0


Akhir-akhir ini semakin
marak dan tersebar dakwah
sunnah di tanah air –
dengan semata-mata
karunia dan anugrah Allah-,
terlebih-lebih dengan
kemudahan menangkap
siaran Radio Rodja dan

RodjaTV di seantero tanah
air. Kita hanya bisa memuji
Allah atas segalanya…sama
sekali tidak ada andil kita dalam tersebarnya dakwah Sunnah…semuanya
dari Allah…lisan dan kata-kata tidak mampu untuk mengungkapkan
kegembiraan di hati sebagian orang atas masuknya dakwah sunnah sampai
di daerah-daerah terpencil. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya
mendengar kegembiraan salah seorang mahasiswa Universitas Islam
Madinah yang berasal dari Sulawesi Utara, yang menceritakan bahwa
masyarakat di kampung kelahirannya sangat jauh dari agama. Jika ia
pulang kampung dan hendak sholat di masjid kampung, maka ia harus
membersihkan terlebih dahulu mesjid yang kotor dan penuh dengan kotoran
kambing-kambing yang masuk ke dalam masjid. Masjid ditinggalkan
masyarakat. Diapun yang mengumandangkan adzan, lalu yang
mengumandangkan iqomat, dan dia hanya bisa sholat sendirian tanpa
jama'ah. Dialah sang muadzin, sang imam, dan sang makmum??!!
Kepulangan terakhirnya di kampungnya membahwa kebahagiaan tersendiri,
tatkala ia melihat masyarakat di kampungnya ternyata menonton RodjaTV…
ternyata masjid mulai terisi menjadi bersaf-saf…sungguh kegembiraan yang
sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.
Kisah-kisah yang seperti ini banyak, diantaranya kisah seorang preman
yang bertaubat karena Rodja TV, silahkan lihat http://
edukasi.kompasiana.com/2012/10/24/preman-yang-taubat-nasuha-
karena-stasiun-tv-498065.html , demikian juga pengakuan seorang dai, Al-
Ustadz Ja'far Sholeh hafizohullah yang menyebutkan bahwa bibinya
mengenal sunnah karena radio rodja. Beliau berkata : "Rodja besar sekali
manfaatnya, khususnya di jabotabek dan sekitarnya, menembus setiap
lapisan dari tukang ojek sampe istri pejabat, bibi ana juga dapat hidayah
melalui Rodja. Jazahumullahukhairan" (lihat : http://www.facebook.com/
siregardiapari/posts/135740426439096 ). Demikian pula saya sendiri pernah
bertemu dengan seorang bekas pemain sinetron yang sadar karena Radio
rodja. Saya juga bertemu dengan seorang sutradara yanga sadar, bahkan
saya juga mengenal bos para preman di salah satu daerah Jadebotabek
yang sadar karena Radio Rodja, bahkan –alhamdulillah- sekarang menjadi
donatur tetap dakwah. Seseorang tatkala mendengar kisah-kisah yang
seperti ini… …maka ia hanya bisa meneteskan air mata kegembiraan.
Tentu…RodjaTV atau Radio rodja hanyalah sebab…Allahlah yang membuka
hati-hati mereka....
Namun akhir-akhir ini pula mulai muncul pernyataan-pernyataan kebencian
terhadap RodjaTV dan Radio Rodja…
Jikalau para ahlul bid'ah semakin menunjukkan ketidaksukaannya dan
kebencian bahkan permusuhan mereka -dan apa yang tersimpan dalam
hati-hati mereka mungkin lebih parah-, maka ini adalah hal yang biasa
dalam medan dakwah.
Akan tetapi yang menyedihkan jika kebencian dan permusuhan tersebut
muncul dari sebagian dai yang dikenal sebagai dai ahlus sunnah ??!!!

Bahkan para ahlul bid'ah dengan serta merta segera mengupload bantahan
dan tahdziran para da'i ahlus sunnah terhadap Rodja TV, perkataan para
dai tersebut dijadikan dalil dan hujjah oleh musuh-musuh sunnah !!!
Kita hanya bisa menarik nafas panjang dan mengucapkan inna lillahi wa
inna ilaihi rooji'uun…sungguh suatu musibah.
Sebelum saya lanjutkan, demi Allah tulisan ini bukan semata-mata untuk
membela radio dan tv rodja, tetapi membela apa yang di dakwahkan oleh
radio dan tv rodja dan yang semisal dengannya, yaitu berupa ajakan
kepada mentauhidkan Allah Ta’ala, mendekatkan dengan sunnah Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjauhkan kaum muslim dari
kesyirikan dan bid’ah
Diantara alasan/hujjah para sahabat kita yang mentahdzir Radio/TV Rodja
adalah :
PERTAMA : Alasan/hujjah yang menarik dan sepertinya meyakinkan, akan
tetapi sesungguhnya merupakan dalil yang sangat aneh.
Dalil tersebut adalah bahwasanya Radiorodja itu jangan cuma bisa
menyampaikan rojaa' (harapan) saja, akan tetapi harus diseimbangkan
dengan khouf (rasa takut), karena dakwah dan Islam itu dibangun diatas
roja' dan khouf. Silahkan dengar di
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or
above) is required to play this audio clip.
Download the latest version here . You also need
to have JavaScript enabled in your browser.
Powered by RapidPlugins
Ini tentunya dalil sangat lucu, bisa ditinjau dari dua perkara :
Pertama : Rodja itu artinya bukan artinya rojaa' (berharap) akan tetapi
singkatan dari R adi O D akwah ahlus sunnah wal JA maa'ah. Karenanya saya
berhusnudzon bahwa sang ustadz yang berfatwa tentang sesatnya
Radiorodja dan bahwasanya para pengisi di Radiorodja adalah para ahlul
bid'ah, sang ustadz tersebut sedang bercanda. Tapi anehnya juga ia
menukil fatwanya ini dari seorang Syaikh di Madinah. Tentu hal ini sangat
aneh luar biasa.
Kedua : Tentunya kaidah yang terkenal bahwasanya yang menjadi penilaian
bukanlah nama akan tetapi hakekat sesuatu. Riba dinamakan bunga atau
faidah, akan tetapi nama tersebut tidak merubah hakekatnya sebagai riba
yang merupakan dosa besar.
Demikian pula halnya, jika memang Radio Rodja artinya adalah Radio
"Harapan", maka tentunya kalau seseorang hendak menyesatkan radio ini
maka ia harus mengetahui hakekat radio ini, apa yang didakwahkan oleh
radio ini. Jangan hanya menilai dari namanya saja. Apakah Radiorodja
hanya mendakwahkan rojaa' (harapan) saja???.
Jika penilaian hanya berdasarkan nama, maka semua lembaga/yayasan/
pondok, dll yang namanya "Rojaa", atau "Rahmat", atau "Bisyaaroh" dan
nama-nama yang sejenis ini, akan dikatakan lembaga murji'ah !!!
KEDUA : Larangan Dai Untuk Muncul Di TV, karena video hukumnya haram
Permasalahan haram dan tidaknya video adalah permasalahan
khilafiyah. Dan kita sekarang tidak sedang membahas tentang khilaf ulama
tentang permasalahan ini. Akan tetapi barang siapa yang mengharamkan
rekaman video maka silahkan dia tidak berdakwah melalui sarana televisi.
Akan tetapi hendaknya dia sadar bahwasanya banyak para ulama yang
telah meninggal ataupun yang masih hidup saat ini yang membolehkan
berdakwah di televisi bahkan memotivasi hal ini.
Sebuah pertanyaan pernah ditujukan kepada Syaikh Bin Baaz rahimahullah:
ﺍﻻﺳﺘﻔﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﻭﺳﺎﺋﻞ ﺍﻹﻋﻼﻡ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﺔ ﻭﺑﺨﺎﺻﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻓﻴﻬﺎ ﺻﻮﺭ ﺍﻻﺳﺘﻔﺎﺩﺓ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻲ
ﻣﺠﺎﻝ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺘﺤﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺨﺪﺍﻣﻬﺎ ﻓﻬﻞ ﻟﻜﻢ ﺭﺃﻱ ﻓﻲ
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻉ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻣﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ؟
"Banyak dari ulama yang berat untuk memanfaatkan sarana-sarana
komunikasi modern, khususnya yang ada video-video, bila dimanfaatkan
untuk lahan-lahan dakwah kepada Allah. Lalu bagaimana pendapat Anda
tentang permasalahan ini, yang di zaman kita sekarang ini dipandang
penting?
ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ :
ﻧﻌﻢ ﻫﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﻳﺘﺤﺮﺝ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻟﺘﺼﻮﻳﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻜﻮﻥ ﻷﺟﻞ ﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻛﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ﻭﻣﻦ
ﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ﻭﻫﺬﺍ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﺑﺤﺴﺐ ﻣﺎ ﺃﻋﻄﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻹﺩﺭﺍﻙ
ﻭﺍﻟﺒﺼﻴﺮﺓ ﻭﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻮﺍﻗﺐ .
ﻓﻤﻦ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﺪﺭﻩ ﻟﺬﻟﻚ ﻭﺍﺗﺴﻊ ﺃﻓﻖ ﻋﻠﻤﻪ ﻟﻴﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ﻭﻳﺒﻠﻎ ﺭﺳﺎﻻﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻠﻪ
ﺃﺟﺮﻩ ﻭﻟﻪ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣﻦ ﺍﺷﺘﺒﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﻣﺮ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﺸﺮﺡ ﺻﺪﺭﻩ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﻨﺮﺟﻮ ﺃﻥ
ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻌﺬﻭﺭﺍً .
Benar, memang ada orang yang berat (memanfaatkan sarana-sarana
tersebut), karena adanya rekaman video yang harus ada untuk partisipasi di
televisi, dan menyebarkan ilmu dengan televisi. Hukum masalah ini akan
berbeda (antara orang yang satu dengan yang lainnya), berdasarkan ilmu
dan pandangan yang diberikan oleh Allah kepada masing-masing, serta
pandangannya terhadap efek yang ditimbulkannya.
Barang siapa yang Allah lapangkan dadanya untuk ikut partisipasi, dan luas
cakrawala ilmunya untuk berdakwah di televisi dan menyampaikan risalah-
risalah Allah, maka baginya pahala dan ganjaran di sisi Allah. Namun bagi
orang yang melihat perkara itu masih syubhat dan dadanya tidak lapang
untuk berpartisipasi di televisi, maka kami harap ia mendapat udzur"
(Lihat kitab Liqoo'aatii ma'a as-Syaikhoini, karya Prof DR Abdullah bin
Muhammad At-Thoyyaar, Terbitan Maktabah Ar-Rusyd, al-Qism al-Awwal,
hal 80-81, Liqoo ke 11, pertanyaan ke 3)
Bahkan Syaikh Bin Baaz yang memotivasi untuk berdakwah di TV.
Beliau pernah ditanya :
ﻣﺎ ﻫﻲ ﺍﻟﻄﺮﻕ ﺍﻟﻨﺎﺟﺤﺔ ﻟﺪﻳﻜﻢ ﻟﻠﻘﻴﺎﻡ ﺑﺎﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﺼﺮ؟
"Apakah metode-metode yang berhasil -menurut Anda-, untuk menegakkan
dakwah ke jalan Allah di zaman sekarang ini?"
Beliau –rahimahullah- menjawab :
ﺃﻧﺠﺢ ﺍﻟﻄﺮﻕ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﻭﺃﻧﻔﻌﻬﺎ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﻭﺳﺎﺋﻞ ﺍﻹﻋﻼﻡ، ﻷﻧﻬﺎ ﻧﺎﺟﺤﺔ ﻭﻫﻲ ﺳﻼﺡ
ﺫﻭ ﺣﺪﻳﻦ . ﻓﺈﺫﺍ ﺍﺳﺘﻌﻤﻠﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ
ﺟﺎﺀ ﺑﻪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻹﺫﺍﻋﺔ ﻭﺍﻟﺼﺤﺎﻓﺔ ﻭﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ﻓﻬﺬﺍ
ﺷﻲﺀ ﻛﺒﻴﺮ ﻳﻨﻔﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺍﻷﻣﺔ ﺃﻳﻨﻤﺎ ﻛﺎﻧﺖ، ﻭﻳﻨﻔﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺃﻳﻀﺎً ﺣﺘﻰ
ﻳﻔﻬﻤﻮﺍ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺣﺘﻰ ﻳﻌﻘﻠﻮﻩ ﻭﻳﻌﺮﻓﻮﺍ ﻣﺤﺎﺳﻨﻪ ﻭﻳﻌﺮﻓﻮﺍ ﺃﻧﻪ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺡ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ
ﻭﺍﻵﺧﺮﺓ .
"Metode yang paling berhasil dan paling bermanfaat adalah memanfaatkan
sarana-sarana komunikasi, karena sarana-sarana tersebut sukses, dan ia
adalah senjata yang memiliki dua mata. Jika sarana-sarana tersebut
digunakan untuk berdakwah di jalan Allah dan untuk mengarahkan
masyarakat kepada ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, baik
melalui radio, koran-koran, dan televisi, maka ini merupakan perkara agung
yang Allah jadikan bermanfaat bagi umat ini dimanapun mereka berada.
(Bahkan) ia akan memberi manfaat kepada orang-orang non muslim, untuk
memahami Agama Islam, memikirkannya, mengetahui keindahan-
keindahannya, dan bahwa Islam adalah jalan keselamatan di dunia dan
akhirat.
ﻭﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺓ ﻭﻋﻠﻰ ﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺴﺎﻫﻤﻮﺍ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻄﻴﻌﻮﻥ،
ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻹﺫﺍﻋﺔ، ﻭﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺼﺤﺎﻓﺔ، ﻭﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ﻭﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺨﻄﺎﺑﺔ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﺤﺎﻓﻞ، ﻭﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺨﻄﺎﺑﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﻏﻴﺮ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ، ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺮﻕ ﺍﻟﺘﻲ
ﻳﻤﻜﻦ ﺇﻳﺼﺎﻝ ﺍﻟﺤﻖ ﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺑﺠﻤﻴﻊ ﺍﻟﻠﻐﺎﺕ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﻤﻠﺔ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﻞ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ
ﻭﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ ﺇﻟﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺑﻠﻐﺎﺗﻬﻢ .
Dan wajib bagi para da'i dan para penguasa kaum muslimin untuk
berpartisipasi dalam hal ini dengan seluruh kemampuan mereka, baik
melalui sarana radio, koran-koran, dan televisi, serta melalui ceramah-
ceramah, baik di acara-acara pertemuan, khutbah jum'at, maupun
ceramah di selain khutbah jum'at.
