0


Mengucapkan kata maaf terkadang Nampak hina bagi diri kita dihadapan saudara yang lain. Seakan-akan kita yang salah, dan kita yang kalah. Tangan ini serasa enggan dan berat untuk berjabat menyentuh tangan
saudaranya. Lisan tanpa tulang pun terasa berat untuk mengucapkan kata kata maaf.
Mulai lah perasaan hati berkata “ah.. malu minta maaf.. toh juga dia yang salah” dengan perkataan ini mulailah ia menghajr kawannya, memboikotnya, sampai kawannya datang dan mau meminta maaf kepadanya.

Iya, mungkin amarahmu lagi meledak, bagai bak gunung merapi yang meletus. Kemarahan anda sedang berkobar  dikepala bagai air yang mendidih. Belum bisa dingin dan masih dalam kegelisahan. Maka wahai saudaraku.. Ishbir. Sabarlah.. Sesungguhnya Allah  bersama hamba-hambaNya yang bersabar.  Dan Allah pun memuji hambaNya yang dapat menahan amarahnya.

Allah berfirman:
والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan manusia, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”[1]

Dan Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.”[2]

Lihatlah bagaimana Allah menggabungkan dua sifat yang mulia ini, dua sifat yang baik yaitu, “Menahan amarahnya” dan “memaafkan kesalahan orang lain”. Jika Allah telah memuji dua sifat yang mulia ini, akan ada kehinaan setelahnya? Dengan kita menahan marah berarti kita lemah? Dengan kita memaafkan kesalahan orang lain berarti kita kalah? Hanya pandangan manusia saja yang tidak sampai kepada puncaknya. Hanya pandangan manusia saja yang salah dalam memandang. Ia lupa, bahwasanya Allah telah mengatakan itu adalah hal yang mulia, dan sifat yang agung.

Dan keutamaan dari saling memaafkan sangat banyak sekali. Insya Allah akan kita rinci sedikit disini:

1. Mendatangkan kecintaan
 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” [3]

Ibnu Katsir -rahimahullah- menerangkan: “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat. Ibnu ‘Abbas c mengatakan: ‘Allah l memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah l menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.”[4]

2. Mendapat pembelaan dari Allah
Al-Imam Muslim –rohimahullah- meriwayatkan hadits Abu Huraira-rhodiyallahu ‘anhu- bahwa ada seorang laki-laki berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek. Aku bersabar dari mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika benar yang kamu ucapkan maka seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah l atas mereka selama kamu di atas hal itu.”[5]



3. Memperoleh ampunan dan kecintaan dari Allah

Allah  berfirman:

“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”[6]

Adalah Abu Bakr  dahulu biasa memberikan nafkah kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah. Dia termasuk famili Abu Bakr dan muhajirin. Di saat tersebar berita dusta seputar ‘Aisyah binti Abi Bakr istri Nabi shallahu alaihi wa sallam, Misthah termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah menurunkan ayat menjelaskan kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan Allah  memberi taubat kepadanya. Setelah peristiwa itu, Abu Bakr z bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian kepadanya. Maka Allah  menurunkan firman-Nya:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”[7]
Abu Bakr  mengatakan: “Betul, demi Allah. Aku ingin agar Allah l mengampuniku.” Lantas Abu Bakr kembali memberikan nafkah kepada Misthah. [8]

Nabi shallallahu alahi wa sallam bersabda:

“Sayangilah –makhluk– maka kamu akan disayangi Allah l, dan berilah ampunan niscaya Allah  mengampunimu.”[9]

Al-Munawi t berkata: “Allah l mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di antaranya adalah (sifat) rahmah dan pemaaf. Allah l juga mencintai makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut.”[10]

Adapun Allah  mencintai orang yang memaafkan, karena memberi maaf termasuk berbuat baik kepada manusia. Sedangkan Allah  cinta kepada orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya:

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah l menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”[11]

4. Mulia di sisi Allah  maupun di sisi manusia
Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain, disamping tinggi kedudukannya di sisi Allah , ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawannya, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi kawan. Nabi shallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah l menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah l melainkan diangkat oleh Allah.”[12]
Kapan memaafkan itu terpuji?
Seseorang yang disakiti oleh orang lain dan bersabar atasnya serta memaafkannya padahal dia mampu membalasnya maka sikap seperti ini sangat terpuji. Nabi n bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan –pembalasan– maka Allah l akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.”[13]
Demikian pula pemaafan terpuji bila kesalahan itu berkaitan dengan hak pribadi dan tidak berkaitan dengan hak Allah l. ‘Aisyah x berkata: “Tidaklah Rasulullah n membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit pun, kecuali bila kehormatan Allah l dilukai. Maka beliau menghukum dengan sebab itu karena Allah.”[14]

