0


Menjulurkan pakaian hingga sampai dibawah mata kaki adalah suatu perkata yang dilarang keras oleh Nabi Muhammad shallallahu alihi wa sallam.  


Pengertian isbal:  Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala”, “yusbilu-isbaalan”, yang bermakna “irkhaa-an”, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul 'Aroby rahimahullah dan selainnya adalah ; memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak.[1]

Rasulullah bersabda:
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بحجزة سفيان بن أبي سهل فقال يا سفيان لا تسبل إزارك فإن الله لا يحب المسبلين
“Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi kamar Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata: ‘Wahai Sufyan, janganlah engkau isbal. Karena Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil’”[2]

Jika, Allah sudah membenci isbal secara tegas, mengapa para umat manusia masih saja bersikukuh untuk membala isbal? Allah membenci kepada orang-orang yang menjulurkan pakaiannya baik ia sombong, maupun tidak sombong.

Adapun dalil yang menyatakan bahwasanya Allah mengancam para musbilin –orang yang menjulurkan pakaian kebawah mata kakinya- adalah:

Hadits yang telah ana sebutkan diatas, adalah hadits yang melarang untuk melakukan isbal baik sombong maupun tidak. Kemudian sabda Rasul yang lain:
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ
“Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.”[3]

Jika yang tidak sombong balasannya adalah Neraka, maka yang menjulurkan pakaiannya dalam keadaan sombongpun lebih parah balasannya.

Rasul bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ
“Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaianya dalam keadaan sombong.”[4]

Dan Rasul juga bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.”[5]

Jadi, baik sang musbil ini melakukannya dengan sombong maupun tidak tetaplah dilarang. Namun yang harus diketahui, bahwasanya isbal itu sendiri termasuk bagian dari kesombongan. Dan hal ini telah di tegaskan oleh 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة
“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan”[6]

Allahu ta’ala A’lam

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry





[1] Lihat Lisanul 'Arob, Ibnul Munzhir 11/321, Nihayah Fi Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 2/339
[2] Hadits Shahih Ibnu Majah
[3] HR Bukhari
[4] HR Muslim
[5] HR Muslim
[6] Hadits Shahih Abu Dawud

Poskan Komentar

 
Top