Demikian juga metode-metode lainnya yang dapat menyampaikan
kebenaran kepada seluruh umat, dan dengan semua bahasa yang
digunakan, agar dakwah dan nasehat bisa sampai ke seluruh dunia dengan
bahasa-bahasa mereka" (silahkan lihat : http://www.binbaz.org.sa/
mat/1678 )
Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani berkata :
ﺍﻟﺘﻠﻔﺰﻳﻮﻥ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻻ ﺷﻚ ﺃﻧﻪ ﺣﺮﺍﻡ، ﻷﻥ ﺍﻟﺘﻠﻔﺰﻳﻮﻥ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﺍﺩﻳﻮ ﻭﺍﻟﻤﺴﺠﻞ، ﻫﺬﻩ ﻛﻐﻴﺮﻫﺎ
ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﺣﺎﻁ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻬﺎ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ : }ﻭﺇﻥ ﺗﻌﺪﻭﺍ ﻧﻌﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﺗﺤﺼﻮﻫﺎ{ ،
ﻓﺎﻟﺴﻤﻊ ﻧﻌﻤﺔ ﻭﺍﻟﺒﺼﺮ ﻧﻌﻤﺔ ﻭﺍﻟﺸﻔﺘﺎﻥ ﻧﻌﻤﺔ ﻭﺍﻟﻠﺴﺎﻥ، ﻭﻟﻜﻦ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﺗﺼﺒﺢ
ﻧﻘﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﺤﺎﺑﻬﺎ ﻷﻧﻬﻢ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻮﻫﺎ ﻓﻴﻤﺎ ﺃﺣﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻮﻫﺎ؛ ﻓﺎﻟﺮﺍﺩﻳﻮ
ﻭﺍﻟﺘﻠﻔﺰﻳﻮﻥ ﻭﺍﻟﻤﺴﺠﻞ ﺃﻋﺘﺒﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﻟﻜﻦ ﻣﺘﻰ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻌﻢ؟ ﺣﻴﻨﻤﺎ ﺗﻮﺟﻪ
ﺍﻟﻮﺟﻬﺔ ﺍﻟﻨﺎﻓﻌﺔ ﻟﻸﻣﺔ .
ﺍﻟﺘﻠﻔﺰﻳﻮﻥ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺑﺎﻟﻤﺌﺔ ﺗﺴﻌﺔ ﻭﺗﺴﻌﻮﻥ ﻓﺴﻖ، ﺧﻼﻋﺔ، ﻓﺠﻮﺭ، ﺃﻏﺎﻧﻲ ﻣﺤﺮﻣﺔ، ﺇﻟﻰ
ﺁﺧﺮﻩ، ﺑﺎﻟﻤﺌﺔ ﻭﺍﺣﺪ ﻳﻌﺮﺽ ﺃﺷﻴﺎﺀ ﻗﺪ ﻳﺴﺘﻔﻴﺪ ﻣﻨﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ . ﻓﺎﻟﻌﺒﺮﺓ ﺑﺎﻟﻐﺎﻟﺐ،
ﻓﺤﻴﻨﻤﺎ ﺗﻮﺟﺪ ﺩﻭﻟﺔ ﻣﺴﻠﻤﺔ ﺣﻘﺎ ﻭﺗﻀﻊ ﻣﻨﺎﻫﺞ ﻋﻠﻤﻴﺔ ﻣﻔﻴﺪﺓ ﻟﻸﻣﺔ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻻ ﺃﻗﻮﻝ :
ﺍﻟﺘﻠﻔﺰﻳﻮﻥ ﺟﺎﺋﺰ، ﺑﻞ ﺃﻗﻮﻝ ﻭﺍﺟﺐ .
Jawaban beliau , “Tidaklah diragukan bahwa hukum menonton televisi pada
masa kini adalah haram . Televisi itu seperti radio dan tape recorder.
Benda-benda ini dan yang lainnya adalah di antara limpahan nikmat Allah
kepada para hamba-Nya.
Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Dan jika kalian menghitung nikmat
Allah niscaya kalian tidak bisa menghitungnya”
Pendengaran adalah nikmat Allah. Penglihatan juga merupakan nikmat. Dua
bibir dan lidah juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang
menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut
karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah
inginkan.
Radio, televisi dan tape recorder adalah nikmat ketika dipergunakan untuk
perkara yang mendatangkan nikmat bagi umat. Isi televisi pada masa kini
99 persen adalah kefasikan, pornografi atau porno aksi, kemaksiatan,
nyanyian yang haram dan seterusnya.
Sedangkan hanya 1% saja dari tontonannya yang bisa diambil manfaatnya
oleh sebagian orang. Sedangkan kaedah mengatakan bahwa nilai sesuatu
itu berdasarkan unsur dominan dalam sesuatu tersebut.
Ketika ada negara Islam yang sesunggunnya lalu negara membuat program
acara TV yang ilmiah dan bermanfaat bagi umat maka –pada saat itu-
kami tidak hanya mengatakan bahwa hukum menonton TV adalah boleh
bahkan akan kami katakan bahwa menonton TV hukumnya wajib " (Silahkan
lihat : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=37470 )
Beliau rahimahullah juga berkata :
ﻟﻮ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﺎﺋﻤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ﻻ ﻳُﺨﺮﺟﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﺠﺎﺋﺰ ﺷﺮﻋﺎً ﻓﻼ ﺃﺭﻯ ﺑﺄﺳﺎً ﺑﺠﻮﺍﺯ
ﺇﺩﺧﺎﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ
"Kalau seandainya pengurus televisi tidak menayangkan kecuali program
yang dibolehkan oleh syari'at maka aku memandang tidak mengapa untuk
memasukan televisi di rumah-rumah" (Lihat kitab Al-Imam Al-Albaani,
duruus wa mawaaqif wa 'ibar, karya DR Abdul Aziz As-Sadhaan, hal 108,
Daar At-Tauhid, kitabnya bisa didownload di disini )
Para ulama kibar yang masih hidup sekarangpun banyak yang berdakwah
melalui sarana televisi. Diantaranya adalah Mufti Kerajaan Arab Saudi,
Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh hafizohulloh, beliau berdakwah di TV, dan
bisa di searching di youtube. (Diantaranya di http://www.youtube.com/
watch?v=hzFWY7XGP-k ),
Syaikh Al-'Allaamah Sholeh Al-Fauzaan hafizohulloh, beliau juga berdakwah
di TV, diantaranya silahkan lihat di
http://www.youtube.com/watch?v=V2mQv_2HdgU , lihat juga https://
www.youtube.com/watch?v=vyRVoc1nyRM , lihat juga https://
www.youtube.com/watch?v=QQtswcNhEas, dan masih banyak lagi,
silahkan searching di youtube)
KETIGA : Radio rodja atau Rodja TV dipegang oleh para dai At-Turootsi.
Dalam alasan ini, akan banyak pertanyaan yang timbul:
Apakah maksudnya
(1) para dai yang mengisi di radio rodja menerima bantuan dari Yayasan
Ihyaa' At-Turoots??, atau maksudnya
(2) para dai At-Turoots berada di atas manhaj Ihyaa At-Turoots?, ataukah
maksudnya
(3) para dai tersebut tidak menyatakan bahwa yayasan Ihyaa At-Turoots
sebagai yayasan bid'ah?, ataukah maksudnya
(4) para dai tersebut tidak membid'ahkan orang-orang yang menerima
bantuan dari yayasan Ihyaa At-Turoots??
Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang
lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi
permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena
inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan
Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan
dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama
sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM , yaitu
barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika
kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka
apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi? ,inilah
permasalahannya.!!. lantas apakah orang yang tidak mengambil dana akan
tetapi tidak mentahdzir orang yang mengambil dana juga dihukumi dengan
hukum yang sama yaitu sururi??!! Inilah permasalahan kita, tahdzir gaya
MLM yang telah dilakukan oleh saudara-saudara kita…)) silahkan baca
kembali ( Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) Terhadap Ahlul Bid'ah (Seri
6): Tahdziir dan Tabdii' Berantai Ala MLM (Awas Sururi!! ) )
Saya juga telah berkata ((Diantara mereka ada yang memvonis saudaranya
Sururi, namun tatkala ditanya apakah yang dimaksud dengan Sururiyyah?
Bagaimana ciri-cirinya? Maka ia terdiam seribu bahasa; atau ia berkata,
“Pokoknya ia adalah Sururi sebagaimana kata ustadz Fulan….” Subhanallah,
apakah demikian sikap seorang Ahlus Sunnah dalam membid’ahkan
saudaranya tanpa dalil dan bayyinah? Hanya dengan taqlid buta? Bukankah
kita mengenal manhaj Salaf karena lari dari taqlid? Lantas kenapa tatkala
kita mengenal manhaj Salaf justru mempraktekan taqlid buta? Kalau taqlid
dalam perkara hukum yang berkaitan dengan diri sendiri maka perkaranya
masih ringan, namun taqlid dalam memvonis dan men-tabdi' orang lain,
sementara terdapat hukum-hukum yang berat yang dibangun di balik vonis
tersebut, maka perkaranya adalah besar. Apakah yang akan ia katakan di
Akhirat kelak jika dimintai pertanggung jawaban oleh Allah? Bagaimana
mungkin seseorang memvonis orang lain dengan perkataan yang ia sendiri
tidak paham maknanya? Pantaskah seseorang mengatakan orang lain
sebagai musyrik jika ia sendiri tidak memahami makna syirik? Pantaskah
seseorang mengatakan saudaranya ahli bid'ah, sementara ia sendiri tidak
paham makna bid’ah? Dikhawatirkan justru dialah yang merupakan ahli
bid'ah dengan pembid'ahan ngawur yang dilakukannya. Pantaskah
seseorang mengatakan saudaranya Sururi, padahal ia tidak paham makna
Sururiyyah? Jangan-jangan ia sendiri yang terjatuh dalam praktek
Sururiyyah sedangkan ia tidak menyadarinya. Yang sangat disesalkan
demikianlah kenyataannya, ternyata sebagian mereka justru terjatuh dalam
praktek Sururiyyah, seperti melakukan demonstrasi –yang mereka namakan
"menampakkan kekuatan", tetapi substansinya sama saja-, mencela
pemerintah di hadapan khalayak, dan lain-lain yang merupakan ciri-ciri
Sururiyyah.)), silahkan baca di ( Muwaazanah… Suatu Yang Merupakan
Keharusan…? Iya, Dalam Menghukumi Seseorang Bukan Dalam
Mentahdzir !! )
Yang menyedihkan adalah sebagian mereka tidak malu-malu untuk
berdusta, diantara tuduhan yang tersebar tentang radio rodja dan para
dainya :
- Radio rodja dibiyai oleh hizbiyun.
- Radio rodja dibiyai oleh yayasan Ihyaa At-Turoots
- Para dai di Radio rodja setiap bulannya menerima gaji dari luar
negeri
Sungguh tuduhan-tuduhan tanpa bukti….kedustaan yang sangat memalukan
yang muncul dari sebagian saudara-saudara kita.
Sebagian saudara-saudara kita yang mulia dengan mudahnya menjatuhkan
Radio rodja dengan perkataan yang singkat tapi sangat pedas.
Diantaranya perkataan al-Ustadz Al-Faadil Dzulqornain hafizohulloh.
Tentunya kami sangatlah gembira tatkala melihat perubahan Al-Ustadz
Dzulqornain semenjak kepulangan beliau dari Arab Saudi, setelah menimba
ilmu dari Al-'Allaamah Syaikh Sholeh Al-Fauzan, dimana al-Ustadz lebih
banyak menjauh dari permasalahan-permasalahan tahdzir-tahdziran. Akan
tetapi akhir-akhir ini –yang sangat menyedihkan- yaitu kami dikagetkan
dengan pernyataan-pernyataan beliau yang cukup keras. Entah apa sebab
yang menjadikan beliau hafizohulloh keras kembali?
Berikut pertanyaan yang ditujukan kepada beliau dan jawaban beliau
hafizohulloh.
Tanya:
Bolehkah kita mendengarkan Radio atau melihat TV Rodja, yang mana
mereka berdakwah mirip atau sama dengan Ahlussunnah??
Jawab:
"Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena
adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar,
dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar
agama sudah sangat banyak dimasa ini"
Silahkan dengar file suaranya di
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or
above) is required to play this audio clip.
Download the latest version here . You also need
to have JavaScript enabled in your browser.
Powered by RapidPlugins
Tentunya kita ingin mengetahui perincian dari sang ustadz,
Pertama : Siapa saja dai-dai yang menyimpang tersebut dan apa saja
penyimpangan mereka?
Kedua : Siapa saja dai-dai yang tidak jelas manhajnya, dan apakah sebab
ketidak jelasannya?
Sang al-Ustadz al-Faadhil Hafizohulloh juga berfatwa tentang Yayasan
Ihyaa At-Turoots. Berikut pertanyaan dan jawaban :
Tanya:
Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi
dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari
mereka?
Jawab:
"Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid'ah atau orang-orang yang
mendukung at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai
yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang
mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang
tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul
Bid'ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot
ahlul bid'ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja
ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang
lain dianggap bagus.
Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang,
semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para
ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah,
ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan
dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya"
Silahkan dengar file suaranya di :
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or
above) is required to play this audio clip.
Download the latest version here . You also need
to have JavaScript enabled in your browser.
Powered by RapidPlugins
Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah
tersohor, yaitu majalah "Pengusaha Muslim". Apakah majalah tersebut
dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan
nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan
Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang
pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga
Allah menjaga keikhlasannya-
Sebuah pertanyaan pantas untuk diajukan kepada sang al-Ustadz al-
Faadhil, bahwa para penyaji materi di majalah ini adalah para ahul
bid'ah??, dimanakah letak bid'ah mereka??, sungguh berbahayakah
menimba ilmu dari mereka??
Bukankah al-Ustadz Al-Fadil Dzulqornain hafizohulloh juga mengajarkan
buku ahlul bid'ah?. Beliau telah mengajarkan buku al-waroqoot karya
Imamul Haramain Abul Ma’ali Al Juwaini. Padahal kita tahu bersama
bahwasanya Al-Juwaini adalah salah seorang ulama besar madzhab
Asyaa'iroh !!!
