan survei sendiri dan jangan termakan perkataan orang-orang yang sok tahu. Anda ingin lebih tahu mengenai STDI Imam Syafi'i ini secara ringkas ?? Silahkan lihat disini:
STDI Imam Syafi'i

Allahul Muwaffiq

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] HR Hakim
[2] QS An Najm : 53
[3] HR Bukhari Muslim

Poskan Komentar

  1. Aqidah Universitas Islam Madinah
    Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
    Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.
    Abdullah Zein, M.A.
    Firanda Andirja, M.A.
    Roy Grafika, M.A.
    Bacharuddin Baco, Lc.

    Fiqh Universitas Islam Madinah
    Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.
    Anas Burhanuddin, M.A*

    Syari'ah Universitas Islam Madinah
    Musyafa', M.A.
    Muhammad Yassir, Lc.

    Dakwah Universitas Islam Madinah
    Dr. Syafiq Basamalah, M.A.

    Hadits Universitas Islam Madinah
    Sofyan Baswedan, M.A. *
    Noor Ikhsan Silviantoro, Lc. M.Th.I
    Nur Kholis, Lc. M.Th.I
    Bisri Tujang, Lc.
    Hendri Waluyo Lensa, Lc.
    MH. Hasan Ayatullah, Lc.
    Sanusin Muhammad Yusuf, Lc.

    UIN Suka Jogjakarta
    Suhuf Subhan, M.Pd.I
    Syari'ah Lipia Jakarta
    Muhsan Syarafuddin, Lc. M.H.I
    Muhammad Hafidz, Lc.
    Misbahuzzulam, Lc. M.H.I

    Dan Asatidzah lainnya alumni dari Universitas Islam Madinah dan LIPIA Jakarta

    *) Sedang menempuh studi ke jenjang lebih tinggi di Universitas Islam Madinah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dakwah Universitas Islam Madinah
      Dr. Syafiq Basamalah, M.A.
      ........... afwan, penulisan nama yg benar 'Basalamah.
      Nama Lengkap 'Syafiq Reza Basalamah' .. syukron.

      Hapus
  2. saya adalah salah satu orang yang sangat dan sangat ingin sekali mengenal agama saya, islam tanpa ada tambahan ibadah! dan saya sangat ingin sekali menempuh jenjang pendidikan s2 kemakkah ataupun madinah. tapi apa kendala? karena saya belum juga menyelesaikan kuliah saya yang sudah berjalan selama 6 tahun ini, maka saya tidak dapat bergerak maju untuk hal lain. saya masih tersangkut ditempat ini dan dengan segudang dosa yang tidak bisa saya tinggalkan, bantulah saya dengan doa agar menjadi pribadi lebih baik dan menyelesaikan kuliah saya ini untuk orangtua saya dan untuk diri saya sendiri, dan setelah lulus, untuk membantu orang orang mu'min dan akidahnya agar tetap berjalan lurus bersama orang orang yang lurus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. يسر الله أموركم و جعلنا الله و إياكم ثابتين على الإسلام متمسكين على سنة الرسول

      Hapus

 
Top