0


Ketika jam tangan muncul pertama kali dikenal, orang-orang
memakainya di tangan sebelah kiri dengan maksud agar tidak ada
sesuatu pun di tangan kanan yang akan mengganggu geraknya. Pada
umumnya, gerakan tangan kanan lebih banyak daripada tangan kiri,

sehingga orang-orang pun memakaianya di tangan kirinya supaya lebih
leluasa untuk bergerak. Selain itu, karena tangan kanan sering digunakan
untuk beraktivitas sehingga dikhawatirkan jam tangan bisa rusak jika
dikenakan di tangan kanan, misalnya terbentur sesuatu. Sehingga orang-
orang lebih suka mengenakan jam tangannya di tangan sebelah kiri.
Ada sebagian orang yang menyangka bahwa yang terbaik dan lebih
utama mengenakan jam tangan di tangan sebelah kanan, mengingat
terdapat dalil yang menunjukkan anjuran mengutamakan tangan kanan.
Akan tetapi terkadang Rasululullah memasang cincinnya di jari tangan kiri. Boleh jadi mengenakan cincin dengan jari tangan kiri itu lebih utama agar tangan
kanan bisa dengan mudah melepas cincin jika diperlukan.
Kembali pada masalah jam tangan, kita bisa menyamakannya dengan

cincin. Sehingga tidak ada kelebihan tangan kanan ataupun tangan kiri
dalam mengenakan jam tangan. Ada kelonggaran dalam masalah ini.
Kita boleh mengenakan jam tangan di tangan kanan, dan boleh juga di
tangan kiri. (lihat Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarah Riyadhus
Shalihin Cetakan Dar wathan Juz 7 hal 184)

Syaikh Prof. Dr. Syaikh Sa’ad bin Turkiy Al Khotslan (dosen
jurusan fikih di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud) ditanya, “Manakah
yang lebih afdhol, menggunakan jam tangan di tangan kanan ataukah kiri?”
Syaikh hafizhohullah menjawab,
“Yang nampak, jam tangan (arloji) berfungsi sebagaimana cincin. Ada yang
bermaksud mengenakannya sebagai mode (penampilan) dan ada yang
bermaksud memanfaatkannya untuk tujuan yang lain. Dan telah shahih dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menggunakan cincin di
tangan kanan dan kadang di tangan kiri pula. Para ulama akhirnya berselisih
manakah di antara keduanya yang terbaik. Yang paling bagus dalam
menyikapi hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar ketika ia
mengatakan, “ Yang tepat, hal ini tergantung tujuan menggunakannya. Jika
tujuan menggunakannya adalah untuk penampilan, kanan lebih afdhol. Jika
tujuannya untuk memakai sebagaimana cincin, maka yang kiri lebih tepat
karena cincin itu seperti suatu ikatan. Dan tujuan ini pun bisa dicapai jika
diletakkan di tangan kanan ” (Fathul Bari, 10: 327). Oleh karenanya, jika tujuan
menggunakan jam untuk mengenali waktu, maka lebih afdhol di tangan kiri.
Jika maksudnya untuk penampilan -sebagaimana maksud seperti ini
ditemukan pada banyak wanita-, maka afdholnya adalah di tangan kanan.
Wallahu a’lam .”

Akan tetapi kalau ditinjau ulang, banyak dari kaum kuffar yang memakai jam tangan disebelah kiri. Dan itu adalah sebuah kebiasaan maupun adat mereka. Dan bahkan mereka banyak yang mengatakan bahwasanya memakai jam tangan disebelah kanan adalah kehinaan. Lantas bagaimana kita menyikapi hal demikian?

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : " Kami melihat
sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka
berkata bahwa yang demikian itu sunnah, ada dalilnya ?"

Jawaban:
Kami berpegang teguh dalam masalah ini dengan kaidah umum yang
terdapat dalam hadits Aisyah di dalam Ash-Shahih, ia berkata.
“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai
menggunakan (mendahulukan) kanan dalam segala sesuatu, yaitu
ketika bersisir, bersuci, dan dalam setiap urusan”

Dan kami tambahkan dalam hal ini, hadits lain yang diriwayatkan
dalam Ash-Shahih, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Yahudi tidak mencelup (menyemir)
rambut-rambut mereka, karena itu berbedalah dengan mereka,
dengan cara menyemir rambut kalian” .
Juga hadits yang lain yang di dalamnya terdapat perintah untuk
berbeda dengan musyrikin.
Maka dari hadits-hadits tersebut dapat kami simpulkan bahwa
disunnahkan bagi seorang muslim untuk bersemangat dalam
membedakan diri dengan orang-orang kafir.
Dan sepatutnyalah untuk kita ingat bahwa membedakan diri dari
orang kafir, mengandung arti bahwa kita dilarang mengikuti adat
kebiasaan mereka. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk
menyerupai orang kafir, dan sudah selayaknya bagi kita untuk selalu
tampil beda dengan orang-orang kafir.
Di antara adat kebiasaan orang kafir adalah memakai jam tangan di
tangan kiri, padahal kita mendapatkan pintu yang teramat luas di
dalam syari’at untuk menyelisihi adat ini. Walhasil mengenakan jam
tangan di tangan kanan merupakan pelaksanaan kaidah umum, yaitu
(mendahulukan) yang kanan, dan juga kaidah umum yang lain
yaitu membedakan diri dengan orang-orang kafir.

(Disalin dari buku Fatawa Al-Madina Al-Munawarah)

Jadi ada baiknya fatwa syaikh Al albani diatas kita amalkan dengan tujuan menghidupkan sunnah dan menyelishi kaum kuffar.

Wallahu A'lam

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top