(lihat di http://aboeshafiyyah.wordpress.com/2012/11/21/rekaman-kitab-
al-qawaidul-kulliyyah-dan-kitab-al-waraqat-al-ustadz-dzulqarnain/)
Untuk menjawab fatwa al-Ustadz al-Faadil hafizohulloh maka cukup saya
menukil fatwa dari guru beliau Al-'Allamah Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzaan
hafizohulloh (anggota Kibar Ulama/Ulama Besar Arab saudi dan juga
anggota al-Lajnah ad-Daimah/dewan komite fatwa Arab Saudi), yang
kebetulan saya bersama teman saya Doktor Hasan Ali dari Somalia sempat
mengunjungi beliau di Daarul Iftaa' pada hari Senin 4 Februari 2013.
Berikut Transkrip tanya jawab antara kami dan Syaikh hafizohulloh:
Fatwa Syaikh Sholeh Al-Fauzaan hafizohulloh
ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﺣﺴﻦ: ﺍﻟﻤﺸﻜﻠﺔ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻫﻨﺎﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ -ﺍﻟﺼﻮﻣﺎﻝ - ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺗﺴﻤﺖ
ﺑﺎﻻﻋﺘﺼﺎﻡ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﻘﺎﺋﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﻃﻼﺏ ﺍﻟﺠﺎﻣﻌﺔ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ، ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ
ﻣﻦ ﺟﺎﻣﻌﺔ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻳﻨﺸﺮﻭﻥ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻭﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ﻟﻜﻦ ﻳﺤﺼﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﺣﻴﺎﻧﺎً ﺍﻟﺘﻌﺼﺐ
ﻟﺠﻤﺎﻋﺘﻬﻢ ﻭﻛﺬﺍ . ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﻞ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺁﺧﺮﻯ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻧﺤﻦ ﺿﺪ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺎﺕ
ﻭﺍﻟﺤﺰﺑﻴﺎﺕ ﻭﻳﺸﺪﺩﻭﻥ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻳﺒﺪﻋﻮﻧﻬﻢ ﺑﻞ ﻭﻳﺒﺪﻋﻮﻧﻨﺎ ﻧﺤﻦ ﻟﻤﺎﺫﺍ ﺗﺘﻌﺎﻣﻠﻮﻥ ﻣﻌﻬﻢ !!!
Penanya (DR Hasan Somali) : "Syaikhuna, yang menjadi permasalahan
pada kami, adalah di negeri kami -Somalia- ada sebuah jama'ah yang
bernama 'Jamaa'ah Al-I'tishoom bil Kitaab was Sunnah'. Yang menjalankan
jama'ah tersebut adalah para mahasiswa lulusan Universitas Islam
Madinah, dan sebagiannya lagi lulusan Universitas Al-Imaam Muhammad
bin Su'ud.
Jama'ah ini menyebarkan Sunnah dan Tauhid, hanya saja terkadang timbul
dari mereka fanatik terhadap jama'ahnya. Selain mereka ada jama'ah lain
yang mengatakan bahwa kami berlawanan dengan jama'ah-jama'ah dan
kelompok-kelompok ini, mereka bersikap keras terhadap jama'ah (yang
pertama) dan membid'ahkan mereka, bahkan mereka membid'ah kami,
kenapa?, karena kami bermu'amalah dengan mereka (yakni 'Jamaa'ah Al-
I'tishoom bil Kitaab was Sunnah')"
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ: ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻵﻓﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ
Syaikh Soleh al-Fauzaan berkata : "Ini adalah penyakit yang ada diantara
kaum muslimin "
ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﺣﺴﻦ : ﻓﻤﺎ ﻣﻮﻗﻔﻨﺎ ﻧﺤﻦ ﻛﻄﻼﺏ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﻧﺰﻟﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﺎﺣﺔ؟ .
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺍﻟﻤﻮﻗﻒ ﻫﻮ ﺍﻹﺻﻼﺡ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ . ﻭَﺇِﻥْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺘَﺎﻥِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺍﻗْﺘَﺘَﻠُﻮﺍ
ﻓَﺄَﺻْﻠِﺤُﻮﺍ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ، ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺍﻹﺻﻼﺡ، ﻧﺤﻦ ﻛﻠﻨﺎ ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ ﻭﻛﻠﻨﺎ ﻫﺪﻓﻨﺎ ﻭﺍﺣﺪ ﻓﻠﻤﺎﺫﺍ ﻳﻌﻨﻲ
ﺍﻻﺧﺘﻼﻑ, ﻭﻋﺪﻭﻧﺎ ﻣﺘﻔﻖ ﺍﻵﻥ ﺧﻠﻮﻧﺎ ﻧﺠﺘﻤﻊ، ﺧﻠﻮﻧﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ .
Hasan : "Bagaimana sebaiknya sikap kami -sebagai penuntut ilmu-, jika
kami terjun ke medan dakwah?
Syaikh berkata : "Sikap kalian adalah ishlaah (mendamaikan) diantara
Kaum Muslimin. Allah berfirman (yang artinya):
"Jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah
kamu damaikan antara keduanya" . (QS Al-Hujuroot : 9)
Bagaimanapun juga (pilih jalan) perdamaian, kita semua adalah muslim,
kita semua tujuannya sama, lantas mengapa kita berselisih? Sementara
musuh-musuh kita sekarang bersatu?, Hendaknya kita bersatu, hendaknya
kita di atas al-Qur'an dan as-Sunnah !!
ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﺣﺴﻦ : ﻫﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﺲ ﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﺍﻵﻥ ﺍﻟﻮﺣﻴﺪ ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ
ﺇﻧﺸﺎﺀ - ﻣﺜﻼً- ﺟﻤﺎﻋﺔ, ﺗﺄﺳﻴﺲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﺜﻼ ﺗﺪﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ
ﻫﻨﺎﻙ ﺩﻭﻟﺔ ﺃﻭ ﺣﺎﻛﻢ ﻳﻬﺘﻢ ﺑﻬﺬﺍ ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻫﺬﺍ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺣﺴﺐ ﺍﻻﺳﺘﻄﺎﻋﺔ . ﻭﻟﻜﻦ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻗﻠﺖ، ﺗﺮﻯ ﺍﻟﺘﺨﺎﺫﻝ ﻭﺍﻻﻧﻘﺴﺎﻡ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻔﺮﺡ
ﺍﻟﻌﺪﻭ, ﺍﺳﻌﻮﺍ ﺑﺎﻻﺻﻼﺡ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻧﺤﻦ ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ،
ﺃﺻﻠﺤﻮﺍ ﺑﻴﻨﻜﻢ ﺧﻠﻮﻛﻢ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ، ﻭﺗﻌﺎﻭﻧﻮﺍ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻜﻢ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺩﻭﺭﺍ ﻓﻲ
ﺑﻠﺪﻛﻢ.
Hasan : "Mereka (Jama'ah al-I'tishoom) juga berpegang dengan Qur'an dan
Sunnah, hanya saja satu-satunya perselisihan yang ada sekarang adalah
"Apakah boleh mendirikan -misalnya- sebuah jama'ah yang menyeru
kepada Qur'an dan Sunnah? Karena negara atau penguasa tidak
memperhatikan urusan ini, apakah boleh (mendirikan jama'ah)?
Syaikh menjawab : "Itu sesuai kemampuan. Yang jelas sebagaimana yang
aku katakan, kamu melihat sendiri adanya sikap saling meninggalkan dan
berpecah belah, itulah yang membuat musuh gembira. Berusahalah untuk
mendamaikan Kaum Muslimin, yakni mereka yang mengatakan kami
muslim. Hendaknya kalian menjadi jama'ah yang satu, saling bekerja
samalah kalian! Insyaa Allah hal ini akan menjadikan kalian bermanfaat
bagi negeri kalian".
ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﺣﺴﻦ : ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻳﺎ ﺷﻴﺦ ﻫﻞ ﺑﻴﺪﻉ ﻛﻮﻧﻬﻢ ﺃﺳﺴﻮﺍ ﺟﻤﺎﻋﺔ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺑﻴﻨﻮﺍ ﻟﻬﻢ ﺑﻴﻨﻮﺍ ﻟﻬﻢ ) ﻛﻠﻤﺔ ﻏﻴﺮ ﻭﺍﺿﺤﺔ ( ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻳﺼﻠﺢ ﺍﻟﺘﺒﺪﻳﻊ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﻖ
ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻳﺼﻠﺢ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﻛﻠﻨﺎ ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﻀﻨﺎ ﻋﻨﺪﻩ ﻗﺼﻮﺭ ﺃﻭ ﻋﻨﺪﻩ
ﺧﻄﺄ , ﻣﺎ ﻳﻤﻨﻊ ﺃﻧﻪ ﺃﺧﻮﻧﺎ ﻧﺘﻌﺎﻭﻥ ﻧﺤﻦ ﻭﺇﻳﺎﻩ .
Hasan : "Ya Syaikh, apakah Jama'ah seperti ini bisa dikatakan jama'ah
bid'ah, karena telah mendirikan jama'ah?"
Syaikh berkata: "Jelaskan kepada mereka… Jelaskan kepada mereka…
(kalimat tidak jelas)… Demi Allah, sikap tabdi' (membid'ahkan), dan tafsiiq
(memfasikkan), tidaklah pantas dilakukan diantara Kaum Muslimin. Kita
semua kaum muslimin, meskipun ada diantara kita yang memiliki
kekurangan, atau memiliki kesalahan, maka itu tidak menghalanginya
untuk tetap menjadi saudara kita, kita bisa bekerja sama dengan dia"
ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﺣﺴﻦ : ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻧﺘﻌﺎﻣﻞ ﻣﻌﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻣﺎ ﻫﻢ ﻣﺴﻠﻤﻴﻦ !! ؟
ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﺣﺴﻦ : ﻣﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻞ ﻳﻨﻘﻠﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻭﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ
ﻭﻛﺘﺐ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻭﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻳﺔ ﻭﺍﻟﻮﺍﺳﻄﻴﺔ.
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻟﺨﻴﺮ، ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻟﺤﻖ .
Hasan : "Bolehkan kita bekerja sama dengan mereka ('Jamaa'ah Al-
I'tishoom bil Kitaab was Sunnah') dalam rangka berdakwah di jalan Allah?"
Syaikh berkata: " Apakah mereka muslim? "
Hasan : "Mereka muslim, bahkan mereka biasa menukil dari Syaikh
Muhammad bin Abdil Wahhab dan Ibnu Taimiiyah, begitu pula dari buku-
buku aqidah, seperti At-Thohawiyah dan Al-Washithiyah"
Syaikh berkata : "Alhamdulillah mereka muslim, dan seorang muslim itu
menerima kebaikan dan menerima kebenaran"
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﺳﺆﺍﻝ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺈﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺎ، ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺍﻵﻥ ﻗﻨﺎﺗﺎﻥ ﺗﻠﻔﻴﺰﻳﻮﻧﻴﺔ ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎً، ﻳﺸﺎﺭﻙ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﺷﻴﺨﻲ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﺒﺪﺭ،
ﻳﻠﻘﻲ ﻓﻴﻬﺎ ﻛﻞ ﺍﻷﺳﺒﻮﻉ ﻣﺮﺗﻴﻦ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻳﺮﻭﺡ ﺇﻟﻰ ﺇﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺎ؟
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﺫﻫﺐ ﺇﻟﻰ ﺇﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺎ ﻣﺮﺗﻴﻦ، ﻭﻛﻨﺖ ﻣﺘﺮﺟﻤﺎ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺮﺓ
ﺍﻷﻭﻟﻰ، ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎ ﻣﺎﺋﺔ ﺃﻟﻒ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻳﻦ، ﻭﻟﻠﻤﺮﺓ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎً ﻣﺎﺋﺔ ﻭﺛﻼﺛﻴﻦ
ﺃﻟﻒ، ﻭﻫﺬﺍ ﺃﻛﺒﺮ ﺗﺠﻤﻊ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻟﻪ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﺩﻭﺍﺭ، ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺜﺮﺓ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ
ﺍﻵﻥ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ، ﻭﺍﻟﻘﻨﺎﺓ ﻟﻬﺎ ﺩﻭﺭ ﻛﺒﻴﺮ، ﻭﺗﺮﺟﻤﻨﺎ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﺜﻼً ﻓﺘﺎﻭﺍﻛﻢ
ﻭﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯ ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻌﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ .
Penanya (Firanda) : Pertanyaan berkaitan dengan Indonesia, Alhamdulillah
sekarang kami memiliki dua stasiun televisi yang berada di atas Sunnah,
sudah sekitar setahunan. Syaikh Abdur Rozzaq Al-Abbad Al-Badr -guru
saya- juga berpartisipasi dalam stasiun televisi tersebut, dan memberi
pengajian setiap pekan 2 kali.
Syaikh : Apakah syaikh Abdur Rozzaq selalu pergi ke Indonesia?
Firanda : Syaikh Abdur Rozzaq sudah dua kali pergi ke Indonesia, dan saya
yang menjadi penerjemahnya saat kepergiannya yang pertama, dan yang
hadir saat itu sekitar 100 ribu orang. Sedang pada kepergian beliau yang ke
dua, ada sekitar 130 ribu orang yang hadir. Dan ini merupakan
perkumpulan terbesar di mesjid ini, mesjid ini punya 5 lantai. Ini adalah
jumlah yang banyak, yang menunjukkan bahwa masyarakat sekarang
mengenal sunnah, Alhamdulillah. Dan stasiun TV ini punya andil yang besar
(dalam dakwah ini), kami terjemahkan fatwa-fatwa Anda, fatwa Syaikh Bin
Baaz, dan fatwa Syaikh Utsaimin –rahimahumulloh-.
ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻹﺷﻜﺎﻝ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺗﻌﺮﻑ ﺃﻥ ﺍﻹﺧﻮﺓ ﻛﻤﺎ ﺣﺼﻞ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻣﻜﺎﻥ ﻳﻨﻘﺴﻢ ﺇﻟﻰ ﻗﺴﻤﻴﻦ،
ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻳﺤﺬﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻫﺬﻩ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﻧﻔﺲ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ، ﻭﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﺎﺓ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ
ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ، ﻣﻊ ﺃﻥ ﻗﻠﻨﺎ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺍﻟﺮﺣﻴﻠﻲ ﺃﻳﻀﺎ ﻳﺸﺎﺭﻙ
ﺃﺣﻴﺎﻧﺎ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﻋﺎﻣﺮ؟
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻧﻌﻢ، ﺃﺣﻴﺎﻧﺎ ﻳﺸﺎﺭﻙ. ﺍﻟﻤﺸﻜﻠﺔ، ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦ ﺇﺧﻮﺍﻧﻨﺎ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ ﻭﻫﻮ ﻣﺸﻬﻮﺭ
ﺑﺄﻧﻪ ﻣﻦ ﻃﻼﺑﻚ ﺍﻟﺸﻴﺦ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻣﻦ ﻫﻮ؟
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻫﻮ ﺍﺳﻤﻪ ﺫﻭ ﺍﻟﻘﺮﻧﻴﻦ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻣﻌﺮﻭﻑ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻭﻫﻮ ﺭﺟﻞ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪﻩ ﻋﻠﻢ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺭﺟﻞ ﻃﻴﺐ
Akan tetapi yang menjadi permasalahan pada kami -sebagaimana Anda
tahu-; bahwasanya ikhwan sekalian -sebagaimana terjadi di seluruh
tempat- terpecah menjadi dua, dan sebagian mereka memperingatkan
(masyarakat) dari bahaya Stasiun TV tersebut.
