0

Dahulu saya tinggal disuatu tempat dan mempunyai kawan karib yang begitu dekat dengan saya. Kami sangat sering untuk bercanda dan bersenda gurau. Ya, mugkin dikarenakan umur kami yang tidak berbeda jauh walaupun ia telah menikah dan mempunyai satu anak.

Namun pada akhir-akhir sebelum kami bepisah tempat -saya pindah kesuatu wilayah dan diapun pindah kesuatu wilayah lain- dia mulai bercerita tentang kegelisahannya yang terjadi akhir-akhir ini. Saya melihat sendiri ia begitu gelisah dan tampak tidak nyaman. Dan saya pun mulai bertanya, "Fulan, apa sebenarnya yang terjadi?" Namun ia tidak mengindahkan pertanyaan saya dan tidak ingin menjawabnya.  Saya masih penasaran tentang hakikat sebenarnya yang terjadi pada saudara saya seiman dan seislam. Kemudian saya terus bertanya pada esok harinya dan kembali bertanya, pada akhirnya ia pun mulai bertutur kata dan mengatakan "saya telah bercerai dari istri saya".

Tersentak dan kaget saya kembali berkata "Tholaq roj'i atau tholaq ba'in? (Tholaq masih bisa ruju' atau Thalaq sudah tidak bisa ruju' lagi)?" Beliau berkata " Saya telah mencerai istri saya sebanyak tiga kali" Lantas saya berkata "Langsung thalaq tiga atau bertahap?" ia berkata: "Cerainya bertahap tidak langsung thalaq tiga" kemudian saya masih penasaran dan bertanya kembali " Ada niatan untuk menceraikan istri anda?" ia menjawab "ya gimana lagi. Itulah yang sudah terjadi?" Saya hanya bisa bicara di dalam hati"Laa haula walaa quwwata Illaa billah, bagaimana jika anaknya yang imut mengetahui keadaan kedua orang tuanya telah berpisah dan tidak bisa berkumpul bersama sebagaimana dahuluya? -terus terang anaknya adalah seorang lelaki yang sangat imut dan lucu- "

Mungkin itulah akibat dari sifat tergesa-gesanya seorang manusia yang penuh khilaf dan salah. Dan sifat inilah yang dicela oleh Allah ta'ala dan RasulNya.

Ketahuilah disaat engkau meminangnya disaat itu pula lah engkau mengejutkan kedua jantung orang tuanya. Engkau telah mengambil belahan jiwa lubuk kedua orangtuanya. Tahukah engkau disaat ibunya melahirkannya adakah pasrtisipasi atau bantuan dari engkau, tahukah engkau disaat ayahnya membesarkannya dengan tarbiyah dan nafkah adakah engkau ikut nimbrung untuk membantu ayahnya? Dan tahukah engkau dengan apa engkau mengambilnya untuk kau pinang? Dengan KALIMAT ALLAH.

Rasul bersabda:

فاتقوا الله في النساء فإنكم أخذتموهن بأمان الله و اسستحللتم فروجهن بكلملة الله

"Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan wanita, sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanat dari Allah dan menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah" HR Muslim

Dan begitulah yang telah lelaki emban dari amanat yang begitu besar terhadap amanat seorang wanita untuk menjaganya dengan benar. Anda telah mengambil waktu yang lama untuk membangun kehidupan bersama dengan istri anda. Jangan hancurkan bangunan rumah anda, bata demi bata yang telah engkau bentuk bersama. Kebahagian demi kebahagian telah anda timbun di hati anak anda. Bagaimana jika ia tidak akan pernah melihat kebahagian kedua orang tua nya bersatu bersama. Begitulah tidak akan ada yang menghancurkan sebuah keluarga islam kecuali kemaksiatan yang masih ada dalam sebuah rumah tangga. 

Dan hal inipun terjadi dikarenakan sang suami chatting inbox bersama seorang wanita yang bukan mahromnya sedangkan istrinya mengetahui hal tersebut. Tersentaklah seorang istri dan tidak menerima apa yang terjadi pada suaminya. 

Cobalah untuk kita renungkan bersama, Sudah banyak waktu yang kita habiskan bersama istri namun semuanya hancur hanya  dikarenakan satu sebab. 

فلرب شهوة ساعة أورثت حزنا طويلا

"Betapa banyak syahwat sesaat mewariskan kesedihan yang begitu lama"

Ya ini hanyalah wasiat yang saya tujukan untuk diri saya sendiri bukanlah untuk orang lain. Namun yang saya harapkan dari semua itu adalah manfaat yang akan diambil untuk penulis dan para pembaca seluruhnya. Dan ini adalah wasiat untuk diri saya sendiri sebagai persiapan diwaktu mendatang dalam membangun keluarga mawaddah sakinah dan rahmah. 

Mudah-mudahan yang singkat ini dapat bermanfaat untuk kita semua. amiin 

Wabillahi at taufiiq wa as sadaad

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top