0




Mungkin banyak dari masyrakat kita yang melakukan qunut tatkala mereka meaksanakan  shalat shubuh. Mereka meyakini akan sunnahnya hukum qunut  shalat subuh. Akan tetapi yang perlu di perhatikan, apakah perbuatan ini mempunyai dalil  yang meyatakan qunut shubuh adalah masyru’ (disyari’atkan).  Jika terdapat
 dalil dari nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam maka hendaklah kita amalkan. Namun Jika tidak, maka tinggalkanlah amalan tersebut dengan sejauh-jauhnya.

Terdapat riwayat hadits yang menyatakan, bahwasanya qunut shubuh adalah suatu yang mustahabb (sunnah). Diantaranya adalah
1.       Hadits albarro’ bin ‘azib:
أن رسول الله كان يقنت في الصبح
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut tatkala melaksanakan shalat shubuh”[1]
 
2.       Dan telah diriwayatkan dari Anas bahwasanya beliau ditanya
أقنت النبي في الصبح؟ قال: نعم, فقيل له: أقنت قبل الركوع؟ قال: بعد الركوع يسيرا
“Apakah nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut tatkala shalat shubuh? Maka beliau (anas) berkata: iya. Kemudian beliau ditanya kembali: apakah nabi melakukan kunut sebelum ruku’? Maka Anas berkata: setelah rukuk sebentar”[2]

Kedua hadits diatas mempunyai derajat yang shahih, dan kedua hadits tersebut mengandung makna bahwasanya qunut shubuh adalah sebuah amalan yang disyari’atkan. Namun kita mempunyai hadits lain yang bertentangan dengan hadits diatas.  

1.       Hadits Abu Malik Al Asyja’i, beliau berkata:
قلت لأبي: يا أبت إنك قد صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان وعلي بن أبي طالب هاهنا بالكوفة، نحوا من خمس سنين، أكانوا يقنتون؟ قال: أي بني محدث
“Aku pernah bertanya kepada ayahku[3] : ‘Wahai ayahku, engkau pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan ‘Aliy di sini, yaitu di Kuufah selama kurang lebih lima tahun. Apakah mereka semua melakukan qunut ?”. Ayahku menjawab : “Wahai anakku, itu adalah perbuatan muhdats (perkara baru yang tidak pernah mereka lakukan)”[4]

2.       Dan telah sah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar –radhiyallahu anhu- , bahwasanya beliau berkata:
ما شهدت أحدا فعله
“Saya tidak pernah melihat satupun yang melakukan (qunut shubuh)[5]

3.       Ibnu Mas’ud –Radhiyallahu anhu- juga berkata:
أنه كان لا يقنت فس صلاة الفجر
“Bahwasanya Nabi tidak melakukan qunut tatkala shalat shubuh”[6]

Dengan hadits yang saya paparkan barusan, menjadikan hukum qunut shubuh mansukh (telah dihapus).  Karena para sahabat dari kalangan khulafa’ur  rasyidun tidak melakukannya. Begitupula Ibnu Umar dan Ibnu mas’ud tidak menyatakan bahwasanya nabi melakukan hal tersebut. Emang benar dahulu nabi pernah melakukannya akan tetapi hukum qunut sudah dihapus dengan dalil yang saya paparkan barusan.
Maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk meninggalkan hal ini. Karena amalan ini adalah amalan bid’ah yang nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak melakukannya.

Namun, apa yang harus kita lakukan jika kita menjadi makmum di belakang seorang imam yang melakukan qunut shalat shubuh? 

1.       Apakah kita mengikuti qunut imam, karena kewajiban makmum hanyalah mengikuti imam.
2.       Apakah kita meninggalkanshalat bersama imam karena ia melakukan perkara bid’ah?

Untuk pertanyaan yang pertama, telah disebutkan dalam suatu hadits bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا وإذا رَفَعَ فَارْفَعُوا وإذا قال سمع الله لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وإذا صلى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ
“Hanyalah dijadikan imam adalah untuk diikuti, maka jika imam sholat berdiri maka sholatlah kalian (wahai para mekmum-pent) berdiri juga, jika imam ruku' maka ruku'lah kalian, dan jika imam bangkit maka bangkitlah, dan jika imam berkata "Sami'allahu liman hamidahu" ucapkanlah "Robbanaa wa lakalhamdu". Jika imam sholat berdiri maka sholatlah berdiri, dan jika imam sholat duduk maka sholatlah kalian seluruhnya dengan duduk”[7]

Hadit diatas memerintahkan kita agar mengikuti imam, namun maksud dari mengikuti imam pada hadits tersebut adalah 

1.       Kita tidak boleh mendahulukan gerakan imam sebgaiamna yang tertera  diatas, jika imam ruku’ maka kita ruku setelah imam tidak mendahului ataupun berbarengan dan tidak boleh juga terlalu lama mengikutinya.  

2.       Kita mengikuti imam  jika amalan amalan imam ada landasannya dari  syariatnya, seperti shalat dengan keadaan duduk. Maka ini ada syariatnya jika kita sedang mengalami sakit yang membuat kita tidak mampu untuk shalat dengan berdiri. Maka dari itu, jika imam duduk dari awal shalat,maka kita wajib untuk mengikutunya dengan shalat dalam keadaan duduk pula.

Dengan kesimpulan diatas, jika imam melakukan amalan yang tidak disyariatkan, maka tidak wajib bagi seorang makmum untuk mengikutinya.  Ini semua karena kita mengamalkan wasiat nabi agar tidak mentaati seseorang jika itu bertententangan dengan perintah Allah.

Maka dari itu jika imam qunut, kita tidak ikut qunut bersama imam karena hal ini tidak disyariatkan.




Untuk pertanyaan yang kedua, kita wajib melaksanakan shalat secara berjama’ah dan tidak boleh meninggalkannya. Jika imam melakukan hal bid’ah diatas, bukan berarti kita tidak boleh shalat dibelakangnya dan shalat kita tidak sah.
Shalat dibelakang imam yang melakukan qunut shubuh adalah sah shalatnya. Dikarenakan amalannya tidak mengeluarkannya dari islam. Dan jika kita meninggalkan shalat karena imamnya melakukan qunut shubuh kemudian shalat sendirian dirumah maka ini adalah perbuatan yang keliru dan salah.

Allahu a’lam bis showab.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] HR Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i
[2] HR Bukhari, Muslim
[3] Thariq Bin Asyyam –radhiyallahu ‘anhu-
[4] Hadits Shohih HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad
[5] Hadits Shahih HR Abdurrazzaq (4954)
[6] Hadits Shohih HR Abdurrazzaq (4949)
[7] HR Bukhari

Poskan Komentar

 
Top