Syaikh : Ini merupakan musibah .
Firanda : Ada yang menjelekan stasiun TV tersebut, dan ada yang
membicarakan (mentahdzir) para dai yang muncul di stasiun TV tersebut,
padahal sebagaimana yang kami katakan, dalam stasiun tersebut ikut serta
Syaikh Abdur Rozzaq, dan sesekali juga Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili.
Syaikh : Ibrahim bin 'Aamir?
Firanda : benar, sesekali beliau berpartisipasi (mengisi pengajian-pen).
Yang jadi permasalahan, salah seorang dari saudara-saudara kami yang
membicarakan (mentahdzir) stasiun TV tersebut, adalah orang yang terkenal
sebagai murid Anda.
Syaikh : Siapa dia?
Firanda : Namanya Dzul Qornain.
Syaikh : Ma'ruuf (saya mengenalnya)
Firanda : Ia adalah seorang yang memiliki ilmu -masyaAllah-.
Syaikh : Ia seorang yang baik.
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻟﻜﻨﻪ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ ﻭﻳﺤﺬﺭ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﻫﺪﺓ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ . ﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻣﺎ ﻧﺄﺧﺬ ﺍﻟﺪﻋﻢ
ﻣﻦ ﺃﻱ ﺟﻤﻌﻴﺔ ﻣﺎ ﻧﺄﺧﺬ ﻣﻦ ﺟﻤﻌﻴﺔ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﺍﻟﺘﺮﺍﺙ، ﻭﻻ ﻧﺄﺧﺬ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻌﻮﺩﻳﺔ، ﺍﻟﻤﺤﺴﻨﻴﻦ
ﻣﻦ ﺇﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺎ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺗﻌﺎﻭﻧﻮﺍ ﻣﻊ ﺫﻱ ﺍﻟﻘﺮﻧﻴﻦ، ﻫﻮ ﺭﺟﻞ ﻃﻴﺐ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﻮﻝ ﺃﻧﻪ ﻣﺘﺸﺪﺩ ﺷﻮﻱ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻧﺤﻦ ﻣﺎ ﻧﺤﺬﺭ ﻣﻨﻪ
ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﺣﺴﻦ : ﺍﻟﻘﻀﻴﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﻣﻌﻪ، ﺍﻟﻤﺴﺎﻟﺔ : ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻣﺜﻼ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺪﺍﻋﻴﺔ ﻓﻲ
ﺍﻟﻘﻨﻮﺍﺕ؟ ﻭﺗﺄﺳﻴﺲ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﺗﻨﺸﺮ ﺍﻹﺳﻼﻡ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻣﺎ ﻣﻌﻨﺎ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﻏﻴﺮﻫﺎ
ﺣﺴﻦ : ﻳﺴﺘﻔﺎﺩ ﻣﻨﻬﺎ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺃﻱ ﻧﻌﻢ، ﻳﺴﺘﻔﺎﺩ ﻣﻨﻬﺎ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻣﺜﻞ ﻫﺬﺍ، ﺍﻟﺸﻴﺦ، ﻣﺎ ﻧﻔﻌﻞ ﺑﺰﻣﻴﻠﻨﺎ ﻫﺬﺍ
ﺍﻟﺸﻴﺦ :ﺃﺻﻠﺤﻮﻩ ﻭﺍﺳﺘﺼﻠﺤﻮﺍ ﻭﺗﺄﻟﻔﻮﺍ
ﺣﺴﻦ : ﺑﻴﻨﻮﺍ ﻟﻪ ﻳﻜﻠﻢ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺻﺎﻟﺢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻉ ﻣﺜﻼً
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻲ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻲ ﻭﺃﻧﺎ ﺃﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ
Firanda : "Akan tetapi ia (Dzulqornain) membicarakan tentang (keburukan)
Stasiun TV tersebut, dan memperingatkan masyarakat dari menonton
stasiun TV tersebut.
Kami sekarang tidak mengambil bantuan dari yayasan manapun, kami tidak
mengambil bantuan dari Yayasan Ihyaa Ut Turoots, dan kami pun tidak
mengambil bantuan dari Arab Saudi, para donaturnya dari Indonesia"
Syaikh : "Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik,
meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- "
Firanda : "Kami tidak mentahdzirnya"
Hasan : Permasalahannya bukanlah tentang dia, akan tetapi bolehkah -
misalnya- seorang dai berdakwah melalui stasiun-stasiun televisi? Bolehkan
mendirikan Stasiun Televisi Islami yang menyebarkan Islam?
Syaikh : Kita tidak punya sarana yang lain
Hasan : Sarana televisi itu boleh dimanfaatkan?
Syaikh : Iya, sarana televisi itu boleh dimanfaatkan.
Firanda : Ya Syeikh, pada kondisi demikian, apa yang harus kami lakukan
terhadap sahabat kami ini (Dzulqornain)?
Syaikh : Berdamailah dengannya… Saling berdamailah dan saling
bersatulah.
Hasan : Sampaikan kepada Dzulqornain, agar ia berbicara dengan Syaikh
tentang permasalahan ini.
Syaikh : Hendaknya ia (Dzulqornain) menulis surat kepadaku, hendaknya ia
menulis kepadaku, dan aku akan membalas suratnya.
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺟﻤﻌﻴﺔ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﺍﻟﺘﺮﺍﺙ ﺩﺍﺋﻤﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ ﺳﺒﺐ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﺑﻴﻦ ﺍﻹﺧﻮﺓ، ﻣﺴﺎﻟﺔ
ﺟﻤﻌﻴﺔ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﺍﻟﺘﺮﺍﺙ ﺑﺎﻟﻜﻮﻳﺖ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺑﺎﻟﻜﻮﻳﺖ، ﺃﻳﺶ ﻓﻴﻬﺎ؟
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻓﻴﻪ ﻧﺎﺱ ﻗﻠﻴﻞ ﺗﻌﺎﻭﻧﻮﺍ ﻣﻊ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺔ، ﺃﺧﺬﻭﺍ ﺍﻟﻤﺴﺎﻋﺪﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺔ،
ﻟﻜﻦ ﻏﺎﻟﺒﻨﺎ ﻣﺎ ﻳﺎﺧﺬﻭﻥ . ﺍﻟﻤﺸﻜﻠﺔ ﺫﻭ ﺍﻟﻘﺮﻧﻴﻦ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻳﺤﺬﺭﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺔ ﻭﻳﺒﺪﻋﻮﻥ
ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺔ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺃﻱ ﺟﻤﻌﻴﺔ؟
ﺣﺴﻦ : ﺟﻤﻌﻴﺔ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﺍﻟﺘﺮﺍﺙ ﺑﺎﻟﻜﻮﻳﺖ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺴﺎﻋﺪﻛﻢ ﺧﺬﻭﺍ ﻣﺴﺎﻋﺪﺗﻪ ﻭﺍﻧﺘﻔﻌﻮﺍ ﺑﻪ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﺍﻟﻤﺸﻜﻠﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﺘﻜﻠﻤﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺔ ﺃﻳﻀﺎ ﻳﺒﺪﻋﻮﻥ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻬﺪﺍﻳﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ، ﻗﺒﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻘﻮﻗﺲ،
ﻳﻘﺒﻞ ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻟﻬﺪﻳﺔ، ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻌﻴﻨﻜﻢ ﺧﺬﻭﺍ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﺳﻴﻘﻮﻟﻮﻥ ﺳﻴﺸﺘﺮﻃﻮﻥ ﻭﻛﺬﺍ ﻭﻳﻮﺟﻬﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ﺗﻌﺎﻭﻧﻮﺍ، ﻳﻘﻀﻰ ﻋﻠﻰ ﻗﻀﻴﺔ ﺍﻻﻧﻘﺴﺎﻡ ﻳﻘﻀﻰ ﻋﻠﻴﻪ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻳﻌﻨﻲ ﺃﻛﻠﻢ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺫﻭ ﺍﻟﻘﺮﻧﻴﻦ ﻳﺮﺍﺳﻠﻚ
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺃﻱ ﻧﻌﻢ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺒﺎﺭﻙ ﻓﻴﻚ
Firanda : "Permasalahan Yayasan Ihyaa At-Turoots, selalu menjadi sebab
khilaf diantara ikhwan hingga sekarang, (maksudku) permasalahan Yayasan
Ihyaa At-Turoots yang di Kuwait"
Syaikh : Yang ada di Kuwait? Ada apa dengan yayasan tersebut?
Firanda : Ada sedikit orang yang bekerja sama dengan yayasan ini, mereka
mengambil bantuan dari yayasan ini, akan tetapi mayoritas kami tidak
mengambil bantuan. Yang menjadi permasalahan adalah Dzulqornain dan
para sahabatnya mentahdzir yayasan itu dan membid'ahkannya.
Syaikh : Yayasan apa?
Hasan : Yayasan Ihyaa At-Turoots dari Kuwait
Syaikh : " Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan
bantuan tersebut"
Firanda : Yang menjadi permasalahan; orang-orang yang tidak mentahdzir
yayasan itu juga di-tabdi'
Syaikh : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerima hadiah-
hadiah dari orang-orang kafir, beliau menerima dari Raja Muqouqis, beliau
menerima hadiah. Yang membantu kalian, maka ambillah (bantuannya) "
Firanda : Mereka akan berkata; "Yayasan akan memberi persyaratan… Akan
ikut mengatur dakwah?"
Syaikh : "Bagaimanapun juga, hendaknya kalian saling bekerja sama,
hilangkan perpecahan, hilangkanlah perpecahan"
Firanda : "Apa saya menyampaikan ke Syaikh Dzulqornain, agar mengirim
surat kepada Anda?"
Syaikh : Iya
Firanda : Baarokallahu fiik"
(Demikian tanya jawab yang berlangsung antara kami dan al-'Allaamah
Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizohulloh pada pagi hari senin tanggal 4
Februari 2013 di kantor kerja beliau di Daarul Iftaa') silahkan dengar
rekamannya disini:
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or
above) is required to play this audio clip.
Download the latest version here . You also need
to have JavaScript enabled in your browser.
Powered by RapidPlugins
Mengingat kedekatan Al-Ustadz Al-Fadil Dzulqornain dengan Asy-Syaikh
Sholeh Al-Fauzan maka kami sangat berharap Al-Ustadz Al-Faadil
Dzulqornain mau bertanya langsung kepada Asy-Syaikh Sholeh Fauzan
perihal berikut ini :
- Apakah Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaiti adalah yayasan hizbi
dan yayasan mubtadi'ah?. Dan kalau Asy-Syaikh tidak mengetahui hakekat
kesesatan Yayasan Ihyaa At-Turoots maka hendaknya Al-Ustadz Al-Fadil
menjelaskan kepada beliau agar tidak ada tuduhan bahwasanya Asy-Syaikh
berfatwa tanpa ilmu, memuji Ihyaa At-Turots karena Asy-Syaikh jahil
tentang yayasan tersebut
- Jika Ternyata Asy-Syaikh menyatakan yayasan tersebut adalah
yayasan Ahlus Sunnah maka selesailah perkaranya, dan tidak perlu kita
beranjak kepada pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Akan tetapi jika Asy-
Syaikh menyatakan bahwa yayasan tersebut adalah yayasan bid'ah atau
yayasan sururi, maka tolong tanyakan lagi apakah boleh menerima bantuan
dari yayasan tersebut?. Atau apakah yang menerima bantuan dana dari
yayasan tersebut otomatis menjadi ahlul bid'ah, menjadi sururi??
- Jika ternyata Asy-Syaikh membolehkan mengambil bantuan dana,
maka selesailah perkaranya. Akan tetapi jika Asy-Syaikh mengharamkan
mengambil bantuan dana dari yayasan dan menyatakan bahwa yang
mengambil dana otomatis menjadi ahlul bid'ah, maka tanyakanlah kepada
beliau apakah apakah yang tidak membid'ahkan yayasan juga otomatis
menjadi sururi?, yang tidak membid'ahkan yang mengambil dana juga
otomatis jadi sururi?
Tolong pertanyaan dan jawaban di transkrip secara lengkap, dan jangan
jawabannya saja. Dan kami sangat menantikan hal ini, karena jangan
sampai seperti sikap salah seorang dari sebagian antum yang telah
bertanya panjang lebar kepada Asy-Syaikh al-'Utsaimin rahimahullah
tentang hukum jihad di Ambon lantas pertanyaan dan fatwa Asy-Syaikh
disembunyikan dan tidak disebarkan !!!
RENUNGAN….
Beikut ini beberapa renungan yang saya tujukan kepada saudara-saudaraku
terkhususkan para kawan-kawan yang suka mentahdzir sesama ahlu
sunnah hanya karena permasalahan ijtihadiyyah
PERTAMA : Renungkanlah kembali sikap-sikap keras antum selama ini. Ya
ikhwati… apakah demikian manhaj yang diajarkan oleh para ulama salafiyin
yang telah diakui oleh semua pihak. Dalam hal ini terutama Syaikh Bin
Baaz, Syaikh al-Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani rahimahullah???
Apakah dakwah mereka seperti cara dakwah kalian??, adakah ceramah-
ceramah mereka dan buku-buku mereka seperti gaya ceramah antum saat
ini??. Saya mengajak kita bersama untuk bersikap jujur…
Tidak mengapa jika antum menyelisihi metode dakwah mereka bertiga,
tidak mengapa juga antum merasa dan meyakini bahwa manhaj yang antum
jalani adalah manhaj yang terbenar…, akan tetapi harus diakui bahwasanya
metode dakwah mereka ternyata berbeda dengan metode dakwah kalian
KEDUA : Semua orang tahu, bahwasanya "Gaya seorang guru bisa dilihat
dari gaya murid-muridnya".
