0

Pada kesempatan ini saya ingin memaparkan kesalahan yang banyak terjadi pada diri-diri kaum muslimin di bulan ramadhan. Karena mulianya bulan yang satu ini, ada baiknya jika saya memaparkan kesalahan yang banyak terjadi agar kita semua terhindar dari kesalahan-kesalahan yang mana mayoritas kaum muslimin banyak terjatuh kedalam perihal-perihal tersebut.


1- Melaksanakan puasa namun tidak menegakkan shalat 5 waktu alias meninggalkannya.

Perlu kita ketahui bahwasanya menegakkan shalat lima waktu adalah rukun islam ke 2 setelah syahadat. Dan barang siapa yang sengaja meninggalkan salah satu rukun islam maka hancurlah keislamannya. Begitupula barang siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja sedangkan dia mengetahui kewajiban menegakkan shalat maka hancurlah keislamannya dan dia dihukumi dengan kafir.   Simaklah hadits Ibnu Umar.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan”[1]

Disini menunjukkan bahwasanya shalat adalah rukun islam jika ditingalkan dengan sengaja maka hancurlah keislamannya. Kemudian simaklah hadits rasulullah lainnya. Rasulullah bersabda:
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”[2]

Dan rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[3]

Dan tatkala Allah menceritakan tentang orang-orang kafir di awal-awal surat at-taubah, Allah berfirman pada ayat 11:
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.”[4]

Saya sangat menyeru kepada kaum muslimin untuk menjaga shalat lima waktu, jangan sampai meninggalkan satu shalat wajib dengan sengaja karena mengikuti hawa nafsu, sehingga Allah menggolongkan kita bersama orang-orang yang lalai.

2- Mengkhususkan ziarah kuburan terutama kuburan para wali.

Ziarah kubur dianjurkan oleh nabi shallahu alaihi wasallam kapanpun dengan tujuan untuk mengingatkan kepada kematian. Tidak ada kekhususan pada bulan ramadhan untuk menziarahi kuburan.
Rasulullah bersabda:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا
"Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah”[5]

Dan yang sangat disayangkan banyak dari masyarakat kita mendatangi kuburan dengan tujuan untuk berdoa kepada mayyit. Maka ini menyelisihi tujuan dari ziarah kubur. Sehingga tujuan dari menziarahi kubur bukanlah untuk meminta dan berdoa kepada orang-orang yang telah wafat. Karena orang yang telah wafat tidak akan mendengarkan doa yang kita panjatkan. Allah berfirman:
وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ
"Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”[6]

Dan Allah berfirman:
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبير
“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau pun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui”[7]

Maka ini adalah kekeliruan yang terjadi pada masyarakat kita, sedangkan tidak ada dasarnya dari Al quran maupun hadits Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-

3- Menetapkan bulan ramadhan dengan hisab.
Bulan puasa ditetapkan dengan melihat hilal dan bukan dengan hisab.
Dalil yang menyatakan bulan ramadhan ditetapkan dengan melihat hilal adalah sabda Rasululullah shallallahu alahi wa sallam:
 إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
 "Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Dan jika melihatnya kembali, maka berbukalah (berhari Raya ‘Id). Lalu, jika kalian terhalangi (tidak dapat melihatnya), maka ukurlah"[8]
Dan maksud dari sabda rasul dan ukurlah adalah dengan menggenapkan bulan sya’ban menjadi 30 hari. 

Dan ini telah dijelaskan oleh rasulullah shollahu alaihi wa sallam:
صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ
"Berpuasalah kalian karena melihatnya, dan berbukalah kalian (untuk Idul Fithri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah Sya’ban 30 hari"[9]

Dengan dalil ini maka cara yang tepat dalam menetapkan bulan ramadhan dengan melihat hilal dan bukanlah dengan hisab . Dan Rasulullah bersabda yang menyatakan bahwasanya bulan ramadhan tidak ditetapkan dengan hisab sebagaimana yang terjadi pada masyarakat muslim, bahkan ramadhan hanya ditetapkan dengan melihat hilal:
إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثَلَاثًا حَتَّى ذَكَرَ تِسْعًا وَعِشْرِينَ
 "Kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghisab, bulan itu demikian, demikian dan demikian tiga kali”[10]

4- Melafadzkan niat “Nawaitu shouma ghodin”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah melafadzkan niat, karena tempatnya niat hanyalah dihati. Jikalau melafadzkan niat disyariatkan tentulah nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melafadzkannya. Maka dari itu salah satu ulama madzhab syafi’i yaitu Al Imam An Nawawi berkata:
لا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ
“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”[11]

