0



Pada saat fajar menjelang tiba, lantaslah kami melaksanakan shalat  shubuh seacara berjama’ah di sebuah masjid yang berada diperkampungan kami. Dan ternyata sebuah kabar menyakitkan hinggap di telinga-
telinga kami. Betapa tidak, sekolah SD kami terbakar ludes dilalap api merah membara.  Semua menjadi abu-abu berterbangan bersatu rata dengan tanah-tanah coklat yang penuh dengan kerikil-kerikil kecil.
Iya.. Perkara ini adalah musibah yang Allah berikan kepada kami. Dimana  murid-murid kecil nan imut harus belajar dan menimba ilmu tanpa bangunan yang patent. Betapa rasa iba yang kami rasakan tatkala memandang semangat mereka untuk menyelesaikan ujian di waktu yang akan datang dimasa-masa tryout mereka.  Dimanakah mereka harus belajar? Di sebuah tempat yang dinaungi atap ataukah sebuah tempat yang  dinaungi awan langit dunia? Dibangunan mana lagi mereka harus belajar?

Inilah ujian yang kami rasakan, Mudah-mudahan Allah mempermudah urusan kami. 
Rasulullah bersabda:
عن عائشة ، عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال : " ما من مصيبة تصيب المؤمن إلا أجر فيها ; حتى الشوكة تصيبه " .
Dari Aisyah rhodiyallahu ta’ala anha dari nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah memberi pahala untuknya, sampai-sampai duri kecil yang menusuk tubuhnya”

Kita hanya bisa berkata:   “Innaalillahi wa innaa ilaihi roji’un. Ya Allah Berikanlah ganjaran pada musibah kami, dan berikanlah  yang terbaik sebagai pengganti yang hilang dari kami.
Rasululullah bersabda:
ما من مسلم تصيبه مصيبة فيقول ما أمره الله: إنا لله وإنا إليه راجعون، اللهم أجرني في مصيبتي وأخلف لي خيرا منها إلا أجره الله في مصيبته وأخلف الله له خيرا منها.
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu musibah kemudian ia berkata sebuah kalimat yang Allah perintahkan: Innaalillah wa innaa ilaihi roji’un Alllahumma’jurnii fii mushiibati wa akhlif lii khoiron minha (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadanya lah kami akan kembali, Ya Allah berikan lah ganjaran pada musibah kami dan berilah yang terbaik sebagai pengganti dari musibah kami), Kecuali Allah akan memberikan pahala kepadanya dan menggantikan yang lebih baik untuknya” (HR MUSLIM)

Dan Allah berfirman: 
وَ لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَ الْجُوْعِ وَ نَقْصٍ مِّنَ الْأَمَوَالِ وَ الْأنْفُسِ وَ الثَّمَرَاتِ وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْن  اَلَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْن
“Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan se­suatu dari ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dari harta­ benda dan jiwa-jiwa dan buah buahan; dan berilah khabar yangmenyukakan kepada orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNya­lah kita semua akan kembali. Mereka itu, akan dikurniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk.   (Al Baqarah: 155-157)

Lihatlah Nikmat yang Tersisa
Termasuk salah satu terapi dalam menghadapi musibah adalah dengan cara melihat seberapa musibah dan seberapa besar nikmat yang telah diterima. Maka akan didapati bahwa Allah subhanahu wata’ala masih menyisakan baginya yang semisal dengannya, atau malah lebih baik lagi. Dan jika seseorang bersabar dan ridha maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan sesuatu yang lebih baik dan besar daripada apa yang hilang dalam musibah, bahkan mungkin dengan berlipat-lipat ganda. Dan jika Allah subhanahu wata’ala menghendaki maka akan menjadikan lebih dan lebih lagi dari yang ada.

Musibah Menimpa Semua Orang
Merupakan obat yang sangat bermanfaat di kala musibah sedang menimpa adalah dengan menyadari bahwa musibah itu pasti dialami oleh semua orang. Cobalah dia menengok ke kanan, maka akan didapati di sana orang yang sedang diberi ujian, dan jika menengok ke kiri maka di sana ada orang yang sedang ditimpa kerugian dan malapetaka. Dan seorang yang berakal kalau mau memperhatikan sekelilingnya maka dia tidak akan mendapati kecuali di sana pasti ada ujian hidup, entah dengan hilanganya barang atau orang yang dicintai atau menemui sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup.

Kehidupan dunia tidak lain adalah ibarat kembangnya tidur atau bayang-bayang yang pasti lenyap. Jika dunia mampu membuat orang tersenyum sesaat maka dia mampu mendatangkan tangisan yang panjang. Jika ia membuat bahagia dalam sehari maka ia pun membuat duka sepanjang tahun. Kalau hari ini memberikan sedikit maka suatu saat akan menahan dalam waktu yang lama. Tidaklah suatu rumah dipenuhi dengan keceriaan kecuali suatu saat akan dipenuhi pula dengan duka.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, "Pada setiap kegembiraan ada duka, dan tidak ada satu rumah pun yang penuh dengan kebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan kesedihan. Berkata pula Ibnu Sirin, "Tidak akan pernah ada senyum melulu, kecuali setelahnya pasti akan ada tangisan."

Hindun binti an an-Nu'man berkata, "Kami melihat bahwa kami adalah termasuk orang yang paling mulia dan memiliki harta paling banyak, kemudian matahari belum sampai terbenam sehingga kami telah menjadi orang yang paling tidak punya apa-apa. Dan merupakan hak Allah subhanahu wata’ala bahwa tidaklah Dia memenuhi suatu rumah dengan kebahagiaan, kecuali akan mengisinya pula dengan kesedihan." Dan ketika seseorang bertanya tentang apa yang menimpanya maka dia mengatakan, "Kami pada suatu pagi, tidak mendapati seseorang pun di Arab kecuali berharap kepada kami, kemudian kami di sore harinya tidak mendapati mereka kecuali menaruh belas kasihan kepada kami."

Keluh Kesah Melipatgandakan Penderitaan
Di antara obat untuk menghadapi musibah adalah dengan menyadari bahwa keluh kesah tidak akan dapat menghilangkan musibah. Bahkan hanya akan menambah serta melipatgandakan sakit dan penderitaan.

Musibah Terbesar Adalah Hilangnya Kesabaran
Termasuk Obat ketika tertimpa musibah adalah dengan mengetahui bahwa hilangnya kesabaran dan sikap berserah diri adalah lebih besar dan lebih berbahaya daripada musibah itu sendiri. Karena hilangnya kesabaran akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa kesejahtaraan, rahmat dan hidayah yang Allah subhanahu wata’ala kumpulkan tiga hal itu dalam sikap sabar dan istirja' (mengembalikan urusan kepada Allah dengan mengatakan Innalillah wa innaa ilaihi roji'un).

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top