Ternyata yang ada, metode dakwah dari mayoritas murid-murid ketiga
ulama besar tersebut, berbeda metode dakwah mereka dengan metode
dakwah kalian. Bahkan antum menganggap banyak murid-murid senior
ketiga para ulama tersebut adalah ahul bid'ah. Murid-murid senior Syaikh
Al-Albani rahimahullah tidak selamat dari tahdziran dan lisan kalian…
Terlebih lagi murid-murid syaikh Al-Utsaimin yang ada di kota al-
Qosiim ??!!!
KETIGA : Saya juga ingin tahu, sebenarnya ulama/masyaikh salafy yang
antum akui -sama diatas gaya dan metode antum dalam hal tahdzir dan
tabdi'- yang ada di kerajaan Arab Saudi itu ada berapa?. Coba kita hitung…,
(1) Syaikh Robii' Al-Madkholi, (2) Syaikh Muhammad bin Haadi Al-
Madkholi, (3) Syaikh Ubaid Al-Jaabiri, (4) Syaikh Abdullah Al-Bukhari, (5)
Syaikh Ahmad Bazmuul….hafizohumulloh
Apakah masih ada para ulama atau masyaikh yang lain??, kalau ada
berapakah jumlah mereka??, saya berbicara tentang masyaikh yang ma'ruf
dan tersohor di Kerajaan Arab Saudi. Meskipun Asy-Syaikh Abdullah al-
Bukhari dan Asy-Syaikh Ahmad Bazmuul tidak ma'ruf, akan tetapi tetap
saya masukan karena keduanya dijadikan rujukan oleh kalian.
Nah sekarang apakah anggota kibar ulamaa, dan juga anggota lajnah
daimah yang lainnya juga adalah salafy menurut kalian? Semanhaj dengan
manhaj kalian?, saya ingin kejujuran antum!!!. Syaikh salafy yang ada di
Riyadh ada berapa sih??
Apakah hanya syaikh Sholeh al-Fauzaan?? Itupun ternyata manhaj dan
metode beliau tidak sama dengan manhaj kalian…
Demian pula, manakah para Imam Masjid Nabawi dan Masjid Haram yang
menurut antum salafy (selain Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullah)?. Demikian
juga manakah dari dari pengajar-pengajar resmi di Masjid Nabawi yang
antum anggap salafy 100 persen seperti antum selain Syaikh Abdul Muhsin
Al-Abbad??, itupun Syaikh Abdul Muhsin manhajnya tidak sama dengan
manhaj guluw antum dalam mentahdzir dan mentabdi'. Ini mau tidak mau
harus diakui.
Puluhan ulama di Riyaad, puluhan ulama di Madinah, apakah manhaj dan
metode dakwah mereka seperti metode dakwah kalian??
Tidaklah mengapa jika antum berkata, "Kebenaran tidak diukur dengan
jumlah yang banyak…". Saya hanya sekedar ingin agar antum mengakui
bahwasanya manhaj antum tidak sama dengan manhaj Syaikh Bin Baaz,
Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Al-Albani dan juga kebanyakan para ulama dan
masyayikh di Arab Saudi. Maksud saya dalam hal ini adalah manhaj guluw
dalam mentahdzir dan mentabdi' sesama dai ahlus sunnah.
KEEMPAT : Ternyata setelah saya dengarkan hujatan-hujatan antum
terhadap radiorodja atau rodja TV yang ada bukanlah menyebutkan
kesalahan…, akan tetapi hanya karena link-link (kerja sama) serta
hubungan-hubungan dengan orang-orang yang dianggap sebagai ahlul
bid'ah, yang kebanyakan link-link tersebut hanyalah dugaan dan prasangka.
Jika ada link-link tersebut maka kami ingin buktinya, maka tolong sebutkan
link-link para ustadz Radiorodja !!
Sebenarnya hukum bermu'amalah dengan ahlul bid'ah sudah
dijelaskan panjang lebar oleh para ulama, diantaranya dijelaskan panjang
lebar oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim
rahimahumallahu. Demikian pula masalah hajr (memboikot) ahlul bid'ah
yaitu dengan melihat dan menimbang antara maslahat dan mudhorot
(silahkan baca kembali ( Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) terhadap Ahlul
Bid'ah (Seri 2): Hajr Bukan Merupakan Ghoyah (Tujuan), Akan Tetapi
Merupakan Wasilah)
Bahkan terkadang bekerja sama dengan ahlul bid'ah dianjurkan jika
memang mendatangkan kemaslahatan
Ibnul Qoyyim rahimahulloh -tatkala menjelaskan faedah dari kisah
perjanjian hudaibiyah-, mengatakan:
ﺃﻥ ﺍﻟﻤُﺸْﺮِﻛﻴﻦ، ﻭﺃﻫﻞَ ﺍﻟﺒِﺪَﻉ ﻭﺍﻟﻔﺠﻮﺭ، ﻭﺍﻟﺒُﻐَﺎﺓ ﻭﺍﻟﻈَّﻠَﻤﺔ، ﺇﺫﺍ ﻃَﻠَﺒُﻮﺍ ﺃﻣﺮﺍً ﻳُﻌَﻈِّﻤُﻮﻥَ ﻓﻴﻪ
ﺣُﺮﻣﺔً ﻣِﻦ ﺣُﺮُﻣﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﺃُﺟﻴﺒُﻮﺍ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺃُﻋﻄﻮﻩ، ﻭﺃُﻋﻴﻨﻮﺍ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺇﻥ ﻣُﻨِﻌﻮﺍ ﻏﻴﺮﻩ،
ﻓﻴُﻌﺎﻭَﻧﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﺣﺮﻣﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻻ ﻋﻠﻰ ﻛﻔﺮﻫﻢ ﻭﺑَﻐﻴﻬﻢ، ﻭﻳُﻤﻨﻌﻮﻥ
ﻣﻤﺎ ﺳﻮﻯ ﺫﻟﻚ، ﻓﻜُﻞُّ ﻣَﻦ ﺍﻟﺘﻤﺲ ﺍﻟﻤﻌﺎﻭﻧﺔَ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﺒﻮﺏ ﻟﻠﻪِ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣُﺮْﺽٍ ﻟﻪ، ﺃُﺟﻴﺐَ ﺇﻟﻰ
ﺫﻟﻚ ﻛﺎﺋِﻨﺎً ﻣَﻦ ﻛﺎﻥ، ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺘﺮﺗَّﺐ ﻋﻠﻰ ﺇﻋﺎﻧﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺤﺒﻮﺏِ ﻣﺒﻐﻮﺽٌ ﻟﻠﻪِ ﺃﻋﻈﻢُ
ﻣﻨﻪ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣِﻦ ﺃﺩﻕِّ ﺍﻟﻤﻮﺍﺿﻊ ﻭﺃﺻﻌﺒِﻬَﺎ، ﻭﺃﺷﻘِّﻬَﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻔﻮﺱ
"Sesungguhnya kaum musyrikin, ahlul bid'ah, dan ahlul fujur, serta para
pemberontak dan orang-orang yang zholim, jika mereka menuntut sesuatu
untuk mengagungkan salah satu dari syari'at-syari'at Allah, maka
permintaan mereka itu dipenuhi dan ditunaikan, serta mereka dibantu,
meskipun pada perkara-perkara lain (yang tidak merupakan syari'at Allah-
pen) mereka tidak dipenuhi permintaannya. Jelasnya mereka dibantu pada
perkara-perkara yang padanya ada pengagungan terhadap syari'at Allah,
bukan ditolong dalam kekufuran dan kezoliman mereka, dan tidak dibantu
pada perkara-perkara yang lain.
Maka setiap orang yang meminta pertolongan dalam perkara yang dicintai
oleh Allah dan mendatangkan keridoannya maka permohonan bantuannya
boleh dipenuhi siapapun orangnya. Selama tidak menimbulkan perkara yang
dibenci oleh Allah yang lebih parah. Ini termasuk pembahasan yang paling
detail, paling sulit, dan paling berat bagi jiwa" (Zaadul Ma'aad 3/303)
Diantara dalil yang menunjukan perkataan Ibnul Qoyyim ini adalah :
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻯ ﻧَﻔْﺴِﻰ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻻ ﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻧِﻰ ﺧُﻄَّﺔً ﻳُﻌَﻈِّﻤُﻮﻥَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺣُﺮُﻣَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻻ ﺃَﻋْﻄَﻴْﺘُﻬُﻢْ ﺇِﻳَّﺎﻫَﺎ
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah mereka (kaum
musyrikin Arab) meminta kepadaku sesuatu kondisi yang padanya mereka
mengagungkan syari'at Allah, kecuali aku akan memberikannya kepada
mereka" (HR Al-Bukhari no 2731)
Ini jelas, bahwasanya jika Kaum Musyrikin meminta bantuan Nabi untuk
menegakkan hak dan syari'at Allah, maka Nabi akan memenuhi permintaan
mereka.
Dalam Hilful Fudhul/Al-Muthoyyabin, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah bersabda ;
ﻣَﺎ ﺷﻬﺪﺕُ ﻣِﻦْ ﺣﻠﻒ ﻗُﺮَﻳْﺶ ﺇِﻟَّﺎ ﺣِﻠﻒ ﺍﻟﻤﻄﻴﺒﻴﻦ ، ﻭَﻣَﺎ ﺃﺣﺐ ﺃَﻥ ﻟﻲ ﺣﻤﺮ ﺍﻟﻨﻌﻢ ، ﻭَﺇِﻧِّﻲ
ﻛﻨﺖ ﻧﻘﻀﺘﻪ
"Aku tidak pernah menghadiri hilf (perjanjian kesepakatan) kaum Quraisy
kecuali Hilful Muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku membatalkannya
meskipun aku diberi onta merah" (Lihat takhriif hadits ini dalam Al-Badr
Al-Muniir, karya Ibnul Mulaqqin 7/325-327).
Perjanjian ini adalah perjanjian yang dilakukan oleh orang-orang Kafir
Quraisy dalam rangka untuk menolong seorang yang terzolimi, agar haknya
dikembalikan dari orang yang telah menzoliminya. Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam menghadirinya tatkala beliau belum diangkat menjadi seorang
Nabi. Akan tetapi Nabi shallallahu 'alaihi mengenang perjanjian ini, bahkan
beliau menyatakan jika beliau diajak oleh mereka dan beliau sudah menjadi
seorang Nabi, maka beliau tetap akan menghadirinya.
Beliau berkata :
ﻟﻘﺪ ﺷﻬﺪﺕُ ﻓِﻲ ﺩَﺍﺭ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺟﺪﻋَﺎﻥ ﺣﻠﻔﺎ ، ﻟَﻮ ﺩُﻋِﻴْﺖُ ﺑِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡ ﻟَﺄَﺟَﺒْﺖ
"Sungguh aku telah menghadiri Hilf (Al-Muthoyyabin) di rumah Abdullah bin
Jad'aan. Kalau seandainya aku diajak saat sudah ada Islam (yakni setelah
aku menjadi Nabi-pen), maka aku akan penuhi ajakan
tersebut" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih fiqh Shiroh,
lihat juga penjelasan al-'Umari dalam Shirah An-Nabawiyah As-Shahihah
1/111)
Kedua hadits ini menegaskan pernyataan Ibnul Qoyiim rahimahullah, akan
bolehnya bekerja sama/membantu orang-orang yang menyimpang jika
tujuannya untuk menegakkan syari'at Allah atau kebenaran. Dengan syarat
tidak menimbulkan kemudorotan.
Sekarang marilah kita melihat link-link (kerja sama dengan ahlul bid'ah)
yang dilakukan oleh para ulama dan para syaikh salafy, diantaranya :
(1) Bukankah sangat banyak ulama salafy yang memiliki link dengan
yayasan Ihyaa At-Turoots di Kuwait. Seperti Syaikh Bin Baaz, Syaikh
Utsaimin rahimahumulloh, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, dan Syaikh
Abdurrozzaq??
Bahkan sebagian mereka mengisi pengajian di yayasan Ihyaa At-Turoots.
Lantas apakah mereka ahlul bid'ah??, apakah mereka sururi??. Apalagi
sampai memuji yayasan??!!. Bukankah sikap mereka ini "menurut kacamata
kalian" menyesatkan umat karena menjalin link dengan yayasan Ihyaa At-
Turoots??. Kalau hanya seorang dai tingkat nasional yang berhubungan
dengan yayasan Ihyaa At-Turoots sih masih mending, akan tetapi sangatlah
berbahaya dan parah kalau yang berhubungan dengan yayasan tersebut
para ulama kaliber dunia…sungguh sangat menyesatkan umat "menurut
kacamata kalian" (Lihat pujian para ulama Asy-Syaikh Bin Baaz
rahimahullah, Asy-Syaikh Utsaimin rahimahullah, Asy-Syaikh Sholeh Al-
Fauzan, Asy-Syaikh Al-Mufti Abdul Aziz Alu Syaikh, Mentri Agama Arab
Saudi Asy-Syaikh Sholeh Alu Syaikh, dan Imam Al-Masjid Al-Haroom Asy-
Syaikh Abdurrahman As-Sudais hafzohumulloh di http://
www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13 )
Al-'Allaamah Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad hafizohulloh berkata
tentang peran serta Asy-Syaikh Bin Baaz dan Asy-Syaikh Al-'Utsaimin
dalam mengisi kajian di yayasan Ihyaa' At-Turoots. Beliau berkata :
ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﻣﻦ ﻳﻜﻮﻥ ﺩﻳﺪﻧﻪ ﻭﺷﻐﻠﻪ ﺍﻟﺸﺎﻏﻞ ﺗﺘﺒﻊ ﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻭﺍﻟﺒﺤﺚ
ﻋﻨﻬﺎ، ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻧﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺆﻟﻔﺎﺕ ﺃﻭ ﺍﻷﺷﺮﻃﺔ، ﺛﻢ ﺍﻟﺘﺤﺬﻳﺮ ﻣﻤﻦ ﺣﺼﻞ ﻣﻨﻪ ﺷﻲﺀٌ ﻣﻦ
ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺧﻄﺎﺀ، ﻭﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﺍﻟﺘﻲ ﻳُﺠﺮﺡ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻭﻳﺤﺬﺭ ﻣﻨﻪ ﺑﺴﺒﺒﻬﺎ ﺗﻌﺎﻭﻧﻪ
ﻣﺜﻼً ﻣﻊ ﺇﺣﺪﻯ ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺎﺕ ﺑﺈﻟﻘﺎﺀ ﺍﻟﻤﺤﺎﺿﺮﺍﺕ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻛﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺪﻭﺍﺕ، ﻭﻫﺬﻩ
ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺔ ﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﺑﺎﺯ ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻬﻤﺎ ﺍﻟﻠﻪ
ﻳُﻠﻘﻴﺎﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﻟﻤﺤﺎﺿﺮﺍﺕ ﻋﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﻬﺎﺗﻒ، ﻭﻳﻌﺎﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺩﺧﻮﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ ﻗﺪ ﺃﻓﺘﺎﻫﺎ
ﺑﻪ ﻫﺬﺍﻥ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﺎﻥ ﺍﻟﺠﻠﻴﻼﻥ، ﻭﺍﺗﻬﺎﻡ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺭﺃﻳﻪ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﺍﺗﻬﺎﻣﻪ ﺭﺃﻱ ﻏﻴﺮﻩ، ﻭﻻ ﺳﻴﻤﺎ
ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺭﺃﻳﺎً ﺃﻓﺘﻰ ﺑﻪ ﻛﺒﺎﺭ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ
"Diantara ahlus sunnah di zaman ini ada yang kesibukannya -yang selalu
menyibukannya- adalah mencari-cari kesalahan, apakah kesalahan-
kesalahan yang ada di buku-buku ataupun yang di kaset-kaset. Setelah itu
mentahdzir masyarakat akan bahaya orang yang terjerumus dalam sebagian
kesalahan-kesalahan tersebut. Dan diantara kesalahan-kesalahan yang
menyebabkan seseorang ditahdzir dan dijarh adalah orang tersebut bekerja
sama dengan salah satu yayasan yaitu dengan mengisi pengajian atau ikut
serta dalam seminar. Padahal yayasan tersebut dahulu Asy-Syaikh Abdul
Aziz bin Baaz dan Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahumallahu
mengisi pengajian-pengajian melalui telepon. Demikian juga yayasan ini
dicela karena ikut serta dalam suatu perkara yang kedua orang alim yang
mulia ini berfatwa akan kebolehannya. Dan seseorang mencela pendapatnya
sendiri lebih layak daripada mencela pendapat orang lain, terlebih lagi jika
pendapat lain tersebut adalah pendapat yang difatwakan oleh para ulama
kibar" (Silahkan baca kitab Rifqon Ahlas Sunnah hal 16)
(2) Syaikh Bin Baaz rahimahullah mendirikan lembaga Roobitoh al-'AAlam
al-Islaami. Sekarang kalau mau jujur, bukankah lembaga ini beranggotakan
banyak dai dari seantero dunia?, lantas apakah semua anggotanya salafy??.
