9


Saya di tanya “Apa hukum dari memajang ayat qur’an yang berbentuk kaligrafi di dinding rumah kita”. Dan akhirnya saya jawab secar ringkas untuknya. Dan saya katakan kepadanya agar membaca permaslahan ini dengan  dengan lengkap  diblog saya.

Dalam masalah hukum memajang kaligrafi ayat quran ini akan saya jawab disini insya Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لّيَدّبّرُوَاْ آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكّرَ أُوْلُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”[1]

Dan Allah berfirman:

 وَنُنَزّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظّالِمِينَ إَلاّ خَسَاراً

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”[2]

Dari ayat diatas telah jelas bahwasanya alquran diturunkan bukan buat dipajang akan tetapi sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, sebagai obat penawar, dan sebagai rahmat bagi kaum mukminin.
Maka, barang siapa yang  memajang ayat quran dan enggan untuk membacanya, dan mengamalkannya ia telah jatuh dalam kesalahan yang besar. Dan bahkan ia bisa terjatuh dalam istihza’ penghinaan Ayat Allah. Karena ia telah menyalahgunakan ayat-ayat Allah, yang mana itu adalah perkataan Allah yang sangat agung.  Maka dari itu, hendaklah kita berhati-hati dalam  dalam masalah ini. Dan Allah sangat melarang dari istihza (melecehkan) terhadap ayat-ayatnya karena disalahgunakan penggunaannya.

Allah berfirman:

قل أبالله و أياته و رسوله كنتم تستهزؤون قد كفرتم بعد إيمانكم

“Dan katakanlah (wahai Muhammad) apakah dengan Allah dan ayat-ayatNya dan RasulNya kalian menghina? Maka kalian telah kufur setelah keimanan kalian”[3]

Adapun, jika ia mencari berkah dengan memajangnya maka ini tidak disyari’atkan. Bila anda ingin diberkahi, di beri petunjuk, dan dihindarkan dari kejahatan syaithon maka bacalah Alquran bukan dengan memajangnya.

Rasulullah bersabda:

 لا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

 ”Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syaithan itu akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah”[4]

 Dan sabda Rasul shallallahu’alaihi wasallam:

 الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَهُمَا فِيْ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

”Dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah, barangsiapa yang membacanya di malam hari maka ia telah mencukupkannya”[5]

 Dengan inilah jika kaum muslimin mengharapkan berkah dari al quran,maka pelajarilah ia, bacalah, dan amalkan, serta dakwahkanlah.

Dan jika dipajang seperti ini ditakutkan ia terjatuh dalam kesyirikan dengan menjadikan ayat – ayat Allah sebagai jimat, maupun  tamimah. Tamimah adalah segala sesuatu yang digantungkan pada anak-anak dengan tujuan untuk melindungi mereka dari ‘ain (pandangan hasad).

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْك

“Sungguh jampi-jampi, jimat, dan pelet adalah syirik”.[6]

Kalau mau dilihat ulang, para sahabat bersama nabi mereka tidak pernah memajang ayat quran untuk mengalap berkah. Akan tetapi mereka menghapalkannya dan mengamalkannya, serta mendakwahkannya. Cukuplah bagi kita untuk mengikuti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ibadah. Jika nabi tidak mensyariatkannya dan tidak pernah melukakannya maka jangan kita kerjakan. Karena islam adalah agama yang mudah dan tidak ribet.

Kemudian kawan saya bertanya kembali, bagaimana hukumnya memajang kaligrafi lafdzul jalalah (lafadz Allah) dan nabi Muhammad?

Untuk masalah ini, syaikh Ibnu Utsaimin -rohimahullah- Telah menjawabnya.

Beliau berkata: Hal itu bukan pada tempatnya, karena menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tandingan dan selevel dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seandainya seseorang melihat tulisan ini sedangkan ia tidak tahu tentang siapa keduanya (Allah dan Muhammad), maka ia yakin seyakin-yakinnya bahwa keduanya setara dan serupa. Dengan demikian, wajib menghilangkan nama Rasulullah.

