4



Dengan dasar perkataan Abdullah Bin Mubarok yang mulia:
الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء
“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.”

Maka saya ingin memberitahukan kedudukan sanad hadits yang sering disampaikan oeh para penceramah dengan menyatakan tidurnya orang puasa adalah ibadah.
Teks hadits:

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف
“Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”[1]

Haidts ini disebutkan oleh imam Al ghazali dalam kitabnya ihya uluumuddiin 1:242. Dan Diriwayatkan oleh imam Al baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman (3/1437).

Sanad hadits ini:
Didalam sanadnya terdapat, Ma'ruf bin hassan dan Sulaiman Bin Amr. Dan Imam Baihaqi sendiri mendho'ifkan sanad haditsnya.
Apa komentar imam Baihaqi setelah membawakan hadits ini?
معروف بن حسان (أحد رجال الإسناد) : ضعيف ، وسليمان بن عمرو النخعي أضعف منه
"Ma'ruf bin Hasan adalah dho'if dan sulaiman bin Amr an-nakho'i lebih dhoif darinya"

Kemudian apa yang dikatakan oleh imam Al 'iroqi dalam takhriij ihyaa' uluumuddiin (1/310)? beliau berkata:
سليمان النخعي أحد الكذابين
"Sulaiman An nkho'i adalah seorang pendusta"

Dan hati-hatilah dari membawakan hadits dho'if dan palsu, karena Rasul bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.”[2]

Lalu bagaimana sikap kita dalam menyikapi tidurnya seorang yang puasa?
Seorang yang puasa adalah mubah. Jika dipakai untuk suatu tujuan ibadah maka tidurnya adalah ibadah. Jika tidur dilakukan untuk tujan kemaksiatan maka tidur itu haram. Jika kita tidur untuk karena keletihan dan dengan tujuan istirahat agar semangat berdakwah maka tidurnya berpahala. Jika dia tidur untuk bergadang bercanda bersama kawan dalam kemaksiatan semisal berjudi maka tiudrnya adalah haram. Tidur adalah suatu hal mubah yang masuk dalam kaidah:
الوسائل لها أحكام المقاصد
"Wasilah (perantara) mempunyai hukum-hukum tujuan"

sehingga jika tidur adalah wasilah untuk ibadah maka dia adalah suatu ibadah. Jika tidur adalah wasilah untuk keharaman maka tidur adalah haram.

Imam An nawawi berkata:
أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب عَلَيْهِ
“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran).”[3]

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] HR Al Baihaqi
[2] HR Bukhari Muslim
[3] syarh Muslim (6/16)

Poskan Komentar

  1. Masya Allah. Jazakallah khoiron artikelnya. Sangat bermanfaat.
    Www.kajianummat.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Setuju buat yang lain..

    " Jika dia tidur untuk bergadang bercanda bersama kawan dalam kemaksiatan semisal berjudi maka tiudrnya adalah haram"

    untuk bagian ini apa iya bisa sampai haram dari hukumnya mubah om..
    mohon pencerahannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bisa sampai haram, karena ia adalah wasilah kepada keharaman.

      Maka dari itu mengapa Rasul mengharamkan untuk kholwat (berdua-duan dengan wanita yang bukan mahrom)? Jawabannya karena kholwat adalah wasilah menuju zina dan zina hukumnya haram. Sehingga kholwat ataupun memegang wanita yang bukan mahram dihukumi haram. Karena ia adalah wasilah kepada keharaman.

      Hapus
    2. Seseorang tidak berdosa hanya karena ingin berbuat buruk hingga dia mempraktikkannya. Hal ini berbeda jika seseorang hendak berbuat baik, maka dia sudah mendapatkan pahala walau cuma niat saja.
      Jadi saya kira kita tidak bisa mengqiyaskan niat baik dan buruk dalam kaidah yang sama.

      Hapus

 
Top