Jawabannya : Tentu tidak, justru sebagian kecil saja yang bermanhaj salafy
"menurut kacamata kalian", itupun kalau ada??!!. Jika perkaranya demikian,
lantas buat apa syaikh Bin Baaz mengumpulkan mereka?, bahkan
memfasilitasi mereka???. Apakah syaikh bin Baaz tidak faham manhaj
salafy???. Lembaga ini hingga saat ini masih eksis di Arab Saudi, lantas
kenapa ia selamat dari tahdziran-tahdziran antum sekalian??
(3) Lembaga al-Majma' Al-Fiqhi Al-Islaami (Komite Fikih Islam), yang
beranggotakan banyak ulama dari berbagai negara-negara Islam. Ini adalah
lembaga resmi. Lantas apakah seluruh para ulama tersebut bermanhaj salaf
"ala salafy kalian"?. Tentu berdasarkan kacamata "salafy" kalian,
kebanyakan mereka adalah ahul bid'ah, dan saya tidak tahu apakah ada
satu saja yang salafy menurut kacamata kalian??. Lantas kenapa lembaga
ini selamat dari tadhziran kalian??
(4) Bukankah Syaikh Muhammad bin Hadi, dan Syaikh Abdullah Al-Bukhari
hafizohumallahu mengajar di Universitas Islam Madinah?. Beliau berdua
berasal dari fakultas hadits. Coba antum tanyakan kepada mereka berdua,
"Siapakah masyaikh salafy yang ada di Universitas Islam Madinah??"
berapakah jumlahnya selain mereka berdua??'. Di fakultas hadits sendiri,
siapakah syaikh salafy selain mereka berdua??.
Lantas buktinya mereka berdua masih tetap saja bisa satu fakultas dengan
dosen-dosen yang bukan salafy (dalam kacamata kalian). Jika ternyata
syaikh salafy di Universitas Islam Madinah hanya 3 atau 4 orang (dalam
kacamata salafy kalian), lantas kenapa kedua syaikh ini masih betah
mengajar di Universitas Islam Madinah??!!!
(5) Kerajaan Arab Saudi -melalui kementrian agama Arab Saudi-
memberikan gaji bulanan kepada para dai-dai di seluruh dunia. Diantaranya
dai-dai yang ada di Indonesia. Ternyata dai-dai tersebut kebanyakannya
bukan dai salafy. Lantas apakah kementerian ini merupakan lembaga hizbi
karena memfasilitasi para dai hizbi??, bukankah ini penyesatan yang
nyata??, lantas kenapa antum tidak sibuk-sibuk menyesat-nyesatkan
kementrian agama kerajaan Arab Saudi??. Kenapa antum tidak sibuk
mentahdzir dan mentabdi' Sang Menteri Agama Arab Saudi Syaikh Sholeh
bin Abdil Aziz Aalu Syaikh??, apalagi beliau sering mencukur pendek
janggut beliau hafizohulloh??. Kenapa juga antum tidak mentahdzir para
ulama yang tidak mentahdzir beliau, bahkan berhubungan baik dengan
beliau??!!. Kenapa hanya sibuk ribut dengan saudara-saudara antum yang
tidak mengambil dana dari Ihyaa At-Turoots, hanya saja mereka tidak mau
membid'ahkan yayasan itu???
(6) Bukankah kerajaan Arab Saudi juga setiap tahunnya mengadakan lomba
hafalan dan tilawah al-Qur'an?. Bahkan sering lomba-lomba ini disiarkan
langsung oleh Radio Al-Qur'an Arab Saudi. Yang jadi pertanyaan,
"Dimanakah mereka mengadakan lomba tersebut??, apakah di markaz dan
masjid Salafy?". Lantas siapakah yang menjadi panitia lomba tersebut??,
apakah salafy atau???, demikian juga para pesertanya???. Dan bisa jadi,
atau bahkan banyak diantara antum yang menganggap lomba-lomba seperti
ini adalah bid'ah yang menyesatkan??. Lantas kenapa antum tidak sibuk
mentahdzir dan mentabdi' mereka??. Lantas juga kenapa antum tidak
mentahdzir para ulama kibar di Arab Saudi yang mendukung acara-acara
seperti ini???
(7) Bukankah Universitas Islam Madinah setiap tahunnya mengadakan
dauroh ilmiyah di Indonesia, bahkan juga di banyak negara-negara Islam.
Bahkan di Indonesia selalu acara dauroh tersebut diadakan di markaz-
markaz ahlul bid'ah, lantas kenapa antum tidak metahdzir dan mentabdi'
para masyayikh yang ikut serta dauroh tersebut??!!. Bukankah ini berarti
mendukung markaz ahlul bid'ah??. Bahkan Syaikh Abdullah Al-Bukhari juga
ikut serta dalam acara dauroh Universitas Islam Madinah sebagai
pemateri??!!.
Sekalian saja antum menyatakan bahwa Universitas Islam Madinah jami'ah
sesat dan menyesatkan???.
Masih lebih baik Radiorodja dan RodjaTV yang para da'i nya tidak
bercampur dan beraneka ragam!!!
(8) Idzaa'atul Qur'an Al-Kariim yang merupakan radio dakwah Arab Saudi
yang sangat didukung oleh para ulama. Cobalah kita renungkan, bukankah
kebanyakan para pemateri dalam radio tersebut bukan salafy "menurut
kacamata/standar" kalian?.
(9) Coba antum perhatikan link-link ceramah di televisi yang disampaikan
oleh Asy-Syaikh Al-Mufti Abdul Aziz Aalu Syaikh dan juga Asy-Syaikh
Soleh Al-Fauzaan (yang telah saya cantumkan di atas). Bukankah mereka
ceramah di stasiun televisi SaufiTV1 ( ﺍﻟﻤﻤﻠﻜﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﺍﻟﺴﻌﻮﺩﻳﺔ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ ﺍﻷﻭﻟﻰ ),
ternyata stasiun tersebut bukan stasiun TV dakwah murni, akan tetapi
stasiun TV umum, dan program-program acaranya pun umum. Sehingga
yang muncul di stasiun TV tersebut berbagai macam model. Lantas kenapa
bisa kedua syaikh ini mau mengisi ceramah di stasiun TV yang seperti ini
modelnya??!!
Jika kami mengikuti manhaj antum "manhaj MLM dalam mentahdzir dan
mentabdi" maka kami katakan antum juga sebenarnya ahlul bid'ah, karena
tidak membid'ahkan Robithoh al-'Aaalam Al-Islaami, dan juga tidak
membid'ahkan pemrakarsanya –yaitu Syaikh Bin Baaz rahimahullah-,
antum juga tidak membid'ahkan al-Majma' al-Fiqhi, antum juga tidak
membid'ahkan para ulama yang bermu'amalah dengan yayasan Ihyaa At-
Turoots, terlebih-lebih lagi para ulama yang memuji yayasan tersebut???.
Akan tetapi tentu kami tidak mau menggunakan manhaj tahdzir dan tabdi'
ala MLM antum ini !!!
KELIMA : Ketahuilah bahwa manhaj antum dalam tahdzir dan guluw sangat
tipis perbedaannya dengan manhaj haddadiyah yang jika ada seorang yang
salah sekali atau dua kali atau 10 kali lantas antum keluarkan dari ahlus
sunnah sehingga menjadi ahlul bid'ah yang harus dijauhi.
Padahal para ulama telah menjelaskan dengan panjang lebar bahwasanya
untuk menghukumi seseorang keluar dari ahlus sunnah tidaklah mudah,
harus dilihat jenis kesalahannya, kemudian apakah kesalahannya banyak
atau tidak….?
Karena kalau setiap ada yang salah lantas dikeluarkan dari ahlus sunnah
(itupun kalau salah, bahkan bisa jadi merupakan kebenaran…) maka tidak
seorangpun yang akan selamat.
(Silahkan baca kembali tulisan : Muwaazanah… Suatu Yang Merupakan
Keharusan…? Iya, Dalam Menghukumi Seseorang Bukan Dalam
Mentahdzir !! )
Antum tentu bukan bermanhaj haddadiyah yang menyatakan Ibnu Hajar dan
An-Nawawi sebagai ahlul bid'ah dan buku-buku mereka hendaknya dibakar.
Antum tentu memberi udzur kepada kedua imam ini, karena kebaikan
mereka yang begitu banyak. Lantas kenapa antum tidak memberi udzur
kepada saudara-saudara antum sebagai sesama dai ahlus sunnah?.
Padahal kesalahan para dai tersebut belum tentu salah (karena merupakan
permasalahan ijtihadiah), bahkan bisa jadi mereka yang benar. Jika
merekapun salah maka bukan dalam permasalahan aqidah. Jika mereka
salahpun kesalahan mereka tidak banyak, hanya tentang mengenai cara
atau metode bermuamalah dengan orang-orang di luar ahlus sunnah.
Kesalahan-kesalahan mereka sangat-sangatlah kecil dibandingkan
kesalahan Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar rahimahumallah. Lantas
kenapa antum tidak memberi udzur kepada mereka??
Syaikh al-'Utsaimin telah menegaskan bahwasanya orang yang manhajnya
seperti ini, yaitu hanya mengingat satu atau dua kesalahan dan melupakan
banyak kebaikan adalah manhajnya para wanita. Beliau rahimahullah
berkata : “Ibnu Rajab berkata dalam muqaddimah kitab Qawaa’id-nya,
'Orang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan seseorang yang
sedikit karena kebenarannya yang banyak.' Tidaklah seorang pun
mengambil kesalahan dan lupa dengan kebaikan melainkan ia telah
menyerupai para wanita . Sebab jika engkau berbuat baik kepada seorang
wanita sepanjang zaman lalu ia melihat satu keburukan padamu niscaya ia
akan berkata, 'Aku sama sekali tidak melihat kebaikan pada dirimu.' Tidak
seorang lelaki pun ingin kedudukannya seperti ini, yaitu seperti wanita, yang
mengambil satu kesalahan kemudian melupakan kebaikan yang
banyak.” (Liqaa' al-Baab al-Maftuuh, no (120), side A)
Berikut ini potongan-potongan dari perkataan Syaikh Al-'Utsaimin tentang
perselisihan yang terjadi diantara ahlus sunnah
"Apakah engkau Quthbi ataukah Jamiah? Ini semua tidak perlu….
Jika para pemuda dididik di atas manhaj seperti ini maka keesokan hari
akan menimbulkan keburukan yang sangat besar….
Apakah termasuk keadilan jika seseorang mencela orang lain dan sama
sekali tidak menyebutkan kebaiknnya?, manhaj seperti ini jelas salah" (ini
hanya potongan-potongan perkataan syaikh Utsaimin, silahkan dengarkan
file suaranya secara lengkap di
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or
above) is required to play this audio clip.
Download the latest version here . You also need
to have JavaScript enabled in your browser.
Powered by RapidPlugins
)
KEENAM : Antum tentu sangat paham bahwasanya permasalahan al-jarh
wa at-ta'diil terhadap seorang rawi tertentu ternyata sangat banyak pula
terjadi perselisihan diantara para ulama hadits. Ternyata permasalahan
menta'dil atau menjarh adalah permasalahan ijtihadiah. Demikian pula
praktek para ulama zaman sekarang, bisa kita lihat contohnya antara
perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama dalam
menghukumi seseorang. (silahkan lihat kembali Salah Kaprah Tentang Hajr
(Boikot) terhadap Ahlul Bid'ah (Seri 5): Contoh Nyata Khilaf Ijtihadiah
Diantara Para Ulama Tentang Menghukumi Seseorang)
Demikian pula bahwasanya permasalahan tentang yayasan Ihyaa At-
Turoots juga merupakan permasalahan ijtihadiah. Dan hal ini juga tentu
telah diakui oleh sebagian antum (silahkan lihat peryataan Ustadz
Muhammad Umar As-Sewed hafizohulloh di
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or
above) is required to play this audio clip.
Download the latest version here . You also need
to have JavaScript enabled in your browser.
Powered by RapidPlugins
)
Yang anehnya sebagian orang mengajak untuk bersikap keras dengan
berdalil bahwasanya jika seorang berijtihad bisa benar dan bisa salah,
bukan benar terus.
Kita katakan, ini merupakan perkara yang telah diketahui oleh orang awam
salafy. Akan tetapi yang menjadi permasalahan "Bagaimanakah manhaj
Ahlus Sunnah dalam menghadapi permasalahan khilaf ijtihadiyah??"