5- Menjadikan Imsak Sebagai Batasan Sahur (antara 10 – 15 menit)

Dan untuk masalah imsak dalam bersahur itu tidak ada ketetapannya dari rasululllah. Bahkan jarak waktu sahur rasulullah antara waktu sahur beliau sampai fajr kedua (shubuh) hanya sepanang 50 ayat.  Anas bin malik bertanya kepada zaid bin tsabit, berapa lama jarak waktu sahur nabi hingga waktu shubuh. Maka Zaid bin tsabit bin tsabit berkata:
قدر خمسين أية
“sepanjang 50 ayat”[12]

Lihatlah permulaan waktu sahur nabi hingga adzan shubuh hanya selama 50 ayat sekitar 10 -15 ayat. Lantas, tidak ada yang namanya imsak, karena Rasul tidak berimsak.

Dan jika kita melaksanakan sahur kemudian adzan telah berkumandang sedangkan kita belum menghabiskan sahur kita, lantas bagaimana sikap kita? Rasulullah bersabda:
إذا سمع أحدكم النداء و الإناء على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه
Jika salah satu kalian mendengar Adzan akan tetapi bejana makanan masih berada ditangannya, maka janganlah ia meninggalkan  bejana itu sampai ia menyelsaikan kebutuhannya (menghabiskan makanannya)”[13]

6- Berdoa tatkala berbuka puasa dengan “Allahumma laka shumtu”

Riwayat doa Allahumma laka shumtu Wa ‘alaa rizqika afthortu adalah dho’if. Mari kita lihat matan haditsnya:
عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
“Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya telah sampai riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu-ed’ (ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).”[14]

Hadits ini dho’if dkarenakan Mu’adz bin zuhrah adalah seorang tabi’in, sehingga sanadnya terputus karena tidak ada thobaqah (tingkat) sahabat yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hadits-hadits mursal termasuk hadits-hadits dho’if.

Kemudian terdapat hadits yang diriwayatkan dari Anas Bin Malik, namun dalam sanad hadits tersebut terdapat Daud bin Az Zibriqon, dan rawi ini dinilai dho’if oleh para ulama. Walhasil haditsnya pun dhaif.

Adapun tambahan “Wa bika Amantu”, ulama ahli hadits tidak pernah menyebutkan riwayatnya.

Lafadz yang benar tatkala berbuka puasa adalah:
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah
Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki”[15]

Perowi hadits ini dari sahabat adalah Abdullah Bin Umar.

7- Membayar zakat dengan uang pada waktu yang bukan darurat untuk membayar dengannnya.

Pada asalnya membayar zakat fitrah dengan makanan pokok daerah. Akan tetapi jika terpaksa dan ada mashlahat yang lebih besar maka boleh baginya untuk membayar zakat fitri dengan uang.

Kita lihat dalil yang menunjukkan bahwasanya zakat fitri dibayar dengan makanan pokok suatu daerah:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّكَنِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَهْضَمٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ نَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Muhammad bin As-Sakan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jahdlam : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ja’far, dari ‘Umar bin Naafi’, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri di bulan Ramadlan kepada manusia; satu shaa’ tamr (kurma) atau satu shaa’ gandum atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan wanita dari kalangan umat muslimin. Dan beliau pun memerintahkan agar mengeluarkannya sebelum orang-orang keluar mengerjakan shalat (‘Ied)”[16]

Kemudian kita lihat hadits lainnya:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ الْعَامِرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Iyadl bin ‘Abdllah bin Sa’d bin Abi Sarh Al-‘Aamiriy, bahwasannya ia mendengar Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu berkata : “Dulu kami mengeluarkan zakat fithri (sebanyak) satu shaa’ makanan, atau satu shaa’ gandum, atau satu shaa’ tamr (kurma), atau satu shaa’ keju, atau satu shaa’ anggur kering (kismis)”[17]