Oleh karena itu, tidaklah beliau disakiti pribadinya oleh orang-orang Badui yang kaku perangainya, atau orang-orang yang lemah imannya, atau bahkan dari musuhnya, kecuali beliau memaafkan. Ada orang yang menarik baju Nabi n dengan keras hingga membekas pada pundaknya. Ada yang menuduh Nabi n tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang. Ada pula yang hendak membunuh Nabi n namun gagal karena pedang terjatuh dari tangannya. Mereka dan yang berbuat serupa dimaafkan oleh Nabi n. Ini semua selama bentuk menyakitinya bukan melukai kehormatan Allah dan permusuhan terhadap syariat-Nya. Namun bila menyentuh hak Allah l dan agamanya, beliau pun marah dan menghukum karena Allah  serta menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karena itu, beliau melaksanakan cambuk terhadap orang yang menuduh istri beliau yang suci berbuat zina. Ketika menaklukkan kota Makkah, beliau memvonis mati terhadap sekelompok orang musyrik yang dahulu sangat menyakiti Nabi karena mereka banyak melukai kehormatan Allah. (disarikan dari Al-Adab An-Nabawi hal. 193 karya Muhammad Al-Khauli)

Kemudian, pemaafan dikatakan terpuji bila muncul darinya akibat yang baik, karena ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan. Misalnya, ada seorang yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan di mana dia berbuat jahat kepada anda. Bila anda maafkan, dia akan terus berada di atas kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dan menghukumnya sesuai kejahatannya sehingga dengan ini muncul kebaikan, yaitu efek jera. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  menegaskan: “Melakukan perbaikan adalah wajib, sedangkan memaafkan adalah sunnah. Bila pemaafan mengakibatkan hilangnya perbaikan berarti mendahulukan yang sunnah atas yang wajib. Tentunya syariat ini tidak datang membawa hal yang seperti ini.” (lihat Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 20)
Manfaat dari memaafkan diatas  dijelaskan oleh ustadz  Abdul mu’thi hafidzahullah

Nah, sekarang  bagaimana jika anda malu untuk meminta maaf?
Saudaraku, Janganlah malu dalam hal yang ma’ruf (baik). Sebuah perkataan sohabiyyat yang  mulia –Ummu Sulaim- pernah di lontarkan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:
إن الله لا يستحيي من الحق
“Sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran”[15]

Jika Allah tidak malu, mengapa kita harus malu? Cobalah untuk menguatkan tali persaudaraan kita. Kokohkan pondasi bangunan kita. Eratkan jejer barisan kita. Semuanya itu hanyalah dengan menguatkan cinta kita bersama. Jika ada kesalahan dari saudara kita maka maafkanlah. Dan jika anda berseteru, coba lah untuk mendatanginya dan berbicara empat mata bersamanya. Walaupun anda dalam keadaan yang benar dan tidak besalah.  

Jika anda malu untuk berbicara empat mata dengannya, maka usahakanlah untuk mengirim surat kepadanya dengan berbagai wasilah.  Baik melalui jejaring social facebook, twitter, email ataupun dengan SMS. Silahkan anda mencoba untuk menelusuri jalan-jalan yang sekiranya itu dapat memperkuat tali persaudaraan kaum muslimin.

Ingatlah Rasulullah bersabda:
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى شيئا تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى
“Permisalan antara mu’min dengan mu’min lainnya dalam masalah kecintaan, kesayangan, dan kelembutan seperti satu tubuh. Jika satu bagian mengeluh maka goyah lah seluruh anggota lainnya dengan sakit dan demam”[16]

Dan dari abu musa –radhiyallahu ‘anhu- Rasulullah bersabda:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا ، وشبك بين أصابعه
“Seorang mu’min dengan meu’min lainnya seperti sebuah bangunan, satu anggota memperkuat anggota lainnya, kemudian Rasululullah menyilang-nyilangkan antara  jari-jari tangannya”[17]

Untuk terakhir kalinya, jika kawan anda membuat jiwa marah dan emosi, maka saya paparkan beberapa kiat untuk menghilangkan rasa amarah dan segera untuk memaafkan kesalahan kawan anda.
1-      Berlindung kepada Allah dari godaan syaithon
2-      Diam, agar terhindar dari ucapan kata-kata buruk yang sering terlontarkan tatkala amarah menjulang
3-      Duduk atau berbaring agar rasa marah padam dan hilang sendirinya.
Nah, kalau sudah begini sangat mudah bagi anda untuk memaafkan kesalahan saudara anda dan menasihatinya. Dan rasa dendampun akan terkubur sedalam dalamnya.

Mudah-mudahan yang sedikit ini dapat bermanfaat untuk penulis, pembaca, dan kaum muslimin seluruhnya.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] Ali Imron: 134
[2] HR. Al-Bukhari no. 6114
[3] Fushshilat: 34-35
[4] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109
[5] HR. Muslim
[6] At-Taghabun: 14
[7] An-Nur: 22
[8] lihat Shahih Al-Bukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/286-287
[9] Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293
[10] Faidhul Qadir 1/607
[11] Ali ‘Imran: 134
[12] HR. Muslim dari Abu Hurairah
[13] Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3394
[14] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[15] HR Bukhari Muslim
[16] HR Bukhari Muslim
[17] HR Bukhari Muslim

Poskan Komentar

 
Top