Apakah seseorang yang tidak ikut mentabdi' yayasan Ihyaa At-Turots
otomatis menjadi ahlul bid'ah? Apakah jika seseorang tidak setuju dengan
hobi antum yang suka mentabdi' maka iapun menjadi ahlul bid'ah??!!
Renungkanlah Fatwa Syaikh Al-'Utsaimin rahimahullah berikut ini:
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﺍﻟﺒﺎﺭﺣﺔ ﺗﻜﻠﻤﺖُ ﻣﻌﻜﻢ ﻭﻟﺪﻱَ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﺳﺌﻠﺔ
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﺗﻔﻀﻞ !
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ: ﻳﺎ ﺷﻴﺦ ﺃﻧﺖ ﺗﻌﻠﻢ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﺠﺮﻱ ﺍﻵﻥ ﻣِﻦ ﻓﺘﻨﺔ ﺑﻴﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺒﻼﺩ
ﺧﺎﺻﺔ، ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ ﺗﺤﻮَّﻝ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﺮٍ ﺧﻄﻴﺮ، ﺣﺘﻰ ﺇﻥ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺗﻔﺮﻕ
ﺍﻹﺧﻮﺓ ﻓﻴﻬﺎ !
ﻓﻠﺪﻱَّ ﺳﺆﺍﻝ؛ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﺍﻷﻭﻝ - ﻳﺎ ﺷﻴﺦ :- ﺇﺫﺍ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺪﻋﺎﺓ ﻓﻲ
ﺗﺠﺮﻳﺢ ..
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ -ﻣﻘﺎﻃِﻌًﺎ :- ﺇﻳﺶ .. ﺇﻳﺶ؟
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﺇﺫﺍ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺑﻌﺾُ ﺍﻟﺪﻋﺎﺓ ﻓﻲ ﺗﺠﺮﻳﺢ ﺷﺨﺺٍ ﺃﻭ ﺗﻌﺪﻳﻠﻪ؛ ﻳﻌﻨﻲ : ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺪﻋﺎﺓ
ﻋﺪَّﻝ ﻭﺍﻟﺒﻌﺾ ﺍﻵﺧﺮ ﺟﺮَّﺡ، ﻫﻞ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺗﺠﺮﻳﺢُ ﻣَﻦ ﻋﺪَّﻝ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﻻ، ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ .
Penanya : Kemarin malam aku telah berbicara dengan Anda, dan saya
memiliki beberapa pertanyaan.
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah : Silahkan
Penanya : Ya syaikh, engkau tahu apa yang terjadi sekarang tentang fitnah
diantara ahlus sunnah di negara ini khususnya. Perkara ini di tempat kami
telah menjadi perkara yang berbahaya, bahkan banyak masjid-masjid yang
para ikhwah berpecah di dalamnya.
Maka saya memiliki pertanyaan. Pertama ya syaikh, jika sebagian ulama
berbeda pendapat tentang (hukum) sebagian dai dalam menjarhnya (atau
mentahdzirnya)
Syaikh : Apa? Apa?
Penanya : Jika sebagaian dai berbeda pendapat dalam menjarh
(mentahdzir) atau menta'dil (merekomendasi) seseorang?, sebagian dai
merekomendasi dan sebagian yang lain menjarh, apakah hal ini
mengharuskan untuk menjarh dai yang merekomendasi?
Syaikh : Tidak harus demikian.
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ: ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ..
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ: ﻻ، ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﺪَّﻝ ﻋﺪَّﻝ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩﻩ، ﻓﺈﻥ ﺃﺻﺎﺏ
ﻓﻠﻪ ﺃﺟﺮﺍﻥ، ﻭﺇﻥ ﺃﺧﻄﺄ ﻓﻠﻪ ﺃﺟﺮ.
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻧﻌﻢ، ﻭﻟﻜﻦ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﺪَّﻝ ﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﺃﻧَّﻨﺎ ﻧﺠﺮِّﺣﻪ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ :- ﻗﻠﺖُ ﻟﻚَ: ﻻ، ﻻ ﻳﻠﺰﻡ
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻧﻌﻢ -ﺷﻴﺦ -.
Penanya : Tidak harus demikian?
Syaikh : Tidak, tidak harus, karena orang yang merekomendasi, ia
merekomendasi berdasarkan keyakinannya, jika ia benar maka ia
mendapatkan dua pahala, dan jika ia salah maka ia mendapatkan satu
pahala.
Penanya : Iya, akan tetapi apakah kita tidak wajib menjarh orang yang
merekomendasi?
Syaikh : Aku telah katakan kepadamu, tidak wajib
Penanya : Iya syaikh.
ﻃﻴﺐ؛ ﻧﺤﻦ -ﺍﻵﻥ - ﺷﻴﺨﻨﺎ- ﻧﻤﺮ ﺑﻤﺮﺣﻠﺔ : ﺃﻥ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ - ﺍﻵﻥ- ﺍﻹﺧﻮﺓ ﺃﺻﺒﺤﻮﺍ
ﻳُﻄﻠﻘﻮﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺃﻧَّﻨﺎ ﻣﺒﺘﺪِﻋﺔ ﻭﺃﻧَّﻨﺎ ﺿُﻠَّﺎﻝ؛ ﻷﻧﻨﺎ ﻟﻢ ﻧُﺒﺪِّﻉ ﻣَﻦ ﺃﺭﺍﺩﻭﺍ ﺃﻥ ﻳُﺒﺪِّﻋﻮﻩ، ﺃﻭ ﻧﺠﺮِّﺡ
ﻣِﻦ ﺃﺭﺍﺩﻭﺍ ﺃﻥ ﻳُﺠﺮِّﺣﻮﻩ .
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺎ ﻗﻠﺘَﻪ ﺣﻘًﺎ : ﻓﻬﺆﻻﺀ ﺍﺗَّﺒﻌﻮﺍ ﺃﻫﻮﺍﺀﻫﻢ .
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ: ﺑﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻚ - ﻳﺎ ﺷﻴﺦ .-
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩﻳﺔ ﻣﺎ ﻳُﺠﺮَّﺡ ﺑﻬﺎ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﺧﺎﻟﻒ ﺍﻟﺴَّﻠﻒ .
Baik, ya syaikhunaa, sekarang kami sampai pada suatu tahapan dimana
banyak dari masjid-masjid, yang para ikhwahnya sekarang menyebut kami
sebagai mubtadi' dan sesat, karena kami tidak membid'ahkan orang yang
hendak mereka bid'ahkan, atau kami tidak menjarh orang yang mereka
hendak jarh.
Syaikh : Jika apa yang kau katakan benar, maka sesungguhnya mereka
telah mengikuti hawa nafsu mereka.
Penanya : Baarokallahu fiik ya syaikh.
Syaikh : Tidak boleh seseorang menjarh yang lain dalam permasalahan
ijtihadiah, kecuali jika ia menyelisihi para salaf.
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻧﻌﻢ . ﺍﻟﻘﻀﻴﺔ ﻫﻲ ﻣُﺘﻌﻠﻘﺔ ﻓﻲ ﻋَﻴﻦ ﺭﺟﻞ -ﺷﻴﺦ -، ﻭﻫﻮ -ﺃﺗﺼﻮِّﺭ ﺗﻌﺮﻓﻪ- ﺍﻟﺸﻴﺦ
ﻋﺪﻧﺎﻥ ﻋﺮﻋﻮﺭﺯ
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﻧﻌﻢ . ﺃﻧﺎ ﺃﻗﻮﻝ - ﺑﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻚ :- ﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺠﻌﻞ ﺃﺷﺨﺎﺻًﺎ
ﺭﻣﻮﺯًﺍ - ﻧﻮﺍﻟﻲ ﻣَﻦ ﻭﺍﻻﻫﻢ، ﻭﻧُﻌﺎﺩﻱ ﻣَﻦ ﻋﺎﺩﺍﻫﻢ- ؛ ﻷﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻳُﺨﻄﺊ ﻭﻳُﺼﻴﺐ .
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻧﻌﻢ . ﺷﻴﺦ؛ ﻧﺤﻦ ﻟﺪﻳﻨﺎ - ﻫﻨﺎ- ﺩﻭﺭﺍﺕ - ﺃﺣﻴﺎﻧًﺎ- ﻋﻠﻤﻴَّﺔ، ﻭﻧﺪﻋﻮ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻣﺜﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ
ﻋﺪﻧﺎﻥ، ﻓﻬﻞ ﺗﻨﺼﺤﻨﺎ ﺑﺪﻋﻮﺓِ ﺍﻟﺸَّﻴﺦ ﻋﺪﻧﺎﻥ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﻣَﻦ ﻗﺎﻝ ﻟﻚَ ﺇﻧِّﻲ ﺃﺟﺮِّﺡ ﻋﺪﻧﺎﻥ؟
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﺃﻧﺎ ﻣﺎ ﻗﻠﺖُ ﺃﻧﻚ ﺗﺠﺮِّﺡ ..
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﻫﺬﺍ ﻏﻠﻂ ﻣﻨﻚ ! ﻫﻞ ﺃﻧﺎ ﺃﻗﻮﻝ ﻟﻠﻨﺎﺱ : ﻻ ﺗﺪﻋﻮﻥ ﻓﻼﻥ ﻭﻻ ﺗﺪﻋﻮﻥ
ﻓﻼﻥ؟،
!! ﺍﻗْﺒَﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﻟﻮ ﻣِﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ . ﺗﻌﺮﻑ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﻻ ﻣﺎ ﺗﻌﺮﻑ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ؟ !!
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ: ﻧﻌﻢ - ﺷﻴﺦ - ﻧﻌﻢ، ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ .
ﺷﻴﺦ؛ ﺃﻧﺎ ﺃﺳﺄﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ؛ ﻷﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻹﺧﻮﺓ -ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻃﻖ ﺃﺧﺮﻯ- ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺃﻧﻜﻢ
ﺗُﺠﺮِّﺣﻮﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞَ، ﻭﻻ ﺗﻨﺼﺤﻮﻥ ﺑﺎﺳﺘﺪﻋﺎﺋﻪ ﻭﺍﺳﺘﻘﺪﺍﻣِﻪ ﻹﻟﻘﺎﺀ ﻣﺤﺎﺿﺮﺍﺕ ﻭﺩﺭﻭﺱ؛ ﻫﻞ
ﻫﺬﺍ ﺻﺤﻴﺢ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﻫﺬﺍ ﻛﺬﺏ ﻋﻠﻴﻨﺎ، ﻭﻣﺎ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﺎ ﻳُﻜﺬﺏ ﻋﻠﻴﻨﺎ !!
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ: ﺑﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻚ - ﻳﺎ ﺷﻴﺦ - ﻭﻫﺬﺍ ﻇﻨﻨﺎ ﺑﻜﻢ .
Penanya : Iya syaikh, permasalahannya berkaitan dengan individu, saya
rasa engkau mengenalnya, beliau Syaikh 'Adnan 'Ar'ur.
Syaikh : Iya (saya mengenalnya), saya katakan -baarokallahu fiik- : Tidak
halal bagi kita, menjadikan sebagian orang sebagai simbol dalam berwala
(loyal), yaitu loyal kepada orang yang loyal kepadanya, dan memusuhi
orang yang memusuhinya, karena seseorang bisa benar dan bisa salah.
Penanya : Iya ya syaikh, kami kadang menyelenggarakan dauroh-dauroh
ilmiyah dan kami mengundang dai seperti Syaikh Adnan, maka apakah
anda menasehati kami untuk mengundang Syaikh Adnan??
Syaikh : Siapa yang menyampaikan kepadamu bahwa saya menjarh
'Adnan?
Penanya : Saya tidak berkata bahwa engkau menjarhnya…
Syaikh : Ini adalah kesalahan, apakah aku mengatakan kepada masyarakat
"Janganlah kalian mengundang si fulan dan sifulan?", terimalah kebenaran
meskipun dari syaitan. Apakah engkau tahu syaitan atau tidak?
Penanya : Iya, iya syaikh, hadits Abu Huroiroh. Syaikh, saya bertanya
tentang pertanyaan ini karena sebagian ikhwah di daerah-daerah yang lain
mengatakan bahwa Anda menjarh Syaikh Adnan, dan engkau tidak
menasehatkan untuk mengundang dan mendatangkannya untuk
menyampaikan pengajian-pengajian. Apakah ini benar?
Syaikh : Ini adalah dusta, dan betapa banyak kedustaan yang disandarkan
atas nama kami.
Penanya : Baarokallahu fiik, itulah anggapan kami terhadap Anda
ﻭﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ -ﺷﻴﺦ -؛ ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﺘﺤﺎﻛُﻢ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺭﺑﻴﻊ ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺪﻧﺎﻥ؛ ﻟﻤﺎﺫﺍ -
ﻳﺎ ﺷﻴﺦ- ﻣﺎ ﺗﺤﻜﻤﻮﺍ ﺃﻧﺘﻢ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ، ﻭﻧﺮﺗﺎﺡ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﺍﻟﻌﻈﻴﻤﺔ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﻧﺤﻦ - ﺍﻵﻥ- ﻧﺴﻌﻰ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ، ﻭﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﻬِّﻞ .
ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ : ﻃﻴﺐ، ﻭﻫﻞ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﻳَﻘﺒﻠﻮﻥ ..
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ -ﻣﻘﺎﻃﻌًﺎ :- ﺩﻋﻮﻧﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ، ﻭﺃﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻴﺴﺮ .
Pertanyaan ketiga wahai syaikh, tentang permasalahan tahaakum
(pengadilan) antara Syaikh Robii' dan Syaikh Adnan. Ya Syaikh, kenapa
kalian tidak menghukumi dalam permasalahan ini, sehingga kami bisa
bebas dari fitnah yang besar ini.
Syaikh : Kami sekarang sedang berusaha untuk ini, dan kami berdoa
semoga Allah memudahkannya.
Penanya : Baik, apakah para masyayikh mau menerima?
Syaikh : Biarkanlah kami dengan usaha kami ini, aku mohon kepada Allah
semoga Dia memudahkannya"
Silahkan dengar file suaranya di
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or
above) is required to play this audio clip.
Download the latest version here . You also need
to have JavaScript enabled in your browser.
Powered by RapidPlugins
KETUJUH : Coba renungkanlah kembali kondisi antum sekarang ini…sudah
menjadi berapakah kelompok antum sekarang ini…??, antum selalu
berpecah belah…sahabat menjadi lawan.., guru menjadi musuh…, murid
berbalik menyerang…??. Ini adalah hasil dari sikap antum yang ekstrim
dalam mentabdi'.
