Minggu, 07 April 2013

Hukum Perdukunan







Pada hari-hari ini, hampir seluruh media masa menyuguhkan berita kerusuhan dan pertikaian yang terjadi antara guru dan murid tentang perdukunan. Saya tidak ingin membahas fulan-fulan tersebut dalam artikel ini.
Karena saya rasa,manfaat dari membahas mereka sangat tidak berfaidah. Terus terang, saya kurang paham apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, namun ada sedikit yang saya pahami, Kemungkinan besar perseteruan yang terjadi diantara mereka dikarenakan perdukunan.

Apa hukum syar’I tentang  perdukunan, Apakah seseorang yang mempunyai pekerjaan pokok sebagai dukun adalah kafir musyrik? Lantas, apakah orang yang ikut mendatanginya dinamakan  musyrik juga? Simaklah perincian dibawah ini.

Apa sih maksud dari dukun itu? Yang diistilahkan dukun itu sendiri adalah orang-orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari, melalui bantuan setan yang mencuri-curi dengan berita dari langit. Maka, dukun adalah orang-orang yang mengaku dirinya mengetahui ilmu ghaib, sesuatu yang tidak tersingkap dalam pengetahuan banyak manusia.

Padahal, di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas dan pasti, bahwa hanya Allah  yang mengetahui yang ghaib, adapun selain-Nya tidak.
Allah  berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّه
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)

Dengan inilah, para dukun telah membatalkan akidah yang sangat agung nan mulia. Yaitu, tidak ada satu makhlukpun yang mengetahui hal ghaib kecuali Allah.
Kemudian Rasulullah bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ؛ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi peramal, lalu ia bertanya tentang sesuatu padanya; maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”[1]
Begitulah Rasulullah bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ سَاحِراً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ؛ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”.
“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya; maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.”[2]

Ancaman yang sangat berat dari Rasul shallallahu alaihi was allam untuk para pengunjung dukun. Jika ia tidak mempercai sang dukun maka sia-sialah shalatnya selama 40 hari. Kemudian hendaklah ia mengalikan dengan jumlah shalat fardhunya sehari-hari.  Maka kerugian yang besarlah dipikul oleh seseorang yang mendatangi sang dukun. Dan yang lebih parah lagi adalah seseorang yang mendatangi dukun tersebut kemudian mempercayainya. Maka ia melakukan amalan kekafiran dan ia telah mendustai apa yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Jika seseorang yang mendatangi dukun + mempercayainya adalah seseorang yang kafir, maka sudah menjadi kepastian  sang dukun adalah seorang yang kafir.

Kemudian, para dukun membuat seseorang yang mendatangnya mempunyai  sifat pemalas .
“Pemikiran yang mistik mencerminkan mentalitas jalan pintas. Orang yang tidak mau kerja keras, tidak mau berencana, dan hanya mengharapkan solusi dengan cara gaib. Mistik membuat orang malas, tidak ulet dan tidak bermental tangguh.”[3]
Pembahasan di atas bukan hanya membidik para dukun yang notabene beraliran hitam. Yang  biasanya ditandai dengan blangkon atau iket di kepala dan pakaian serba hitam. Tidak lupa menyelipkan sebilah keris di pinggang, serta menyalakan kemenyan dan dupa di depannya. Namun peringatan di atas juga terarah kepada mereka yang menamakan diri dukun putih. Yang kerap berbusana bak seorang wali, dengan sorban di kepala dan jubah putih, serta tidak lupa bersenjatakan seuntai tasbih yang biji-bijinya terkadang mengalahkan besarnya bola pingpong. Mereka semua sama![4]
Semoga Allah menjauhkan dari amalan yang sangat tercela ini.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

[1]  (H.R. Muslim (IV/1751 no. 2230) dari sebagian istri Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam).

[2]  (H.R. Al-Bazzar (V/315 no. 1931) dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ’anhu dan sanad-nya dinilai sahih oleh Ibnu Katsir [lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (I/393)].
[3]  (Perkataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana dalam buku Harus Bisa – Seni Memimpin ala SBY,  karya Dr. Dino Patti Djalal (hal.127)).

[4] [Pembahasan lebih lanjut baca di buku Dukun Hitam Dukun Putih – Menguak Rahasia Kehebatan Sekutu Setan, karya Abu Umar Abdillah].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar