0



Seseorang berkata pada sebuah grup di facebook yang membuat hati saya marah dan ingin membantah perkataannya. Ia mencela ustadz ustadz yang menerima uang SPP perbulannya. Lihatlah apa yang ia
katakan. Sungguh perkataan yang sangat tercela.

Ia berkata: salafi tercirikan dg memahami dn mengamalkn agama sbgmn mrk salafunash sholih memahami dn mengamalkan agama ini. cocokkan dn ikuti jejak mrk. coba kt lihat amalan2 ustad yg punya pondok2 dn integral2 itu! mau belajar agama harus daftar dulu, pakai uang, dites dulu, yg bodoh ga boleh masuk, yg dtrima bayar uang gedung jt2 (pdhl gedung sdh ada), spp selangit (salafi yg penghasilan ga tentu, gigit jari). siapa panutannya?

Lantaslah saya menjawab:  lah antum tu gimana sih...
Letakkan segala sesuatu pada tempatnya. Kalau tidak maka antum melakukan kedzaliman. Kalau dia bodoh g bisa diterima di sebuah pndok ya wajar. Gimana tidak, anak antum kalau baru lahir masukkan aja tingkat yg tinggi.. Masukkan aja langsung SD.. Atau SMP
... Wajar nggak? Ya tidak.. Pake nalar yang selamat lah dalam berpikir...
Kalau antum punya sekolah terus banyak anak yang idiot alias otak dibawah rata2 apakah antum biarkan saja?
Letakkan ia pada tempatnya, sekolahkan ia di SLB atau yang lainnya.
Segala sesuatu punya jenjang masing masing.
Seandainya antum g bisa baca al quran, lantaskah antum langsung menghapalnya? Tidak mungkin... Diluar nalar sehat antum...

Sekolah pakai duit dan kecerdasan?! Ya Wajar... Semua ulama mengakuinya...
Kata salah seorang ulama yg antum kagum kagumi "Imam Syafi'I"
أخي لن تنال العلم إلا بستة و سأنبيك عن تفصيلها ببيان: ذكاء و حرص و اجتهاد و بلغة و صحبة أستاذ و طول زمان
"Saudaraku, engkau tidak akan bisa mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, dan saya akan mengabari enam perkara tersebut dengan terperinci: KECERDASAN, semangat, sungguh sungguh, BIAYA, menyertai guru, waktu yang lama"

Jadi imam syafi'I saja mengakui hal tersebut, kita menuntut ilmu butuh biaya dan kecerdasan.

Betapa banyak waktu yang antum ambil dari ustadz hanya untuk mengajar atum, sehingga mereka mereka tidak sempat mengais rezeki dliuar. Antum saja mengambil waktu mereka dan antum menahan mereka untuk mengais rezeki. Bagaimana mereka tidak membutuhkan biaya hidup? Pikir ulang kembali...


Kemudian ada seseorang yang berkata: Wah kalau guru atau ustadz gak boleh nerima uang, berarti saudi negara paling buruk dong????
Disana syaikh syaikh yang ngajar dapat gaji, imam masjid sampai muadzin aja digaji....


Kemudian orang yang mencela ustadz ustadz pondok tadi berkata kembali; kl d saudi, negara yg ngasih, bahkan yg blajar dpt uang saku, bukan murid yg ngasih. tentang perincian bhw murid bayar waktu yg tersita dr guru? ada dalil? coba lih yasin 21 "ikutilah org yg tdk mintah upah drmu dan mrk tertunjuki"

Lantaslah seseorang membantahnya:  Yakin di saudi, negara itu murid2 yang sekolah ndak bayar SPP? Yakin klo negara yang ngasih? Antum pernah ke Saudi?

Setahu saya, para ustadz yang pergi ke Madinah itu BAYAR untuk bisa kuliah di sana. Adapun yang beruntung maka mereka m
endapatkan BEASISWA. Dan BEASISWA itu pun artinya DIBAYARI oleh suatu lembaga atau orang. ANEH klo antum bilang kalau kuliah di sana TIDAK BAYAR.

Dalil yang antum kasih itu ndak nyambung sama sekali. Yang dimaksudkan orang yang tidak minta upah itu adalh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam. Ya jelas, rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam tidak meminta upah atas apa yang beliau dakwahkan.