Akan tetapi jika ada kebutuhan masyarakat kepada uang dan ini terdesak maka ini boleh membayarnya dengan uang. Sebagaimana dalam hadist:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي ثُمَامَةُ أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ لَهُ فَرِيضَةَ الصَّدَقَةِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ مِنْ الْإِبِلِ صَدَقَةُ الْجَذَعَةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ جَذَعَةٌ وَعِنْدَهُ حِقَّةٌ فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ الْحِقَّةُ وَيَجْعَلُ مَعَهَا شَاتَيْنِ إِنْ اسْتَيْسَرَتَا لَهُ أَوْ عِشْرِينَ دِرْهَمًا وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ صَدَقَةُ الْحِقَّةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ الْحِقَّةُ وَعِنْدَهُ الْجَذَعَةُ فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ الْجَذَعَةُ وَيُعْطِيهِ الْمُصَدِّقُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ صَدَقَةُ الْحِقَّةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ إِلَّا بِنْتُ لَبُونٍ فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ بِنْتُ لَبُونٍ وَيُعْطِي شَاتَيْنِ أَوْ عِشْرِينَ دِرْهَمًا وَمَنْ بَلَغَتْ صَدَقَتُهُ بِنْتَ لَبُونٍ وَعِنْدَهُ حِقَّةٌ فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ الْحِقَّةُ وَيُعْطِيهِ الْمُصَدِّقُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ وَمَنْ بَلَغَتْ صَدَقَتُهُ بِنْتَ لَبُونٍ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُ بِنْتُ مَخَاضٍ فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ بِنْتُ مَخَاضٍ وَيُعْطِي مَعَهَا عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Tsumaamah : Bahwasannya Anas radliyallaahu ‘anhu telah menceritakan kepadanya : Bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu pernah menulis surat kepadanya (tentang aturan zakat) sebagaimana apa yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam, yaitu : "Barangsiapa yang memiliki onta dan terkena kewajiban zakat jadza'ah sedangkan dia tidak memiliki jadza'ah dan yang dia miliki hanya hiqqah; maka dibolehkan dia mengeluarkan hiqqah sebagai zakat, namun dia harus menyerahkan pula bersamanya dua ekor kambing atau dua puluh dirham. Dan barangsiapa yang telah sampai kepadanya kewajiban zakat hiqqah sedangkan dia tidak memiliki hiqqah namun dia memiliki jadza'ah; maka diterima zakat darinya berupa jadza'ah dan dia menerima (diberi) dua puluh dirham atau dua ekor kambing. Dan barangsiapa telah sampai kepadanya kewajiban zakat hiqqah namun dia tidak memilikinya kecuali bintu labun; maka diterima zakat darinya berupa bintu labun, namun dia wajib menyerahkan bersamanya dua ekor kambing atau dua puluh dirham. Dan barangsiapa telah sampai kepadanya kewajiban zakat bintu labun dan dia hanya memiliki hiqqah; maka diterima zakat darinya berupa hiqqah dan dia menerima dua puluh dirham atau dua ekor kambing. Dan barangsiapa yang telah sampai kepadanya kewajiban zakat bintu labun sedangkan dia tidak memilikinya kecuali bintu makhadl; maka diterima zakat darinya berupa bintu makhadl, namun dia wajib menyerahkan bersamanya dua puluh dirham atau dua ekor kambing"[18]

Hadits di atas menunjukkan diperbolehkannya membayar zakat yang diwajibkan dengan sesuatu yang senilai dengannya.

Kemudian Abu Ishaq berkata:
أدركتهم وهم يعطون في صدقة رمضان الدراهم بقيمة الطعام.
“Aku menjumpai mereka menunaikan shadaqah Ramadlaan (zakat fihtri) beberapa dirham senilai makanan”[19]
Maksud dari perkataan nya: “menjumpai mereka” adalah menjumpai para tabi’in dan para sahabat. Karena Abu Ishaq adalah seorang tabi’in yang menjumpai sebagian para sahabat.

Sehingga kita tidak bisa mengatakan serta merta bahwasanya membayar zakat fitrah dengan uang adalah amalan bid’ah. Karena sebagian para sahabtpun melakukannya.

Mungkin yang sedikit ini akan dapat bermanfaat bagi kita semua. Shallallahu alaa nabiyyinaa muhammad.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] HR Bukhari
[2] HR Muslim
[3] Hadits Shohih Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i
[4] QS At Taubah: 11
[5] Hadits Shohih Riwayat Hakim
[6] QS Fathir :22
[7] QS Fathir: 13-14
[8] HR Bukhari Muslim
[9] HR Bukhari
[10] HR Bukhari Muslim
[11] Rowdhotuth Tholibin, I/268
[12] HR Bukhari Muslim
[13] HR Bukhari
[14] Hadits Lemah Riwayat Abu Dawud
[15] Hadits Shohih Riwayat Abu Dawud
[16] HR Bukhari
[17] HR Bukhari
[18] HR Bukhari
[19] HR Ibnu Abi Syaibah

Poskan Komentar

 
Top