Meskipun demikian, tersisa pertanyaan tentang lafal اَللهُ saja, bolehkah? (Jawabannya adalah) dikarenakan kata ini diucapkan oleh orang-orang sufi dan menjadikannya pengganti zikir, yaitu mereka mengatakan اَللهُ ،اَللهُ ،اَللهُ maka sebaiknya juga dilepas (dari dinding). Janganlah menulis اَللهُ atau مُحَمَّدٌ di dinding maupun di papan, atau di tempat lainnya.”[7]


Allahu a’lam.


PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1]  Shaad : 29
[2]  Al-Israa’ : 82
[3] At-taubah : 65-66
[4] HR. Muslim no. 780
[5] HR. Bukhari no. 3786 dan Muslim no. 807. Imam Nawawi berkata: An-Nawawi berkata : “Ada yang mengatakan yaitu cukup baginya dari qiyamul-lail; ada pula yang mengatakan yaitu cukup baginya dari (gangguan) syaithan; dan ada pula yang mengatakan yaitu cukup baginya dari berbagai gangguan penyakit. Dan kemungkinan juga dari semuanya” [Syarah Shahih Muslim 6/91]
[6] HR Ahmad, Abu Dawud. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.
[7] Fatawa Arkanil Islam oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 192

Poskan Komentar

  1. Assalaamu'alaikum Ustadz.. kalau begitu, bagamana juga dengan bangunan Ka'bah yang berhias banyak tulisan Kaligrafi? Syukron !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa alaikumussalam.. Dizaman Rasulullah, ka'bah dan dan masjid-masjid tidak dihiasi sebagaimana zaman sekarang dengan terlalu berlebihan. Rasulullah dan para sahabatnya membangun masjid ala kadarnya, tidak menghiasi dengan kaligrafi dll. Dan, penghiasan masjid dengan kaligrafi dan aksesoris lainnya muncul setelah zaman para salaf. Bahkan terdapat ancaman dari Rasulullah untuk menghiasi masjid dengan berlebihan.

      Rasul bersabda:
      لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى

      “Kalian benar-benar akan menghias-hiasi masjid sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani telah menghias-hiasi (tempat ibadah mereka)" HR Bukhari

      Begitu pula Anas bin Malik mengingatkan juga dengan hal ini dengan perkataan nya:

      يَتَبَاهَوْنَ بِهَا ثُمَّ لاَ يَعْمُرُوْنَهَا إِلاَّ قَلِيْلاً

      “Mereka berbangga-bangga dengan masjid-masjid, lalu mereka tidak memakmurkannya, kecuali jarang” HR Bukhari

      Hapus
  2. Assalammu'alaikum
    afwan ya akhi, masyaallah blog anum syarat dg ilmu
    ana cuma mau memberi saran, selain antum mencantumkan sumber hadistnya, tolong cantumin juga nama nara sumber nya seperti kalau antum mengutip perkataan seorang syaik...

    jazakallah khair

    BalasHapus
  3. semoga kita selalu menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk dan penawar hati kita

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum warahmatullah akhi, lalu apa yang harus dilakukan dengan kaligrafi yg sudah terpasang? Jika dibuang, saya khawatir malah dianggap melecehkan. Jika saya bakar, astagfirullah saya juga khawatir dianggap merusak. Lalu apa yg harus dilakukan? Syukron.

    BalasHapus
  5. ayu puspita sari16 November 2015 20.04

    Iya ustadz berkenaan dengan pertanyaan di atas mohon jawabannya

    Orang tua ana juga masih memajangnya dan bingung mau di kemanain

    BalasHapus
  6. Menurut saya memajang lafadz alquran boleh boleh saja dengan niat syiar & sebagai pengingat kita kepada apa yang diperintahkan Allah SWT didalam Alquran

    BalasHapus
  7. Jika sudah terlanjur dipasang ,dan dilepas harusnya dibagaimanakan ustad kaligrafinya,disimpan,atau diberikan oranh lain atau dibakar,mhon petunjuknya ust karena bingung baru kemaren beli :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagusnya disimpan saja dengan rapi. Tidak mengapa.

      Hapus

 
Top