0

Kisah ini ditulis oleh Mamduh Farhan Al-Buhairi dalam majalah Qiblati edisi 03 tahun IV, 12-1429/12-2008.
Seorang wanita shalihah hidup bersama suaminya di bawah naungan kerajaan Fir’aun. Sejarah tidak pernah mencatat namanya, namun sejarah telah mencatat perbuatannya.


Dia adalah seorang pembantu dan perawat bagi putri-putri Fir’aun, yang biasa disebut Masyithah karena pekerjaannya menyisir rambut putri Fir’aun. Allah telah memberinya anugerah keimanan. Tidak seberapa lama, Fir’aun mengetahui keimanan suaminya, kemudian dia membunuhnya. Akan tetapi sang istri shalihah tersebut tetap bekerja di istana Fir’aun menyisir rambut putri-putri Fir’aun, memberikan nafkah kepada kelima anaknya, memberi makan mereka sebagaimana burung memberi makan anak-anaknya.

Di saat dia menyisir salah satu putri Fir’aun, tiba-tiba sisir yang ada di tangannya terjatuh… lantar dia berkata bismillah.
Berkatalah putri Fir’aun, “Allah…? Ayahku…?”
Tukang sisir itu pun berkata, “Sekali-kali tidak, bahkan Allah adalah Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu…”

Sang putripun tercengang, ada Tuhan lain yang disembah selain ayahnya?! Kemudian dia laporkan hal itu kepada ayahnya. Ayahnya pun kaget dan geram. Ada orang di istananya yang menyembah selain dirinya?!
Fir’aun pun memanggil penyisir tersebut seraya bertanya, “Siapa Tuhanmu?”
Dia menjawab, “Tuhanku, dan Tuhanmu adalah Allah.”

Fir’aun pun memerintahkannya untuk kembali keluar dari agamanya, memenjarakannya, dan memukulinya. Namun dia tetap tegar, tidak keluar dari agamanya. Maka Fir’aun pun memerintahkan untuk mendatangkan satu kuali tembaga yang besar kemudian dipenuhi dengan minyak, lalu dididihkan hingga bergolak.

Fir’aun pun mendirikan penyisir tersebut di hadapan kuali. Di saat sang penyisir itu melihat adzab (penyiksaan), dia yakin bahwa dia hanyalah satu nyawa yang akan keluar kemudian bertemu dengan Allah.
Fir’aun tahu bahwa manusia yang paling dicintai oleh sang penyisir tersebut adalah kelima anaknya, lima anak yatim yang dia mencari nafkah untuk mereka, dan memberi makan mereka. Fir’aun pun berkeinginan untuk menambah adzabnya. Lalu dihadirkanlah kelima anak-anak tersebut, mata-mata mereka berputar kebingungan, mereka tidak tahu kemana mereka akan dituntun.

Tatkala mereka melihat ibu mereka, merekapun bergelayutan padanya sembari menangis. Sang penyisir tersebut mendekat dan menciumi mereka lalu menangis. Diapun mengambil yang paling kecil di antara mereka, lalu didekap di dadanya dan menyusuinya. Tatkala Fir’aun melihat pemandangan ini, dia memerintahkan untuk mengambil si sulung. Para serdadupun menyeret dan mendorongnya menuju minyak yang mendidih. Anak itupun berteriak memanggil ibunya, dan meminta tolong, memohon belas kasihan kepada serdadu, juga kepada Fir’aun. Dia berusaha melepaskan diri dan lari. Dia menyeru kepada adik-adiknya. Dia pukuli para serdadu itu dengan kedua tangan mungilnya sementara mereka memukul dan mendorongnya. Sang ibu melihat kepadanya dan mengucapkan salam perpisahan dengannya.
Tidaklah berselang lama, bocah kecil itupun dilemparkan ke dalam minyak yang mendidih, sementara sang ibu menangis sembari melihatnya. Adik-adiknyapun menutupi wajah-wajah mereka dengan tangan-tangan kecil mereka. Hingga setelah daging tubuhnya hancur, serta tulang putihnya menyembul di atas minyak yang bergolak, Fir’aun melihat kepadanya dan memerintahkannya untuk kufur kepada Allah. Sang ibupun tetap menolak.

Lalu Fir’aun murka, dan memerintahkan untuk mengambil putra keduanya. Anak itupun direbut dari sisi ibunya, anak itupun menangis dan meminta tolong. Lalu dia dilemparkan ke dalam minyak, sementara sang ibu melihat kepadanya hingga tulang-tulang putihnya menyembuhl dan bercampur dengan tulang belulang saudaranya. Sang ibu tetap teguh di atas agamanya, yakin terhadap pertemuan dengan Rabbnya.

Lalu Fir’aun memerintahkan untuk mengambil putra yang ketiga. Diapun diseret dan didekatkan ke kuali yang mendidih, kemudian dia dilempar dan hilang di dalam minyak yang mendidih. Dia diperlalukan seperti perlakuan terhadap kedua saudaranya. Sementara sang ibu tetap teguh di atas agamanya.

