0



Pandangan mata mulai tersilau akan fatamorgananya dunia. Kemewahan  dunia mulai meresap kedalam tirai-tirai jendela yang menhiasi rumah. Dan aroma kekayaan mulai masuk lewat celah celah pintu yang
menutupi rumah. Atas dasar itukah lantas dinamakan kebahagiaan?

Sekali kali tidak wahai ikhwah.. kalau begitu betapa banyak rumah reot yang penghuninya adalah pengeluh kesah. Kalau begitu betapa banyak penghuni rumah yang hanya bertatahkan ranting-ranting beserta dedaunannya adalah peresah lagi penggalau karena tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Kalau begitu betapa banyak penghuni rumah yang berlapiskan semen beserta keramiknya berupa seseorang yang pemurung dan pelamun. Kalau begitu.. kalau begitu… Dan kalau begitu..


Akankah engkau menjadikan tembok rumah rumahmu berupa tembok kesengsaraan yang begitu tebal? Atau sebaliknya.. Akankah engkau jadikan ia berupa tembok ketenangan yang begitu tebal dan menjulang tinggi? Pastilah semua orang akan menjawab dan memilih pilihan yang kedua. Namun masih ada saja segelintiran manusia yang enggan untuk melakukan konsekuensi pilihan yang ia pilih.

Ingatlah wahai ikhwah, tembok kebahagiaan rumahmu akan terwujud jika engkau telah berusaha untuk membangun tembok kebahagiaan liang lahadmu. Yang bermakna, engkau akan mendapatkan kebahagiaan dunia ika engkau telah melakukan sebab sebab kebahagiaanmu di akhirat.

Ingatlah jabatanmu adalah jabatanmu di dunia,bukan jabatanmu di akhirat. Ingatlah hartamu adalah hartamu di dunia, bukan hartamu di akhirat. Ingatlah kekayaanmu adalah kekayaanmu di dunia bukan kekayaanmu di akhirat. Dan ingatlah amalanmu adalah kepeilkan dan kepunyaanmu didunia begitupula di akhirat. Maka berbuat baiklah dengan jabatan, harta, dan kekayaan yang engkau miliki. Maka engkau akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah berfirman:
يوم لا ينفع مل و لا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم
“Pada suatu hari (akhirat) yang mana tidak akan bermanfaat harta maupun anak kecuali orang yang dating kepada Allah dengan hati yang selamat” (Ash shu’ara: 88)

Kebahagiaan hanya berada dilubuk hatimu yang dalam wahai saudaraku.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top