Seorang syaikh yang dahulunya sering ke Indonesia menasehati kalian…
bahkan mendamaikan kalian…sekarang harus menjadi mubtadi' di mata
sebagian kalian??. Apakah ini ciri ahlus sunnah wal jamaa'ah??
Sehingga akhirnya antum menjadi bahan tertawaan ahlul bid'ah yang
mengatakan bahwa ciri alhul bid'ah (khususnya khawarij) adalah
senantiasa berpecah belah.
Padahal antum sama-sama sepakat tidak mengambil dana dari yayasan
Ihyaa At-Turoots, bahkan antum sepakat membid'ahkan yayasan…, bahkan
membid'ahkan orang yang diam dan tidak mentahdziir…!. Lantas kenapa
antum masih terus berselisih dan saling membid'ahkan…
Demi Allah… apa sih permasalahan-permasalahan yang menyebabkan
antum saling membid'ahkan??, apakah permasalahan aqidah?, ataukah
permasalahan sepele yang dibesar-besarkan??
Adapun kami, meskipun ada sedikit perselisihan akan tetapi tidak sampai
pada tahapan membid'ahkan…, siapa sih yang tidak lepas dari kesalahan??
KEDELAPAN : Orang-orang yang antum tuduh sebagai sururi (Radiorodja,
pondok Imam Al-Bukhari, Pondok Jamilurrahman, dll) apakah mereka
pernah terjerumus dalam kesalahan-kesalahan sururiyah….setelah sekitar
15 tahun antum mentahdzir dan membid'ahkan…coba sebutkan kepada
saya apa saja kesalahan-kesalahan mereka yang merupakan ciri-ciri
sururiyah??
Bukankah justru antum yang pernah terjerumus dalam kesalahan-kesalahan
sururiyah??, yang anehnya tatkala sementara antum terjerumus dalam
kesalahan-kesalahan sururiyah antum masih sempat-sempatnya menuduh
kami sururi??, bukankah ini yang disebut dalam pepatah "maling teriak
maling.."??
Berikut pengakuan al-Ustadz Al-Fadhil Muhammad As-Sewed hafizohulloh
tentang kesalahan-kesalahan kalian…
Beliau –hafizohulloh- berkata :
"Saat kami menjalani jihad di Ambon (Maluku) dan Poso (Sulteng), karena
dalam jihad tersebut kami banyak terjatuh pada penyimpangan-
penyimpangan lain yang tidak sejalan dengan Manhaj Salaf.
Tanpa terasa kami terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan yang
bermuara pada satu titik yaitu politik massa atau penggunaan potensi
massa dalam perjuangan. Sungguh kesesatan seperti inilah yang terjadi
pada Ahlul bid’ah dan hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin,
Quthbiyyin (pengikut Sayyid Quthb) dan Sururiyyin (pengikut Muhammad
Surur) dan lain-lain. Dengan penyimpangan yang kami jalani saat itu,
muncullah tindakan-tindakan persis seperti yang dilakukan Ikhwanul
Muslimin, diantaranya :
1. Sistem komando yang meluas menjadi organisasi yang digerakkan
dengan sistim imarah dan bai’at.
2. Lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas dalam organisasi
3. Demonstrasi, unjuk rasa dan yang sejenisnya menjadi hal yang biasa
4. Mencari dukungan politis dari berbagai kelompok dengan tidak
memperhatikan apakah mereka Ahlus Sunnah, orang awam atau Ahlul
Bid’ah
5. Dari sinilah timbul ide untuk mengadakan Musyawarah Kerja Nasional.
(Mukernas) dengan mengundang tokoh-tokoh politik dan Ahlul Bid’ah
6. Mulai menggampangkan dusta dengan dalih bahwa perang adalah tipu
daya
7. Bermudah-mudahan dalam maksiat seperti fotografi dan ikhtilath
karena mengimbangi orang awam
8. Mengingkari kemungkaran dengan menggunakan gerakan massa dan
kekerasan dan seterusnya…"
Demikian cuplikan perkataan Ustadz Muhammad As-Sewed hafizohulloh,
sebagaimana bisa dilihat di ( http://www.salafy.or.id/ruju/ )
KESEMBILAN : Antum tentu paham bahwasanya bid'ah bertingkat-tingkat,
tidaklah sama antara bid'ah dalam permasalahan mu'amalah dengan bid'ah
yang berkaitan dengan aqidah. Tidak sama antara bid'ah yang tidak sampai
pada kekufuran dengan bid'ah yang sampai pada kekufuran.
Demikian pula mensikapi para pelakunya juga tentu ada perbedaan. Yang
jadi masalah, antum mengambil perkataan-perkataan salaf tentang
kerasnya mereka terhadap ahlul bid'ah jahmiyah (yang merupakan bid'ah
kekufuran) lantas antum terapkan pada orang-orang yang sama sekali tidak
melakukan bid'ah… akan tetapi hanya tidak ikut-ikutan gaya antum yang
tukang mentahdzir???
KESEPULUH : Apakah antum tidak bermu'amalah sama sekali dengan ahlul
bid'ah??? Ataukah antum menimbang dengan dua timbangan…?, kalau
antum yang bermu'amalah maka tidak mengapa??
(1) Apakah antum hanya mengisi pengajian di masjid-masjid salafy saja?.
Ternyata banyak kajian antum yang dilaksanakan di masjid-masjid umum?.
Bukankah takmir-takmir masjid tersebut tidak semuanya salafy?, lantas
kenapa antum masih mau kerjasama untuk meminta izin kepada mereka??.
Bukankah ahlul bid'ah juga ikut mengisi di masjid-masjid tersebut??
(2) Tentunya antum tahu, bahwasanya para salaf tatkala menyuruh untuk
menghajr mubtadi', adalah dengan menghajrnya secara total, bahkan dalam
urusan dunia pun tidak boleh bermu'amalah. Lantas apakah antum sama
sekali tidak pernah bermu'amalah dengan ahlul bid'ah??
Apakah antum tatkala belanja di pasar hanya membeli ke toko-toko salafy?,
apakah antum tatkala umroh dan haji hanya naik pesawat salafy?
KESEBELAS : Mengingatkan kembali nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzan
hafizohulloh agar kita bersatu dan bekerjasama, dan hendaknya adanya
kekurangan diantara kita tidak menghalangi kita untuk saling bersaudara,
tentu nasehat tetap berjalan diantara kita.
Sementara musuh-musuh kita bersatu….
Kita sekarang bisa melihat di tanah air kita…betapa giatnya dakwah syi'ah…
betapa semarak dan berkembangnya dakwal liberal…kaum sufi pun tidak
patah semangat untuk terus memfitnah dakwah salafiyah…
Sementara kita …sibuk…sibuk mencari kesalahan saudara-saudara sesama
ahlus sunnah, sibuk mentahdzir…
Jikalau seandainya setiap kita memfokuskan energi dan memeras otaknya
untuk membantah aliran-aliran sesat yang ada di tanah air maka sungguh
akan banyak mendatangkan keberkahan dan perbaikan. Sungguh telah
banyak waktu, energi, dan pikiran yang terkuras hanya karena untuk
mencari-cari kesalahan saudara sendiri sesama Ahlus Sunnah wal
Jamaa'ah.
Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbaad hafizohulloh berkata :
ﻭﺇﻥ ﻣﻤﺎ ﻳﺆﺳﻒ ﻟﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻣﺎ ﺣﺼﻞ ﻣﻦ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﻭﺣﺸﺔ
ﻭﺍﺧﺘﻼﻑ، ﻣﻤﺎ ﺗﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻧﺸﻐﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺒﻌﺾ ﺗﺠﺮﻳﺤﺎً ﻭﺗﺤﺬﻳﺮﺍً ﻭﻫﺠﺮﺍً، ﻭﻛﺎﻥ
ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺟﻬﻮﺩﻫﻢ ﺟﻤﻴﻌﺎً ﻣﻮﺟﻬﺔ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﻨﺎﻭﺋﻴﻦ
ﻷﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﻣﺘﺂﻟﻔﻴﻦ ﻣﺘﺮﺍﺣﻤﻴﻦ، ﻳﺬﻛﺮ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﻌﻀﺎً ﺑﺮﻓﻖ
ﻭﻟﻴﻦ
"Sesungguhnya diantara perkara yang menyedihkan di zaman ini adalah
pertikaian dan kerenggangan yang terjadi diantara ahlus sunnah. Hal ini
menyebabkan sibuk saling mentahdzir, menghajr, dan saling menjatuhkan
diantara mereka. Padahal yang wajib adalah memfokuskan energi dan kerja
keras mereka seluruhnya untuk menghadapi selain mereka, dari kalangan
orang-orang kafir dan para ahlul bid'ah yang memusuhi ahlus sunnah. Dan
hendaknya mereka (ahlus sunnah) saling bersatu diantara mereka, saling
merahmati diantara mereka, saling mengingatkan diantara mereka dengan
lembut dan ramah" (lihat muqoddimah kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis
Sunnah)
Syaikh Soleh Al-Fauzaan hafizohullah berkata :
ﺃﻧﺎ ﺃﻗﻮﻝ ﺍﺗﺮﻛﻮﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﺗﺮﻛﻮﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﻓﻼﻥ ﺣﺰﺑﻲ ... ﻓﻼﻥ
ﻛﺬﺍ ... ﺍﺗﺮﻛﻮﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﺑﺬﻟﻮﺍ ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ ﻭﺍﺩﻋﻮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ ،
ﻭﺇﻟﻰ ﺗﻠﻘﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻋﻦ ﺃﻫﻠﻪ ، ﻭﺇﻟﻰ ﺍﻟﺪﺭﺍﺳﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ، ﺇﻣﺎ ﺩﺭﺍﺳﺔ ﺩﻳﻨﻴﺔ ﻭﻫﺬﻩ ﺃﺣﺴﻦ ،
ﺃﻭ ﺩﺭﺍﺳﺔ ﺩﻧﻴﻮﻳﺔ ﺗﻨﻔﻊ ﻧﻔﺴﻚ ﻭﺗﻨﻔﻊ ﻣﺠﻤﺘﻌﻚ ، ﺃﻣﺎ ﺍﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﺎﻟﻘﻴﻞ ﻭﺍﻟﻘﺎﻝ ، ﻓﻼﻥ
ﻣﺨﻄﻰﺀ ، ﻭﻓﻼﻥ ﻣﺼﻴﺐ ، ﻭﻓﻼﻥ ﻛﺬﺍ ... ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﺸﺮ ﺍﻟﺸﺮ ، ﻭﻳﻔﺮﻕ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ ،
ﻭﻳﺴﺒﺐ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ... ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖَ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪٍ ﺧﻄﺄ ..ﺗﻨﺎﺻﺤﻪ ﺑﻴﻨﻚ ﻭﺑﻴﻨﻪ ﻣﺐ ﺗﺠﻠﺲ ﻓﻲ
ﻣﺠﻠﺲ ، ﺗﻘﻮﻝ ﻓﻼﻥ ﺳﻮﻯ ﻛﺬﺍ ﻭﻓﻼﻥ ﺳﻮﻯ ﻛﺬﺍ ...ﺗﻨﺎﺻﺤﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻨﻚ ﻭﺑﻴﻨﻪ .. ﻫﺬﻩ
ﺍﻟﻨﺼﺤﻴﺔ ﺃﻣﺎ ﻛﻼﻣﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﻋﻦ ﻓﻼﻥ ﻫﺬﻩ ﻟﻴﺴﺖ ﻧﺼﻴﺤﺔ ﻫﺬﻩ ﻓﻀﻴﺤﺔ .. ﻫﺬﻩ
ﻏﻴﺒﺔ .. ﻫﺬﻩ ﺷﺮ . ﻧﻌﻢ
"Aku katakan tinggalkan penghujatan kepada manusia, si fulan hizbi.., si
fulan demikian dan demikian…, tinggalkanlah penghujatan kepada manusia,
berikanlah nasehat, ajak masyarakat kepada persatuan dan menimba ilmu
dari ahlinya, kepada belajar yang benar. Apakah belajar agama –dan ini
yang terbaik- atau belajar ilmu dunia, memberi manfaat bagi dirimu dan
bagi masyarakatmu. Adapun sibuk dengan qiila wa qoola (katanya..dan
katanya…), si fulan salah, si fulan benar, si fulan demikian…inilah yang
menebarkan keburukan dan memecahkan persatuan, dan menyebabkan
fitnah. Jika engkau melihat ada seseorang yang salah maka nasehatilah dia
antara engkau dan dia, bukan engkau duduk di majelis lalu engkau berkata,
"Si fulan telah melakukan demikian…, si fulan telah melakukan demikian..",
engkau menasehatinya antara engkau dan dia. Ini adalah nasehat, adapun
engkau membicarakannya di majelis tentang si fulan maka ini bukanlah
nasehat, ini adalah pencemaran.., ini adalah gibah, ini adalah keburukan"
silahkan dengar file suaranya di
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or
above) is required to play this audio clip.
Download the latest version here . You also need
to have JavaScript enabled in your browser.
Powered by RapidPlugins
KEDUA BELAS : Kita sangat mengkhawatirkan sebagian orang yang ikut-
ikutan mentahdzir karena "takut" ditahdzir jika tidak mentahdzir. Atau takut
menyapa saudara seberangnya karena "takut ketahuan" dan akhirnya
ditahdzir juga.
Jangan sampai kita hanya ikut-ikut mentahdzir dan mentabdi' tanpa ada
keyakinan dan kepastian, akan tetapi karena takut dan mencari keridoan
sahabat-sahabat kita yang tukang tahdzir dan tukang tabdi'. Atau seseorang
ikut-ikutan mentahdzir dan bersikpa keras hanya karena takut ditabdi' dan
ditahdzir oleh gurunya jika tidak bersikap keras. Ketahuilah ini semua
adalah bentuk beramal karena manusia dan bukan beramal karena Allah.
Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan …!!!!
Sungguh kita sangat gembira tatkala mengetahui banyak saudara-saudara
kita yang meskipun mengajinya di seberang akan tetapi ternyata juga hobi
mendengarkan Radio rodja atau menonton Rodja TV. Mudah-mudahan ini
merupakan langkah awal menuju persatuan di kemudian hari.
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 09-04-1434 H / 19 Februari 2013

www.firanda.com




Dipublikasikan oleh: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di al-amiry.blogspot.com dengan menyertakan al-amiry.blogspot.com sebagai sumber artikel

Poskan Komentar

 
Top