Di sini secara tidak langsung, antum udah berpehaman MENGHARAMKAN penghasilan dari mengajar. Dan ini sangat butuh kepada dalil yang mengharamkan. Karena mengajar adalah hal muamalah. Silakan berikan dalilnya! Karena mengajarkan Al Qur'an pun ada dalil yang membolehkan menerima upahya :

فعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ نَفَراً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَرُّوا بِمَاءٍ فِيهِمْ لَدِيغٌ ، فَعَرَضَ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَاءِ فَقَالَ : هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ إنَّ فِي الْمَاءِ رَجُلاً لَدِيغًا ؟ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ عَلَى شَاءٍ [أي : مجموعة من الغنم]، فَبَرَأَ ، فَجَاءَ بِالشَّاءِ إِلَى أَصْحَابِهِ ، فَكَرِهُوا ذَلِكَ ، وَقَالُوا : أَخَذْتَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ؟ حَتَّى قَدِمُوا الْمَدِينَةَ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخَذَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم :
Dari Ibnu Abbas, ada sejumlah shahabat Nabi yang melewati sebuah oase. Salah seorang penduduk oase tersebut ada yang terkena gigitan binatang berbisa. Salah seorang penduduk oase ada yang meminta tolong kepada para shahabat dengan mengatakan, ”Adakah diantara kalian yang bisa meruqyah karena ada salah seorang penduduk oase ini yang terkena gigitan binatang oase?”. Lantas ada salah seorang shahabat yang pergi meruqyah orang tersebut dengan membacakan surat al Fatihah. Dia mau meruqyah dengan meminta upah berupa sejumlah kambing. Dengan membawa sejumlah kambing salah seorang shahabat itu kembali menemui kawan-kawannya. Ternyata kawan-kawannya tidak setuju dengan tindakannya dengan mengatakan, ”Apakah engkau meminta upah karena meruqyah dengan al Qur’an?!”. akhirnya saat mereka tiba di kota Madinah mereka melaporkan kejadian ini kepada Nabi. Mereka mengatakan, ”Wahai Rasulullah, dia telah mengambil upah karena meruqyah dengan al Qu’an!”. Rasulullah lantas bersabda,
(إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ)
“Sesungguhnya perkara yang paling pantas sebagai dasar untuk mendapatkan upah adalah al Qur’an” [HR Bukhari no 5405]

Wallahu a'lam bishawab.


Dan saya pun ikut menambahkannya:    kayak yakin kali antum tidak ada yang berbayar di saudi... Anggap apa yang antum katakan benar.. Bagaimana keadaannya dengan di mesir?! Di urdun? Sudan?!
Antum katakan mereka telah salah menyalahkan dakwah?!

Kalau begitu nasihat dari
ana, antum bangun SDIT, SMPIT, Aliyah, dengan gratis g boleh berbayar. Haram berbayar....

Pikir dua kali pak... Tiga kali juga boleh la...
Dalil yang dibawakan al faruq di atas sangat bagus untuk mengusir syubhat di kepala antum.
 

Kemudian ia berkata kembali:  apa pernah rosul minta upah kpd shbt, apa pernah imam2 yg 4 menjadikan ilmu sbg profesi mencari nafkah, adakah pekerjaan da'i. kenapa tdk contoh rosul mjdkn masjid sbg tempat taklim, malah mengikuti jejak selainx. kalo ada tetangga pondok ttt ikut pelajaran dari jendela bolehkah. ingat setiap penyelisihan kpd rosul akan berdampak negatif , memang kl ikut mazhab serba boleh nyaman, ga ada inkarul munkar, ga mau dikritik kembalikan kpd Alloh dan rosulx, ittiba ittiba pada lisan dan amalan barokallohu fikum ajmain.

Lantas saya menjawabnya:  jelas semua para nabi, para ulama, para da'I tidak meminta duit atau upah karena dakwah mereka.
Namun yang harus antum garis bawahi
"WAKTU YANG ANTUM SITA DARI MEREKA"

Duit yang antum beri karena waktu yang antum sita dari mereka.

Bahkan guru ana syaikh ahmad al mishri bercerita, bahwasanya di tempat beliau belajar setiap murid wajib bayar perbulannya.

Bagaimana antum katakan tidak ada ulama yang membolehkan?!

Karena waktu masuk kedalam masalah dunia...
Kalau bayaran karena antum telah meminta ilmunya, baru itu tidak boleh.. Karena antum meminta upah dalam masalah agama.


Maka terbungkam lah ia.. 

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top