Fir’aunpun memerintahkan untuk melemparkan anaknya yang ke empat. Serdadupun menuju pada anak itu. Anak kecil yang tengah berpegang dengan baju ibunya. Di saat serdadu-serdadu itu merebutnya dari sang ibu, dia menangis dan berpegang kedua kaki ibunya… air matanya mengalir di atas kedua kaki ibunya… Sang ibupun berusaha untuk menggendongnya bersama adik kecilnya… Dia berusaha untuk mengucapkan salam perpisahan dengannya, serta menciumnya sebelum berpisah dengannya. Lalu serdadu-serdadu itupun memisahkan kedua ibu dan anak itu. Merekapun memegang kedua anak kecil yang sedang menangis dan meminta tolong itu… Dia berteriak dengan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti, semetara mereka tidak berbelas hati kepadanya. Sebentar kemudian dia telah tenggelam di dalam minyak yang mendidih, tubuhnya menghilang… dan suaranyapun menghilang… Sang ibu mencium bau daging anak-anaknya… tulang-tulang kecil putih menyembul di atas permukaan minyak yang mendidih. Sang ibu melihat kepadanya… Sungguh anaknya telah pergi meninggalkannya menuju negeri lain; di alam baqa’. Diapun menangis, hatinya berkeping-keping karena berpisah dengannya. Selama ini dia timang di dadanya, dia susui dengan payudaranya, selama ini dia terjaga karena keterjagaannya, dan menangis karena tangisannya. Betapa banyak malam dia tidur di pangkuannya, dan bermain dengan rambutnya… Diapun berusaha untuk tabah dan teguh…

Merekapun menoleh kepada sang ibu, merebut si bungsu yang masih dalam susuan dari hadapannya. Saat itu dia sedang minum air susu ibunya… Saat dia direbut, si bungsu berteriak menangis… sang ibupun menangis. Tatkala Allah melihat hatinya yang hancur berkeping-keping karena putranya, Allah menjadikan lisan si bungsu berbicara di gendongannya, “Wahai ibu, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”

Lalu terputuslah suaranya… dan menghilang di dalam kuali bersama saudara-saudaranya… Dia telah dilemparkan ke dalam minyak, sementara di mulutnya masih tersisa air susu ibunya, di tangannya terdapat rambut ibunya, di bajunya tersisa sebagian air mata ibunya.

Pergilah kelima puteranya… Itulah tulang belulang mereka… Menyembul di permukaan kuali, semnetara daging-daging mereka telah dipisahkan oleh minyak.

Sang ibu melihat kepada tulang-tulang kecil tersebut… Itu adalah tulang anak-anaknya, yang telah lama memenuhi rumah dengan tawa dan kebahagiaan mereka. Mereka adalah kenikmatan jiwanya, buah hatinya, buah hatinya, yang belum pernah berpisah dengannya… seakan-akan jantungnya telah dikeluarkan dari dadanya. Selama ini mereka berlarian menuju kepadanya… saling lempar di hadapannya… memeluk mereka di dadanya… memberi pakaian mereka dengan tangannya… serta mengusap air mata mereka dengan jari jemarinya. Kemudian, mereka telah direbut dari hadapannya, dan dibunuh di hadapan pandangannya. Mereka tinggalkan sang ibu sendirian dan berpaling darinya serta dari kerabat yang akan bersama mereka.

Adalah sang ibu, bisa saja membebaskan mereka dari adzab dengan satu kalimat kufur yang dia perdengarkan kepada Fir’aun. Akan tetapi dia tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan kekal.

Kemudian, saat tidak tersisa kecualo dia… mereka menghadap kepadanya seperti anjing pemburu. Mereka mendorongnya ke kuali. Tatkala mereka membawanya untuk dilemparkan ke dalam minyak, dia melihat kepada tulang belulang putra-putranya… lalu ingat berkumpulnya mereka di kehidupan… lantas dia menoleh kepada Fir’aun dan berkata: “Aku punya permintaan kepadamu.”
Fir’aun berteriak, “Apa keperluanmu?”
Dia menjawab, “Kumpulkanlah tulangku dan tulang anak-anakku, dan kuburkanlah dalam satu kuburan!”

Kemudian dia pejamkan kedua matanya, lalu dia dilemparkan ke dalam kuali… tubuhnyapun terbakar… dan tenggelamlah tulang-belulangnya.
Sungguh indah… Betapa agung ketabahannya… Betapa banyak pahalanya…!

Sungguh, Nabi telah melihat satu nikmat dari kenikmatannya saat malam Isra’. Lalu beliau menceritakannya kepada para sahabatnya, dan bersabda kepada mereka, seperti yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, “Tatkala aku di isra’kan, aku melalui dan mencium bau wangi, lalu kukatakan, ‘Wangi apakah ini?’ Maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah tukang sisir putri Fir’aun dan putra-putranya.”

Demikianlah, wanita mukmin ini berlalu menuju Sang Pencipta, serta berada di sisi-Nya. Terwujudlah sudah firman Allah yang artinya:
“Salamun ‘alaikum bima shabartum [keselamatan atasmu berkat kesabaranmu]. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar. Ra’d: 24)

Posted by : Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Poskan Komentar

 
Top