0

Banyak para pemuda Islam saat ini yang secara tidak sadar tertimpa  penyakit  kebodohan terhadap agama Islam yang mulia ini. Salah satu dampak yang di timbulkan oleh kebodohan ini adalah munculnya penyakit
syahwat dan syubhat pada pemuda Islam.  Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam telah mengkhawatirkan fitnah kesesatan syahwat dan syubhat terhadap umatnya, sebagaimana yang telah disabdakan beliau yang artinya “Sesungguhnya diantara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti hawa nafsu pada perut kamu dan kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.” (Shohih, HR. Ahmad)



Sebab munculnya syahwat adalah cinta terhadap dunia dan tidak tahu bahwasanya akhirat lebih mulia dari pada dunia ini. Sebagaimana yang digambarkan oleh Rosululloh shollallohualihi wasallam di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh rodiyallohuanhu, yang artinya, “Dua perkara yang senantiasa membuat hati seorang tua awet muda, cinta dunia dan panjang angan-angan.”


Nasehat Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin -rohimahulloh-
Orang yang tidak tidak mengenal kemuliaan akhirat dan malas beribadah akan menganggap dunia sebagai negeri yang senantiasa ia tempati. Ia selalu merasa kurang terhadap apa yang dimilikinya, tanpa pernah merasa cukup mengejar dunia hingga segala keinginannya terpenuhi. Padahal semua itu tidak akan memberi kepuasan bagi mereka, bahkan mampu membawa kesengsaraan. Seharusnya dia menyadari bahwa sebentar lagi kematian akan menghampirinya. Adapun orang yang mendapat taufik, dia menyadari bahwa dunia dan segala keindahannya itu hanyalah tipuan belaka, sehingga dia tidak terperdaya bahkan sebaliknya akan bergegas menuju ampunan Alloh serta surga yang seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya (Majaalis Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin).

Fitnah Syahwat Yang Terbesar
Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam telah memperingatkan bahaya fitnah wanita ini kepada umatnya dan ini merupakan bukti bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam telah menyampaikan risalah dari Alloh subhanahuwata’ala yaitu dengan menjelaskan segala sesuatu yang bermanfaat dan mendatangkan kebaikan bagi umatnya, sehingga tidak ada satu kebaikan pun yang tidak disampaikan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam kepada umatnya, dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan menimpa umat ini kecuali telah diperingatkan oleh beliau agar kita menjauhinya. Salah satu fitnah syahwat yang membahayakan adalah fitnah wanita yang merupakan fitnah pertama dan terbesar bagi kaum muslimin khususnya bagi para pemuda islam. Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam memperingatkan dari bahaya fitnah wanita, sebagaimana sabda beliau yang artinya, “Tidakkah aku meninggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhori dan Muslim)


Dampak Mengikuti Seruan Syahwat
Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rohimahulloh memberikan penjelasan untuk kita semua tentang akibat mengikuti seruan syahwat. Beliau berkata bahwa terus menerus melakukan maksiat akan mengakibatkan kerasnya hati, jauh dari Alloh subhanahuwata’ala, dan lemahnya iman. Sebab, iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Terus menerus melakukan maksiat juga akan mengakibatkan maksiat tersebut menjadi suatu kebiasaan sekaligus tempat bergantung bagi pelakunya. Sungguh, jika jiwa itu terbiasa dengan suatu hal maka ia akan sulit untuk berpisah dengannya. Jika ini telah terjadi, pelaku maksiat akan sulit melepaskan diri dari maksiatnya, dan syaithan akan membukakan untuknya pintu-pintu kemaksiatan lainnya yang lebih besar dan lebih dahsyat dari sebelumnya. Oleh sebab itu, ahli ilmu dan ahli akhlak berkata: “Sesungguhnya kemaksiatan adalah pengantar kekafiran, dimana seseorang akan berpindah-pindah dari satu maksiat kepada maksiat lainnya, setahap demi setahap sampai ia berpaling dari agamanya.” Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan taufik dan keselamatan kepada kita semua (Majaalis syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin).

Penyebar Syubhat Pada Kaum Muslimin
Kaum munafiqin merupakan penyebar syubhat terbesar bagi kaum muslimin. Kaum muslimin terus menerus merasakan kepedihan dan musibah akibat dari perbuatan mereka. Kaum munafiqin terus menerus melemparkan syubhat-syubhat ke tubuh kaum muslimin sedikit demi sedikit sehingga tidaklah heran jika pada masa sekarang banyak pemikiran-pemikiran yang menyesatkan dan menggelincirkan kaum muslimin. Mereka berpaling dari al Qur’an dan as Sunnah dan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan keduanya. Alloh subhanahuwata’ala berfirman, yang artinya “Alloh akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (Al Baqoroh: 15)
Diantara ciri kaum munafiq ialah tidak mau beriman sebagaimana keimanan para sahabat dan mencela salafush sholeh bahkan mereka mengatakan “Akankah kami beriman sebagaimana keimanan orang-orang yang bodoh itu?” Orang-orang munafiq ini menuduh para sahabat sebagai orang-orang yang bodoh. Namun Alloh Ta’ala membuka kedok mereka bahwa sebenarnya merekalah orang-orang yang bodoh, Alloh berfirman, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh, akan tetapi mereka tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 13 ). Mereka mencela cara para sahabat dalam beragama, mereka menganggap para sahabat itu tidak berilmu padahal mereka itulah yang tidak berilmu.

Cara Menghadapi Fitnah Syahwat dan Syubhat
Fitnah syubhat dapat dihadapi dengan ilmu. Sebagaimana perkataan Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh: “Seseorang yang kokoh dalam ilmu jika datang syubhat-syubhat kepadanya sebanyak ombak lautan tidak akan menggoyahkan keyakinannya, dan sama sekali tidak menimbulkan keraguan sedikitpun pada hatinya. Karena jika seseorang telah kokoh dalam ilmu maka tidak akan digoyahkan oleh syubhat, bahkan jika datang syubhat kapadanya akan ditolak oleh penjaga ilmu dan pasukannya sehingga syubhat tersebut akan kalah dan terbelenggu.” (Miftah Daris Sa’adah).
Sedangkan fitnah syahwat dapat diredam dengan takwa, oleh karena itu Alloh subhanahuwata’ala berfirman yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Alloh adalah ulama’.” Para ulama’ dengan bekal ilmu yang mereka warisi dari para Nabi dapat mencapai tingkat takwa yang paling tinggi yaitu khosyatulloh (takut kepada Alloh). Oleh karena itu, kita meminta kepada Alloh subhanahuwata’ala agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan amal yang sholih, agar diberikan rasa takut yang rasa takut tersebut dapat menghalangi kita dari berbuat maksiat kepadanya.






Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di al-amiry.blogspot.com dengan menyertakan al-amiry.blogspot.com sebagai sumber artikel

Poskan Komentar

 
Top