0



Seseorang berkata dalam sebuah grup: saya sudah 4 tahun belajar salaf,ketika menemukan perbedaan pandangan antara ulama, selalu di sandarkan kepada ulama modern abad 20masehi. kemudian mengklaim
ulama tersebut sebagai salaf, dan memvonis ulama salaf lain diluar kelompok ini adalah sesat. aneh bin ajaib... tolong di jelaskan... ana nyimak aja.

Jawaban dari saya:  Ikhwani fillaah.. Jika perbedaan terjadi dalam masalah fiqh maka hal ini tidak mengapa, karena itu adalah masalah fiqh yang setiap ulama dapat berijtihad dalam masalah ini. Sebagaimana perbedaan imam imam yang
empat (abu hanifah, imam malik, imam syafii, imam ahmad bin hambal) dalam masalah fiqh. Dan ini tidak mengapa, yang mana para ulama menyebutnya sebagai ikhtilaful madzaahib bukan iftroqul ummah (perpecahan ummat).
Sebagaimana Rasulullah bersabda:
اذا اجتهد الحاكم ان أصاب فله أجران و ان أخطأ فله أجر واحد
“Jika ada seorang ulama yang berijtihad, jika ia benar maka akan mendapatkan dua pahala, jika dia salah maka mendapatkan satu pahala.”

Jadi semuanya mendapatkan pahala, dan tidak bisa kita katakan “Kamu telah keluar dari manhaj salaf”.
Akan tetapi jika perbedaan masalah akidah maupun manhaj baru dapat kita katakaa bahwasanya dia telah keluar dari manhaj salaf. Tapi tidak bisa  sembarangan kita menghukumi ia secara tembak tanpa ada bukti yang nyata. Ulama lah yang berhak menentukan hal tersebut. Contoh: jika ada seseorang yang dia berkeyakinan bahwasanya Al quran makhluk maka jelas dia bukan dari manhaj salaf, yang mana ia termasuk golongan jahmiyyah ataupun kullabiyah. Begitu juga seandainya dia selalu bertawassul kepada orang yang telah wafat tidak bisa kita mengatakannya sebagai seorang salafy. Karena ia adalah seorang musyrik. Hanya ulama yang berbicara. Adapun kita, kita hanyalah pemula tidak berhak untuk berbicara dan menuding manhajnya para ulama. Cukupulah para ulama yang memikirkan hal tersebut.

Dan ketahuilah wahai ikhwah, saudara saudara ku seiman. Saya sudah belajar selama 6 tahun untuk menimba ilmu agama dalam sebuah ma’had (pondok), semua guru guru saya menasihati para santrinya agar tidak gampang untuk memvonis mereka keluar dari salaf karena hanya satu kesalahan yang ia lakukan. Kita hanya menuntut ilmu, ilmu kita masih rendah, cukuplah ulama yang mengurusnya. Diantara  ustadz saya yang menasihati agar tidak terjerumus dalam hal itu adalah Ustadz ahmas faiz asifuddin, ust adi abdul jabbar, Syaikh ahmad al mishri, Syaikh abdul hakim al id al jazairy. Seperti syaikh ahmad al mishry yang saya langsung berdialog bersama beliau, yang mana beliau banyak bercerita tentang maslah hal ini, berbicara tentang syaikh abdurrohman abdul kholiq dan lain lainya.  Yang mana pada dialog tersebut berhujung pada kesimpulan tidak boleh gampang mentabdi’ dan mengeluarkan seseorang dari manhaj salaf.

Karena GAMPANGNYA MEMTABDI DAN MENGELUARKAN SESEORANG DARI MANHAJ SALAF BUKAN MANHAJNYA SALAFUS SHOLIH.

Apakah kita akan mengatakan bahwasanya Husain bin ali bin abi tholib bukan dari salaf karena ia telah memberontak kepada seorang amir yang sah? SEKALI KALI TIDAK.. BAHKAN BELIAU JAUH LEBIH BAIK DARI ANTUM WAHAI PENTABDI DAN BELIAU TERMASUK SEBAIK BAIK SLAF DARI KALANGAN SAHABAT
Apakah kita akan mengatakan bahwasanya Abdullah bin zubair bersama pasukannya akan keluar dari manhaj salaf karena mereka memeberontak kepada Amir yang sah? SEKALI KALI TIDAK WAHAI PENTABDI’.

Padahal jelas memberontak kepada amir yang sah adalah perbuatan yang begitu tercela dan dilarang oleh Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam. Dan ini adalah masalah manhaj.
Akan tetapi mereka beritihad wahai ikhwah.

Maka sangat lucu orang yang mengeluarkan Syaikh Muhammad Hassan keluar dari manhaj salaf karena ikut berpartai yaitu partai al nour. Itu adalah ijtihad beliau “syaikh Muhammad Hassan” Walaupun ijtihad beliau Keliru.

maka perhatikanlah kita hanya Penuntut ilmunyang sangat kecil tidak berhak untuk berbicara tentang kehormatan para ulama.
BERAPA JUZ AL QURAN  DAN RIBU HADITS YANG ANTUM HAPAL? SUDAH BERAPA LAMA ANTUM BELAJAR AGAMA?
BAHASA ARAB SAJA TIDAK BISA BAGAIMANA MENTABDI’ PARA ULAMA?
Allahu a’lam bish showab.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top